Senja yang Hilang

13 0 0
                                        

Pada akhirnya, bulan akan selalu terbit di malam hari dan ia tak akan pernah mampu menjumpai mentari. Tapi apakah mereka bersedih?

Sesuatu yang sulit akan menjadi mudah dan berhasil jika bersungguh-sungguh? Katanya seperti itu. Tapi, ternyata semesta menyangkal pepatah itu dalam kehidupanku. Kita adalah bulan dan mentari yang tak pernah mampu bertemu. Kita tak akan menjadi satu dan saling bergandengan seperti bintang. Kita tak akan mampu menciptakan rasi bintang yang membentuk takdir. Tapi dengan bertemu saja sudah membuatku bahagia setengah mati, maka aku rela meninggalkanmu. Bulan, kini aku menyerah.

"Aku bisa menuruti permintaanmu, apapun untukmu."

Senja tak menyahut, ia memilih menatap langit malam bertaburan bintang malam itu. Sementara Awan terus dibuat cemas karena Senja kesayangannya itu sedang merajuk sebab ia akan pergi sebentar. Iya sebentar, sekitar enam bulan atau satu semester. Awan menggenggam tangan Senja, memberi kehangatan pada telapak tangan gadisnya.

"Apa perlu aku batalkan? Apapun untukmu Senja,"

"Wan, kalau aku pergi bagaimana?"

Awan kini diam. Mulutnya kelu, ia tak mampu membalas pertanyaan gadisnya. Karena ia juga tak pernah meminta Senja untuk terus tinggal, tapi ketika Senja menghilang entah apa ia masih bisa melanjutkan hidup?

Maka akan aku cari kamu sampai ke ujung dunia Nja, tak akan aku biarkan kau sendirian di dunia yang kejam ini. Batin Awan.

"Gimana?" Senja melepaskan genggamannya. Menyenggol lengan Awan karena lelaki itu malah melamun.

"Gak mungkin!"

"Tidak ada yang tidak mungkin, Awan."

Itu faktanya, tapi Awan tak akan pernah mau membenarkan fakta itu. Ia terlalu takut kehilangan Senja.

"Tapi---gimana kalau kamu yang meninggalkanku?"

Entah apa yang ada dipikiran Senja hingga keluar kalimat itu. Awan akan marah, ia tahu. Awan tak akan jatuh kepada hati yang lain, hatinya telah ia kunci rapat untuk Senja. Tak satupun mampu menemukan kuncinya selain Senja kesayangannya.

"Aku telah kehilangan akal jika itu terjadi, tampar aku Senja. Tampar aku ketika hal itu terjadi, karena sampai dunia ini runtuh Awan akan menjadi milik Senja."

"Kamu tahu Wan?"

Awan menggeleng seperti anak kecil.

"Aku gak suka cowok sok romantis, kalau dunia runtuh kita harusnya lari bukannya malah jatuh cinta."

"Iya ya, aku ini 'kan memang bodoh Senja. Makanya, kamu harus terus bersamaku agar aku tidak tersesat di dunia rumit ini."

Tapi jika dunia benar runtuh, kita tak akan bisa berlari Senja, itu sudah menjadi takdir seperti kita yang saling jatuh tapi pada sosok yang salah.

'''

Senjaku, maaf aku telah kehilangan akal. Tampar aku, pukul aku, kalau kau belum puas, buang aku ke samudera terluas di muka bumi. Awan telah mengingkari janjinya kepada Senja. Maaf Senja, Awan ingin senyuman kembali terukir di wajah Senja. Bagaimanapun caranya. Kumohon, terus tersenyum Senja.

Pukul lima sore, saatnya matahari mengakhiri tugasnya hari ini. Lalu bulan mulai mengambil alih tugasnya, menemani insan Tuhan dalam kegelapan malam. Awan berjalan menuju parkiran sambil membawa segelas kopi. Ia akan minum di mobil, ia tak suka berada di coffe shop atau kafe. Terlalu ramai, memuakkan.

Belum sempat kopi di tangan kanannya ia teguk, ponselnya berdering. Mama menelepon. Tanpa berpikir dua kali Awan meletakkan kopi dan mengangkat telepon Mama.

"Iya mah?"

"Awan pulang sekarang, tunggu sebentar!"

Tak hiraukan rasa kantuknya, Awan segera tancap gas pulang ke rumah Mama.

