p r e f a c e

188 11 1
                                        


Selamat datang di lembaran baru Taw💐

Halo sayang-sayangku, maaf sekaligus terima kasih karena udah setia nungguin work baru aku setelah hiatus sekian tahun huhuhu💔 Karena jujur writer's block itu nyata adanya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Halo sayang-sayangku, maaf sekaligus terima kasih karena udah setia nungguin work baru aku setelah hiatus sekian tahun huhuhu💔 Karena jujur writer's block itu nyata adanya.

Contain Her ini nggak ada sangkut pautnya sama Garda: Evanescent yaa, so buat yang ngira ini sequel ofc big NO😞 Sebenernya aku punya keinginan bikin sequel dari anak sulungku itu, tapi rasanya aku nggak setega itu nyakitin para castku lebih dalam lagi huhuhuuu.

Dengan demikian, dibuatnya Contain Her ini bisa menjadi pelipur lara dari work sebelumnya yang terlalu pahit buat dipatri dalam ingatan. Aku berharap kalian suka.

Anyway, please give me kritik dan saran buat chapter-chapter yang akan datang. It would mean a lot for me. Wopyuuu🫰🏻

whispered

Braga Abrisian Kertaja, menyesali kepulangannya yang seharusnya menjadi sejumput bahagia di sela ketegangan yang memburunya. Lantaran dirinya justru dipaksa menikahi gadis yang tidak dikenalnya secara mendadak hanya untuk kepuasan sang ayah dan janji sialannya itu pada sahabatnya.

time setting: 2026

⚠️ warning ⚠️

harsh words🚨

mature content🔞21+

"Saya nggak keberatan seumpama kamu ajukan beberapa persyaratan. Akan saya hormat dan patuhi sebisanya," tuturnya setelah menjatuhkan bokong di atas sofa.

Jemarinya sibuk melepaskan kancing kemejanya satu per satu, sementara tatapannya tak lepas dari punggung sang wanita yang duduk termenung di depan meja rias.

"Begitu pula saya. Akan saya ajukan beberapa persyaratan buatmu-persyaratan yang sifatnya mengekang, menuntut, dan memaksamu untuk mematuhinya."

Sedangkan sang wanita makin mencengkeram gaunnya erat. Penuturan itu membuat Matcha membeku, kendati telah dituturkan selayaknya berbicara dengan anak-anak. Nada tenang itu seolah mampu mengacaukan ketenangannya.

Tak berselang lama gelengan lah yang Matcha berikan. "Eung ... permintaanku sebelumnya udah Mas Braga setujuin kok," ungkapnya. Melirik sekilas lawan bicaranya dari pantulan cermin.

Setelah menanggalkan kemeja putih yang kemudian membuatnya bertelanjang dada, Braga bangkit dan mendekat ke arah meja rias. "Berdiri! Kamu nggak akan bisa melepas pengait gaunmu sendiri," perintahnya.

Matcha sontak berdiri. Keringat dingin mulai menggerayangi tubuhnya. Di dalam pikirannya, terbesit hal-hal memalukan yang mungkin terjadi. Jujur saja Matcha belum siap diajak bertempur, apalagi dengan sosok berperawakan raksasa macam Braga. Bayangkan saja akan semenakutkan apa.

"Sebelum kita menikah, saya sudah sempat memperingatkan kamu. Masih ingat?" tanyanya, sementara jemarinya satu per satu melepas pengait gaun yang Matcha kenakan.

Setelah mendapatkan anggukan singkat, Braga kembali bersuara. "Saya tegaskan sekali lagi, Matcha Sastrawinata. Menikah dengan saya tidaklah mudah. Sama saja seperti kamu melemparkan diri ke kandang beruang-dicabik perlahan sampai, tanpa kamu sadari, rasa sakit itu lenyap. Karena saya bukan laki-laki yang pantas kamu beri gelar suami."

Braga menjeda ucapannya saat pengait terakhir terlepas. Gerakannya pelan, membuat punggung sempit itu terekspos begitu saja.

Tanpa Braga sangka, Matcha berbalik badan, menatapnya dengan binar mata yang enggan redup diikuti segaris senyum tipis. "Aku nggak masalah harus masuk ke kandang beruang yang Mas Braga maksud. Jadi, apa persyaratan yang mau Mas ajukan buat aku?"

💐💐💐

Contain HerWhere stories live. Discover now