Did We Make It? menceritakan tentang kisah kehidupan Candra yang selalu berselisih dengan sang ayah, Tirta. Sejak kematian Ibunya Candra, Tirta langsung menikah lagi dengan wanita beranak satu tepat setelah dua bulan kematian istrinya. Candra yang saat itu masih berusia sepuluh tahun dan kehadiran wanita lain yang Tirta sebut sebagai Ibu barunya Candra membuat anak itu tahu bahwa kehidupannya ke depannya takkan baik-baik saja. Apalagi wanita itu memboyong serta anak laki-lakinya yang seusia dengan Candra.
Semuanya memuncak saat Tirta mengajak keduanya untuk pindah ke kota lain dengan alasan ingin mengubah suasana baru. Kehidupan baru yang kata sang ayah untuk memulai lembaran baru itu, bagi Candra hanyalah omong-kosong sampai ia bertemu dengan Ashana di sekolahnya. Seperti Candra, Ashana atau akrab disapa Asha adalah anak yang berasal dari keluarga tak utuh. Ayah Asha meninggal saat ia berusia enam tahun dan meninggalkan dirinya dengan sang Ibu di tengah ekonomi yang tak stabil.
Lalu bagaimana jadinya kalau Candra dan Asha yang memiliki latar belakang yang sama-sama berantakan malah bertemu dan jatuh cinta?
Sebelum ke ceritanya, aku mau ucapin kepada diriku sendiri yang masih bisa konsisten menulis walau di sela-sela kesibukan begini. I'm proud of myself. Gapapa memuji diri sendiri karena belum tentu orang lain akan memuji kita. Aku juga mau berterima kasih kepada pembaca yang menyempatkan membaca karyaku walau tak meninggalkan jejak selain view saja. Hahaha ... tenang, aku enggak memaksa kok. Menurutku dikasih vote itu bonus dan tujuanku menulis itu biasanya hanya melepas ide yang kalau disia-siakan malah sayang.
Seperti biasa, aku membawa cerita fiksi remaja dengan slow burn romance. Ah, betapa indahnya membaca slow burn. Hahaha ... maaf, ya. Aku penikmat slow burn, jadi mungkin akan lebih suka membuat slow burn juga. Oh, juga kalau kalian menemukan beberapa scene cerita dimana saudara laki-laki yang lumayan akrab, itu apa ya hehe ... let's call it bromance or brothership. Aku selalu suka bagaimana betapa manisnya hubungan sesama saudara entah sesama laki-laki, sesama perempuan atau antar laki-laki dan perempuan. Aku menilai hubungan persaudaraan itu lumayan membantu untuk character development.
Menurutku, terkadang beberapa anak agak sungkan untuk berkeluh-kesah kepada orang tua. Entah bagaimana rasanya sedikit canggung untuk bercerita kepada mereka setelah kita semakin menua. Aku menganggap di sanalah peran saudara mengambil alih walau mungkin ada yang lebih suka bercerita kepada sahabat dekatnya. Aku pribadi menganggap itu tergantung pada individu masing-masing.
Oke, cukup basa-basi kita. Selanjutnya, selamat menikmati! Aku mengutip apa yang diucapkan oleh seorang penulis terkenal yang bernama Toni Morrison, “if there is a book you want to read, and it is not yet written, then you must write it yourself.” Artinya adalah apabila ada sebuah buku yang ingin kamu baca dan itu belum dituliskan, maka kamu harus menulisnya sendiri. Itulah yang menjadi salah satu motivasiku untuk terus menulis.
Terima kasih!
ŞİMDİ OKUDUĞUN
[END] Did We Make It?
Genç Kurgu[ B E L U M R E V I S I ] Candra yang merasa bahwa semesta begitu kejam kepadanya dipertemukan dengan Asha yang mencoba melawan dunia. Rapuh dan rusak. Keduanya tanpa sadar saling melengkapi dan menghadapi segala hal yang menerpa hubungan mereka. Ca...
![[END] Did We Make It?](https://img.wattpad.com/cover/360775896-64-k570524.jpg)