Suasana sore dibandung memang tidak ada duanya. Ditambah dengan hujan rintik-rintik semakin membuat suasana bandung semakin indah apalagi sambil menikmati mie rebus cabe rawit plus telur sungguh kenikmatan yang tiada tara.
Lunar membawa sekantong belanjaan berisi mie,telur,dan teh. Gadis itu baru saja membelinya di depan toko dekat jalan sepi sebrang jalan menuju rumahnya.
"Neng hati-hati nya,disini kadang suka ada begal."
"Ah si amang jangan nyingsieunan atuh..."
"Bener neng, hati-hati we nya soalnya udah malem mana gerimis."
"Ya nuhun mang."
"Ya neng hati-hati!"
Baru saja Lunar berjalan tiga langkah tiba-tiba ia mendengar suara hantaman yang sangat keras dan ternyata itu adalah suara kecelakaan. Seorang laki-laki terpental cukup jauh hingga menabrak pohon dan satu mobil yang oleng yang menabrak mobil lain di depannya tapi untungnya mobil itu bisa mengelak dan kecelakaan beruntun pun tidak terjadi.
"Mang tolongin itu ada yang kecelakaan!" teriak Lunar.
Tidak ada yang mendengar Lunar mereka hanya diam.
Lunar mencoba lari memberanikan diri mendekati laki-laki itu dan jongkok di sisinya.
"Aa gak papa?"
"Aa bisa dengar saya?"
Laki-laki tertutup helm full face itu tidak menjawab.
"Apa udah meninggal nya?" Lunar menyentuh bagian lehernya dan syukurlah denyut nadi nya masih ada.
Gadis itu menelpon ambulans lalu setelah beberapa menit ambulans datang bersama polisi. Karena Lunar lah yang berada di tkp saat itu jadi gadis itu dimintai keterangan oleh polisi sebagai saksi bahkan Lunar ikut mengantar ke dalam ambulans.
Satu hal memalukan pun terjadi.
"Maaf, boleh saya cek kantong kreseknya?"
"Boleh pak."
"Eh-pak!"
"Perlengkapan wanita." Lapor polisi itu pada bapak-bapak di sampingnya.
Lunar lupa jika ia juga membeli pembalut dan sudah pasti mie nya itu tidak terlihat karena pembalut yang ia beli itu dalam bentuk rencengan.
Tuhan, Lunar malu...
"Gimana kondisi teman saya pak?" Lunar yang duduk anteng tiba-tiba melihat seorang pria jangkung memakai jaket denim menanyakan kabar pria tadi.
"Sedang ditangani dokter." Pria itu kelihatannya pintar dilihat dari cara berbicara dan bagaimana dia menanyakan keadaan temannya itu sangat detail dan wah Lunar dibuat kagum olehnya.
Tipe Lunar sekali~
Polisi sudah pamit begitu juga Lunar ia sudah berdiri hendak berjalan tapi tiba-tiba tubuh jangkung berdiri di depannya.
"Misi a,Lunar mau pulang takut dicariin appa."
"Saya mau bicara sebentar bisa?"
Bisa sih,tapi ini udah jam 8 Lunar masih memiliki jam malam yang mana sangat ditaati karena Appa nya itu sangat tegas.
"Besok bisa gak a? Saya mau pulang soalnya saya masih punya jam malam. Takut di coret di Kk soalnya saya belum siap bikin KK sendiri."
"Mana nomer orangtua mu?"
"Eh?"
Geloo, telat pulang aja udah ada ancaman ditampar bolak-balik apalagi kalau tau keluar rumah malem-malem bareng cowok bisa mati Lunar.
"Alamat kamu dimana?Nama orang tua kamu siapa?"
Lunar bukan anak kecil yang mudah percaya tapi kenapa cowok ini sangat terlihat meyakinkan tidak terlihat seperti penjahat atau penipu.
Bismillah semoga benar orangbaik Ya Allah...
