Vote and Comment
Happy reading!
——————————————————
"Kau gagal kak. Kau gagal menjadi kakak kami."
"K-kak ... K-kak Hali! A-aku hilang kawalan! T-tolong kak Hali! Kuasa ni terlalu besar untuk aku kawal .... AGHHH!!"
"K-kak ... Aku ... Aku ... Aku tak layak jadi pemimpin kak. Aku tak boleh tolong saat korang terluka. A-aku ... Aku lemah kak. K-kak Hali ... AKU LEMAH KAK!"
"Maaf. Kak ... Maaf, aku ... Aku terbawa emosi lagi. Aku tak boleh kawal emosi aku kak. K-kak, mereka terluka karena aku kak! KAK HALI! TOLONG HENTIKAN AKU KAK!"
"Kak Hali. Tolong tahan aku. Aku dah melampau."
"Kak. Tolong dan maaf. Tolong selamatkan aku kak! Maaf terlalu naif sampai tak boleh tolong kak ... Maaf karena aku yang harus di tolong kak. Tolong, kak Hali!"
"Kak. Kau gagal. Maaf merepotkanmu. Tolong bangunkan aku kak. Kak Hali, mimpi ini buruk kak. B-bukan aku ... Tolong percaya padaku kak. Bukan salah ku kan kak? Kau percaya padaku kan kak?"
"Kak?"
"Kak Hali?"
"KAK HALI!"
"KAK HALI! KAK HALI! KAK HALI!!"
"Hah ... Hah ... M-maaf ... A-aku memang gagal ... Hah ..." Laki-laki dengan rambut coklat kehitaman dengan beberapa helai rambut putih itu menggeliat di atas tempat tidurnya
Jari-jarinya mulai mencengkram erat selimutnya. Keringat dingin terus meluncur, membuat rambut dan pakaiannya basah oleh keringat.
"Hah ... Aku ... Aku ... hah ... Maaf ..."
"K-kak ...?"
Seorang laki-laki masuk kedalam kamar ini, saat melihat sang kakak terus menggeliat dan menggumamkan sesuatu sedari tadi.
"Kak Hali? Kakak kenapa?" Raut wajah khawatir terpampang jelas dari lelaki itu.
"Kakak sakit?" Lelaki itu meletakkan telapak tangannya di dahi sang kakak, Halilintar.
"Aw, panas banget," tangannya langsung ditarik kembali saat merasakan suhu tubuh kakaknya sangat panas.
Laki-laki itu lalu keluar dari kamar dan kembali lagi dengan sebuah handuk kecil dan air.
Dia dengan telaten memeras handuk itu lalu meletakkan nya di dahi Halilintar. Tubuh Halilintar yang menggeliat dan menggigil tadi berangsur tenang perlahan.
Mata Halilintar kemudian mengerjap, menangkap bayangan orang di depannya.
Saat netra ruby itu sudah terlihat, samar-samar netra Ruby itu menangkap sosok itu, "G-gempa ...?"
"Iya kak? Kakak kenapa? Badan kakak panas banget," tanya laki-laki itu, Gempa, khawatir.
Halilintar menggeleng.
Gempa menghela nafas, "Yaudah kak. Kakak istirahat aja dulu ya."
Dia kemudian membawa ember kecil berisi air itu, menutup pintu lalu keluar. Memberi ruang untuk Halilintar beristirahat.
Tangan Halilintar perlahan menyentuh handuk kecil di dahi nya yang Gempa buat.
"Tsk ...."
YOU ARE READING
Imperfect
FanfictionTak ada manusia yang sempurna. Semua memiliki kekurangannya masing-masing. "Dibalik kesempurnaan itu ada luka dan trauma yang terpendam." Mereka semua memiliki lukanya masing-masing. Mereka semua memiliki traumanya masing-masing. Mereka semua mem...
