Bangkrut

4 0 0
                                        

At Britania Raya. Hotel CLARIDGE'S.

Malam kian beranjak naik. Dalam temaram dan gelapnya malam, sayup-sayup terdengar suara binatang malam yang bernyanyi untuk menyemarakkan malam. Di dalam pekatnya sang dewi malam, di sebuah ballroom hotel CLARIDGE'S terdengar riuh orang bersorak. Diiringi musik klasik Piano Concerto No. 21 yang mengalun merdu dan menghentak.

Para manusia menyamarkan identitasnya. Memakai topeng, untuk melindungi privasi masing-masing. Pesta topeng ini memang digelar selang beberapa waktu sekali. Dan di sinilah, para bangsawan maupun konglomerat dari berbagai belahan dunia yang lain berkumpul hanya untuk bersenang-senang.

Di tengah ballroom, seorang gadis berusia 20 tahunan berputar dan meliukkan tubuh indahnya mengikuti alunan musik klasik Piano Concerto No. 21. Memakai gaun selutut berwarna hitam tanpa lengan yang pas melekat sempurna di tubuhnya. Kulitnya yang seputih susu, sangat kontras dengan gaun warna hitam. Surai hitam yang ia sanggul ke atas pucuk kepala, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan mulus.

Gadis itu berputar, meliukkan tubuhnya dan menghentak sesuai irama musik yang mengalun indah. Sebuah heels berwarna hitam setinggi 7cm merek Giuseppe Zanotti seakan tak membuatnya kesusahan. Gadis itu tetap menari indah di tengah-tengah ballroom dan menjadi pusat perhatian. Tak hanya itu, terlihat sebuah senjata api berjenis Colt 1911 yang ia selipkan ke sabuk kecil yang ia letakkan di paha mulusnya. Saat gadis itu berputar, maka senjata api tersebut terlihat ketika gaunnya sedikit tersibak. Tubuh yang indah, mempesona, elegan, serta mengerikan, bergumul menjadi satu. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata kaum adam.

Setelah beberapa waktu berputar dan menari, musik pun berhenti. Kemudian gadis itu mengikuti irama musik yang berhenti. Ia membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Tepuk tangan kini ikut menyumbang sorak sorai penonton. Seorang pria yang seumuran dengan gadis itu datang mendekat. Membungkukkan tubuhnya seraya menyodorkan sebuah sapu tangan. Gadis itu tersenyum lembut. Mereka terdengar berbicara dalam bahasa Inggris.

"Terima kasih, Benedict," ucap gadis itu.

"Sama-sama, Nona Rose," sahut pria yang bernama Benedict.

Gadis yang dipanggil Rose tersebut, kemudian menyeka keringatnya. Seraya tersenyum, Rose mendekati seorang pria paruh baya. Memberikan isyarat kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan, satu persatu mulai menduduki kursi kebesarannya. Kemudian Rose juga mendudukkan bokongnya di sebuah kursi yang berada diujung. Rose menghela napas seraya mengulum senyuman.

"Bagaimana?" tanya Rose. Lanjut Rose, "Anda membawa, apa yang aku minta?"

Seorang pria muda tersenyum. "Tentu." Pria itu lalu mengibaskan tangannya. Terlihat seorang bawahannya, mengeluarkan sebuah kotak kayu. Lanjut pria itu, "ini pesanan Anda. Saya heran, mengapa Anda senang sekali membeli bubuk mesiu itu?"

"Tuan Zu. Saya rasa Anda juga senang, dengan hasil karya tangan saya. Saya suka sekali membuat sesuatu yang memicu ledakan. Anda juga cocok bukan, dengan harga yang saya patok?" Rose menyeringai. Menampakkan deretan giginya yang terjejer rapi.

"Nona Black Rose. Saya rasa, saya menyukai Anda yang genius ini. Bom buatanmu, terlihat unik. Saya menyukai ciri khasmu," sahut Zu.