Sayangnya, takdir tak selalu mengiyakan permintaan kita. Maka sore itu, ketika senja sedang menampakkan keelokannya, Awan terluka. Tapi, tepat sekali takdir Tuhan mempertemukan keduanya, mentari dan bulan memang tak pernah berjumpa, tapi senja telah menggantikan peran mentari dan menyampaikan pesannya kepada bulan.

"Jangan banyak bergerak, kamu baru siuman."

Awan mulai mengamati sekelilingnya. Ia menyadari kehadiran sosok yang selama ini ia cari-cari. Ia menatap Awan dengan tatapan tenang, atau tak peduli. Entahlah.

"Senja,"

Awan menarik lengannya. Dokter itu menoleh, meminta Awan melepaskan tangannya, hanya dengan memberi tatap Awan langsung mengerti permintaan gadis kesayangannya itu. Tapi Awan tak melepaskan, ia tetap genggam tangan Senja. Ya, dokter yang merawat Awan ialah Senja. Gadis kesayangan Awan.

"Kamu hebat Senja, tidak sepertiku,"

"Biar aku panggilkan mamamu,"

"Aku butuh kamu, lima tahun Senja. Aku telah kehilangan cahayaku, aku melepaskannya begitu saja. Membiarkan senjaku direbut malam yang gelap, kubiarkan senja itu tenggelam sebelum menyampaikan pesannya."

"Kamu ini apa sebenarnya?"

"Ha?" Awan tak mengerti pertanyaan Senja barusan. Ia yang terlalu bodoh atau kalimat Senja yang memang tak pernah punya makna.

"Aku masih bodoh Senja, jangan biarkan aku sendirian di dunia yang rumit ini."

"Sebenarnya yang rumit bukan dunia Wan, tapi kamu." Senja meninggalkan Awan begitu saja. Sebelum lelaki itu sempat membalas sekata pun.

Awan ingin sekali berlari memeluk Senja. Melepas rindu yang telah membiru dalam hatinya selama lima tahun. Tapi Awan tak mampu, ia bergerak saja kesakitan. Tangan kanannya patah karena kecelakaan mobil kemarin malam. Ia baru siuman siang ini. Seharusnya Awan mengantar kakaknya ke rumah sakit namun justru dirinya sendiri yang berakhir terbaring lemah di rumah sakit.

"Senja, dia sekarang jadi dokter?"

Awan tak menjawab pertanyaan Mama. Jelas-jelas tadi Senja memeriksa Awan, kurang jelas bagaimana lagi jika Senja itu dokter? Awan sedang malas berdebat. Pikirannya sedang kacau sekarang, fisiknya juga lemah. Awan ingin kabur dari bumi sekarang juga.

"Kenapa dulu kamu ninggalin Senja?"

"Kakak gimana, keponakanku sehat?"

Mama mengangguk.

"Perempuan, kalau kamu sudah sembuh kamu harus ketemu sama dia."

Awan balik mengangguk.

"Kamu belum menjawab pertanyaan Mama,"

"Gak ada yang perlu dijawab Mah, udah selesai."

"Senja masih suka sama kamu, dia masih cinta sama kamu."

"Sejak kapan Mama suka membicarakan sesuatu yang gak pasti?"

"Justru ini untuk memastikan, Awan."

Awan berdecak kesal. Ia memilih diam, ia benar-benar sedang lelah untuk berdebat.

Senja membenci Awan. Itu yang Senja ingat ketika ia melihat lelaki itu terbaring lemah di rumah sakit. Dasar pria bodoh, batin Senja. Tapi tetap saja, Senja khawatir tentang kondisi lelaki itu. Seperti malam ini, Senja kembali memeriksa tangan kanan Awan yang patah.

"Selamat malam." entahlah, Senja merasa canggung ketika mengatakannya kepada Awan. Lelaki itu masih tertidur, ia memejamkan matanya. Sungguh, tampan sekali parasnya.

"Malam." jawabnya sambil terpejam.

"Aku takut gagal, biar aku terus terpejam saja."

Gila, batin Senja.

Seorang nurse yang menemani Senja menoleh ke arah Senja dengan raut wajah penuh tanya.

"Biarkan saja, abaikan dia. Anggap saja kita memeriksa robot."

"Aku masih dengar." ucap Awan merasa disindir.

Senja tak membalas, ia paling tidak suka berdebat. Lelaki itu lama-lama menyebalkan juga.

Cloud In SunsetWhere stories live. Discover now