I had my eyes on her before I know her name

1.3K 127 5
                                        

Sarada diam-diam masuk ke dalam kamar orang tuanya. Ia sendiri tahu perbuatannya dibilang sangat nekat, tapi mau bagaimana lagi. Memangnya masuk akal memotong uang sakunya selama sebulan? Padahal kesalahannya tak separah itu.

Jadi tujuan Sarada ini adalah mengambil uang, ah maksudnya mencuri uang orang tuanya. Sarada adalah gadis muda berusia 17 tahun yang memiliki banyak kebutuhan, ia harus menikmati masa mudanya. Kalau tidak ada uang tidak mungkin bisa dinikmati.

Sudah lama ia tidak masuk ke kamar orang tuanya. Tiba-tiba ia dibuat terkekeh mengingat betapa seringnya ia masuk ke kamar ini untuk tidur bersama karena takut akan mimpi buruk.

Orang tuanya adalah orang tua yang baik. Ralat, terbaik.

Namun mereka sangat tegas, terutama ayahnya.

Ayahnya itu pria yang dingin, hanya sering tersenyum pada anak dan istrinya saja.

Ah, untuk sekarang lupakan dulu mengingat hubungan harmonis keluarga Sarada.

Gadis muda yang menduduki bangku kelas 2 SMA itu sekarang harus segera melancarkan aksinya. Bisa gawat jika ketahuan dan rencananya gagal. Buruknya, hukuman Sarada bisa ditambah.

Tangan kurus Sarada membuka lemari kecil di ujung ruangan, keningnya mengernyit heran, tidak disangka ia bisa membukanya dengan mudah.

Lemari itu menarik perhatiannya sebab sebelumnya ia tak pernah mendapati eksistansi benda persegi itu.

Buku lusuh yang jelas sengaja ditaruh paling bawah seolah-olah menghipnotisnya untuk diraih.

Sebuah diary.

Dalam kepala Sarada membentuk tanda tanya besar, menerka-nerka milik siapa buku yang nampak seperti buku harian itu.

Terlintas paling pertama adalah ibunya, sebab lucu sekali jika ayahnya yang dikenal seperti kulkas berjalan itu memiliki buku harian unik seperti yang ia pegang.



Sarada tertohok, ia sampai mengusap matanya berkali-kali. Saat halaman pertama dibuka ia melihat tinta tua yang membentuk kata-kata indah itu persis tulisan milik ayahnya. Artinya ini buku milik ayah. Dilihat sekilas jelas sekali tulisan ayahnya yang khas itu.

Dengan seksama Sarada membaca halaman pertama itu, untaian demi untaian kata yang dirajut membentuk kalimat berisi curhatan hati lalu dirangkum dalam buku harian mungil.



'Pagi ini aku melihat gadis dengan rupa rupawan yang sedang bersedih. Aku terus menatapnya tanpa tahu siapa namanya. Dia nampak seperti bidadari.'



"Hah?! bidadari? ini serius papa yang menulisnya?" Sarada bertanya dengan suara cukup keras pada dirinya sendiri.


'Dia nampak seumuran denganku, umurku sekarang 17 tahun.'




"Papa dan mama baru bertemu di usia 25 tahun, itu pun karena kakek menjodohkan papa dengan mama." Sarada dibuat tidak bisa mengontrol ekspresi dan syok yang secara cepat datang. "Jangan-jangan ini mantan papa??"

Sarada jadi menyimpulkan begitu, lalu lanjut lagi membaca.


'Dia mengenakan dress berwarna putih polos, rambutnya dibiarkan tergerai sampai-sampai angin lancang meniup helaian surai merah muda miliknya.'





"Merah muda? Rambut mama juga merah muda." Sarada membaca tulisan indah itu dengan tatapan penuh arti.











'Meskipun sama-sama berdiri di atas jembatan, pandangan kami menatap ke arah yang berbeda. Dia menatap pilu ke arah air laut yang katanya luar biasa indah. Sedangkan aku mengaguminya.'



Sarada hampir ingin menutup buku ini karena kepala terus tanpa izin mengambil kesimpulan kalau ini ditujukan untuk mantan kekasih ayahnya. Namun ia penasaran berat.

'Aku senang datang ke tempat ini. Sungguh senang. Kuharap selanjutnya aku bisa mengetahui namanya.'




Sarada tidak sabaran, ia langsung loncat ke beberapa halaman, ia melanjutkan kegiatan membacanya. Ia merasa tidak terima jika ayahnya menyimpan seorang perempuan dalam diary ini. Ia hanya mau ibunya yang jadi pertama dan terakhir untuk ayahnya.

Beberapa tulisan sulit dibaca, mungkin sebab usia buku diary ini lebih tua darinya.

Sampai akhirnya netra Sarada tertuju dan fokus pada tulisan di akhir. Kalimat yang menjadi penutup satu halaman penuh.


'Akhirnya aku tahu namanya.'

Jantung Sarada berpacu dengan kencang membaca empat kata di awal.


'Haruno Sakura, gadis musim semi cantik jelita. Dia sangat indah sampai aku tidak tahu cara menggambarkannya lewat kata.'







Detik itu hati Sarada menghangat, di saat bersamaan pula ia sadar. Buku diary ini menceritakan tentang kisah cinta ayah kepada ibunya.

Kisah Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura.



***


semua tempat, kejadian, suasana dsb. hanyalah fiktif belaka. karakter asli bukan milik saya. they are all belongs to their respective owner.

she looks just like a dream | sasusakuStories to obsess over. Discover now