"Baiklah. Transaksi, cukup sampai di sini. Benedict, tolong bawa barangku. Kalau begitu, saya permisi. Ayahku, mungkin sedang menunggu," pamit Rose. Gadis itu bangkit.

"Ah, Nona Rose. Kenapa Anda terburu-buru?" tanya seorang pria yang sedari tadi berdiam diri.

Rose bergeming. "Maaf, saya harus bekerja," tolak Rose secara halus.

Rose berlalu. Gadis itu memilih meninggalkan pesta. Sedangkan bawahannya Benedict, mengikutinya dari belakang. Benedict mulai mengemudikan mobilnya menuju rumah. Sang ayah, memiliki masa lalu di dunia gelap. Hingga mau tak mau, menyeret Rose perlahan masuk ke jalan gelap. Meskipun gadis itu hanya bergerak sebagai perakit bom, lalu menjualnya ke pasar gelap.

Ketika Rose mulai menjejakkan kakinya di lantai rumah, Rose menyipitkan kedua matanya. Keadaan terlihat aneh. Gadis itu bergegas masuk ke dalam rumah.

"Papa!" pekik Rose.

Tatkala mendapati sang papa meraung. Rose berjalan mendekati sang papa. "Pa? Ada apa dengan Papa?" tanya Rose.

"Mamamu, Rose. Dia meninggalkan papa. Karena papa, telah bangkrut. Perusahaan papa kalah telak. Bahkan, ada beberapa geng mafia yang telah meratakan bisnis gelap papa. Semuanya habis tak bersisa, Rose!" Jonathan meraung.

"Tunggu, kenapa Papa bisa bangkrut?" tanya Rose.

Rose bingung. Pasalnya selama ini, kerajaan bisnis Jonathan baik-baik saja. Mengapa bisa, dalam satu waktu bisa menghilang? Bahkan kekayaan dari dunia gelap mereka selama ini, bahkan begitu besar. Hanya ada satu kemungkinan.

"Pa, apa selama ini ada pengkhianat dari dalam?" bidik Rose.

Tiba-tiba Rose mendapatkan sebuah pesan di ponselnya. Gadis itu meraih ponsel, yang ada di dalam tas kecil miliknya. Benedict, begitulah nama si pengirim pesan.

Benedict

Terima kasih. Telah menampungku selama ini, Nona Rose. Saya benar-benar terkesan, dengan pencapaian Anda yang luar biasa. Akan tetapi, sepintar-pintarnya manusia. Terkadang, mereka meluputkan satu kesalahan. Begitulah Anda. Karena kemurahan hati Anda,  saya mendapatkan apa yang Anda capai selama ini. Saya berikan satu hadiah, salam perpisahan. Silahkan Anda lihat, di tiang bawah tangga. Sampai jumpa.

---

Rose segera bangkit, meninggalkan Jonathan yang masih meratap. Kini gadis itu menuju ke tempat yang dikatakan oleh Benedict. Kedua iris biru itu membulat. Ada sebuah bom yang terpasang di tiang. Rose berjalan mendekat. Sebagai ahli bom rakitan, Rose paham bagaimana cara menonaktifkan bom.

Kembali mata Rose melebar. Waktu yang tersisa, hanya tinggal 3 menit! Rose berlari menyeret Jonathan. Beruntung, Benedict meninggalkan mobilnya begitu saja.

"Kenapa? Kenapa kita harus pergi?" Jonathan meratap.

Rose memilih bungkam. Tujuannya saat ini, ia harus segera membawa dirinya dan Jonathan pergi sejauh yang mereka bisa, dalam waktu yang terbatas. Hingga tak lama kemudian, sebuah ledakan terdengar memekakkan telinga. Bahkan, bumi terasa bergetar.

Rose dan Jonathan lolos dari maut. Meski begitu karena waktu yang singkat, mobil yang dikemudikan oleh Rose kehilangan keseimbangan. Mobil tersebut oleng. Setidaknya nasib baik masih bersama Rose. Karena gadis itu, berhasil membawa mobilnya kembali stabil.

Kapten Rojali, I Love YouStories to obsess over. Discover now