Lunar memberikan alamatnya dan nama orangtuanya pada laki-laki itu.
"Tolong beritahu orang tuanya saya ijin membawa anaknya untuk meminta keterangan."
Keterangan apalagi sih?kan tadi udah!
Gadis itu diminta mengikuti laki-laki dan Lunar hanya bisa pasrah mengikuti. Lunar masuk ke dalam mobil dan di ajak ke dalam rumah yang tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit.
"Mau makan apa?"
"Umm,kebetulan saya bawa mie sendiri boleh gak numpang masak?"
Memalukan memang tapi Mie itu sudah di bayangkan sejak 1 jam yang lalu.
"Kasih ke mbak nanti mbak yang masak." Lunar mengangguk.
Lunar duduk di sofa yang besar sampai tungkai kaki nya tidak menginjak lantai. Bukan apa-apa tapi karena Lunar yang pendek.
"Kamu pacar Orion?"
"Siapa?"
"Orion?"
"Aku?pacarnya orion?aku aja gak tau orion itu siapa."
"Orion itu laki-laki tadi yang kamu tolong."
"Oh bukan,pacar saya namanya Jay."
Semoga saja laki-laki tidak mengenal k-pop kalau tahu mungkin Lunar ada ditertawai sangat kencang tapi dilihat dari responnya sepertinya laki-laki itu tidak tahu.
Hening beberapa saat Lunar melihat sekeliling dan menemukan foto seorang gadis yang di peluk oleh laki-laki disebelahnya ini.
Cantik juga pacarnya...
Iya lunar ngaku agak nyes dikit tapi gapapa masih ada Jay.
"Perkenalkan saya Mars. Salah satu kerabat Orion sekaligus temannya."
"Lunar," mereksa saling menjabat tangan.
Mie yang sudah Lunar bayangkan sejak lalu pun akhirnya datang mengeluarkan aroma yang sangat enak membuat suara perut Lunar berbunyi.
"M-maaf."
Mars hanya diam tidak menimpali apa-apa.
"Aku ceritain nya sambil makan gak papa?" tanya Lunar.
Mars mengangguk.
Lunar menceritakan semuanya baik sebelum kecelakaan maupun sesudah. Di lihat-lihat Mars ini tampak seperti spy yang sedang meneliti sesuatu padahal polisi sudah menjelaskan tapi Mars belum merasa puas atas laporan dari polisi dan dokter.
Setelah selesai Lunar pulang bersama orang suruhan Mars setelah Mars mendapat telepon dari seorang perempuan yang bermama Ven.
Nasib Lunar kenapa slalu gagal dalam percintaan? Baru saja naksir orang eh udah ada pawangnya.
Dengan wajah tertekuk Lunar masuk ke dalam rumahnya.
Baru saja mau mengucap salam tiba-tiba adik kecil bungsunya memeluk kakinya.
"Langsung mandi pake air anget," ucap mama yang ada di dapur.
"Iyaa."
Sebelum ia masuk ke kamar mandi Lunar membawa handuknya matanya tidak sengaja melihat amplop coklat di atas kasur.
"Uang?" Lunar membuka mulutnya tidak percaya.
"Mama juga di bagi tadi." Lunar semakin terkejut mendengar fakta dari adik pertamanya.
Sebenarnya siapa Orion dan Mars itu? Kenapa mereka tampak mencurigakan?
Jangan-jangan bandar narkoba?
Pelaku jual organ?
Lunar buru-buru mengambil handuk tidak mau berpikir yang aneh-aneh setelah mandi tidur dan jangan lagi terlibat dengan dua orang itu.
YOU ARE READING
LUNAR
Teen FictionOrion adalah sosok pria yang ditakuti di daerah bandung karena ia memimpin sebuah geng motor yang baru-baru ini menjadi topik hangat di bandung. Masyarakat sangat ramai menghujat mereka salah satunya orion laki-laki ini bahkan menjadi korban tabrak...
