Happy reading
!! Ini cerita pertama saya jadi harap maklumi kalau ada kesalahan dan alur yang gak jelas.
!! Cerita ini akan ku revisi ulang setelah tamat.
---------------------------------------------
Kalian percaya legenda ?
Sebagian besar dari kalian akan menjawab tidak. Hidup di zaman yang serba canggih legenda hanyalah mimpi leluhur terdahulu bagi mereka.
Aku Grazia pangil aja zia, salah seorang dari sekian persen sedikitnya orang yang mempercayai legenda. Sebenarnya bukan sembarang lengenda yang aku percayai.
Iya, aku hanya mempercayai beberapa saja. Salah satunya yaitu legenda di desa ku, Desa Kangga.
Konon, di sebelah timur desa ku tepatnya di tengah hutan Benggala terdapat sebuah desa yang katanya dihuni oleh suku pinopi.
Desa Antasari, desa yang didiami suku pinopi. Desa yang sering orang-orang didesa ku ceritakan sebagai legenda desa kami.
Kepercayaanku terhadap legenda desa antasari dan suku pionopi membawa ku ke sebuah perjalanan panjang dengan penuh petualangan.
Petualangan ku dimulai pada hari itu, hari diumumkannya rangking kelas. Hari yang selalu membuatku gugup setengah mati.
Pagi itu, Aku berlari terburu buru dengan mengambil asal bukuku di rak buku, memakai sepatuku dan mengikatnya dengan asal.
Bersenandung dengan ria, menggoyangkan kakiku kekanan kekiri sambil mendengarkan musik di airphoneku.
Ditengah perjalanan menuju sekolah, tiba tiba seorang cowo dengan gaya awuk awukan menabrak bahuku dengan keras.
Brukkk...
Heandphone yang ku pegang jatuh dengan bunyi keras menunjukan kalo hp ku akan retak parah. Benar saja, hp ku mati total.
Meratapi hp ku yang retak, aku berbalik menatap tajam cowok itu yang malah dibalas dengan cengengesan yang menyebalkan.
"apa apaan sih kamu. Kalo jalan jangan cuman pake kaki matanya juga dipake." aku membentak dengan kesal.
" ya maaf, gue buru buru soalnya. Sekali lagi gue minta maaf, nanti gue ganti kok tapi nanti yah gue buru buru." balasnya. Dia buru buru berlari, terliahat cowo itu berhenti dan berbalik.
"Nama kamu siapa? Kelas berapa ? nanti aku samperin buat ganti hpmu."
Aku yang masih mengusap nanar hp ku mendongak.
"serius kamu bisa ganti ? Aku grazia. Kelas XI Bahasa 2" cowo itu cuman membalas dengan senyuman manisnya. Aku sempat terpaku beberapa saat lalu tersadar dan menepuk nepukan pipiku yang memanas.
Melupakan sejenak kejadian barusan, aku berlari dengan kencang saat tersadar sekarang aku terlambat.
Benar saja, terlihat seluruh penjuru kelas kosong tak tersisa. Mengingat hari ini hari diumumkannya rangking, seluruh siswa dan siswi SMA SETAPA NUSA menyatu dan berkumpul di aula.
Aku berlari menuju aula tampa melepaskan tasku di kelas. Semakin dekat dengan aula hatiku rasanya semakin gugup. Langkahku memelan saat tiba tiba aku mendengar pengumuman juara untuk kelasku.
"...Selanjutnya dari kelas XI bahasa 2 peraih rangking satu adalah..."
Gugup itu yang kurasakan. Keringat dingin timbun di dahiku, aneh rasanya cuman hari ini aku merasakan gugup seperti ini. Saat di kelas 10 kemarin aku tidak segugup ini.
"...Tania Safira dengan nilai 1776..."
Deg... Deg...
Langkahku berhenti jantungku seakan berhenti. Aku berbalik lalu berlari meninggalkan sekolah.
Aku bukanya tidak terima, berapapun nilai dan rangking ku aku sebenarnya tidak terlalu peduli. Tetapi tidak dengan ibuku, nilai dan rangking adalah segalanya. Aku sebagai anak tunggal wajib meraih kesempurnaan itu.
Dari Sd sampai sekarang aku sibuk mengejar kesempurnaan. Apa ibuku peduli tentu saja tidak.
Sekarang aku hanya ingin pergi jauh. Aku berusaha menenangkan diri, aku punya trauma akan penurunan rangking ku.
Saat kelas 7 smp aku pernah mencoba untuk tidak memerdulikan nilaiku. Dan yah kejadian yang bikin aku traumapun terjadi. Ibuku berdebat hebat dengan ayahku, ayah yang tidak terlalu memaksaku mengejar nilai mulai menegur ibuku.
Aku menangis melihat ayah memukul kaca lemari sampai tanganya berdarah. Saat itupun juga ayah menghilang, aku lebih memilih tinggal dengan nenek setelah kejadian itu.
Tetapi tak jarang ibuku datang sekedar menanyakan nilaiku. Sedangkan ayah seakan hilang ditelan bumi.
Tidak ada yang tahu keberadaan ayah. Banyak yang beramsumsi bahwa ayah telah tiada saat memasuki hutan larangan yaitu Hutan Benggala.
Aku melihat semuanya, semua yang terjadi sebelum ayah menghilang, kejadian yang membuat aku percaya akan legenda.
Lupakan tentang legenda. Aku tidak memerdulikannya lagi. Saat ini dipikiranku hanya satu, bagaimana agar menemukan ayah. Aku memutuskan untuk mencarinya, aku tidak mau dimarahi oleh ibuku. Pastinya dia bakal marah besar saat tau nilaiku turun.
Pikiranku mengarah ke hutan benggala. Disitulah aku terakhir kali melihat ayah di bawa oleh orang berpakaian aneh. Aku langsung menebaknya sebagai suku pinopi.
Aku nekat memasuki hutan Benggala, tetapi seseorang mencegahku.Cowo yang menabrakku tadi pagi dialah yang menghalangiku. Aku berusaha melepaskan cengkraman tanganya. Dia memegang kedua bahuku menghadapnya.
" Masuk kedalam hutan Benggala sama dengan mati. Kamu tidak lupakan larangan itu. " Dia menekan setiap katanya dengan tatapan mata tajam yang menusuk.
Aku terus memberontak merasa seperti dirasuki, kakiku seakan tidak mau berhenti. Cowo itu memelukku menenangkanku yang berusaha masuk ke hutan tersebut.
Tenagaku habis aku cuman pasrah saat dipeluk cowo itu. Kalimat penenang diucapkan cowo itu dengan lembut membuat aku terbuai dan akhirnya jatuh tertidur dipelukannya.
----------
!!! Saya gk pintar buat prolog jdi mohon koreksi kalau menurtu anda kurang ataupun ada kesalahan.
Kamis 16 okt. 2023
YOU ARE READING
Desa Antasari
Fantasy{DILARANG MENGKOPI CERITA ORANG!!!} KARYA ASLI AUTOR Perjalanan Zia mencari ayahnya yang menghilang 5 tahun lalu membawa dia ke desa antasari yang konon dihuni oleh suku pinopi. Suku pinopi dikenal dengan ke kuatannya yang bisa mengendalikan alam se...
