"Rin,"
"Ya Bu?"
"Kamu nggak papa kalau ibu suruh buat ngawasin Riki?"
Haerin berhenti membereskan buku-buku yang ada di atas meja Bu Mina. She's shock. Haerin tahu dia punya kewajiban sejak menerima sebuah jabatan kecil sebagai salah satu anak buah guru BK. Tapi tak diduga, pekerjaan seperti ini datang dengan cepat.
Bu Mina memang sangat terkenal suka menjadikan murid sebagai pengawas murid lain. Sudah sejak dia masih awal-awal bekerja disekolah itu.
"Bu, bukannya saya nggak mau," jelas Haerin nggak mau. Siapa sih yang mau berurusan sama Riki—Maki?"Tapi saya nggak bisa."
"Kamu murid saya yang paling tegas."
"Enggak deh Bu, itu mah Kyujin." kilah Haerin.
Dia juga masih baru bekerja dengan Bu Mina. Diawal kelas 11, Bu Mina menunjuknya—seperti biasa setiap tahun begini yang akan berakhir saat siswa tersebut naik kelas 12—dan dia baru mulai beradaptasi dengan tambahan pekerjaannya sebagai anak sekolah.
Ayahnya sih bangga katanya, hebat, anaknya jadi kepercayaan guru.
Padahal sebenarnya, Haerin sudah kerepotan dengan pekerjaan sekolah. Tugas, tugas, tugas, dan ditambah ini. Menangani dan mengawasi anak-anak yang bermasalah. Haerin kan malu, pas kelas 10 dia juga pernah membolos. Cuma nggak ketahuan.
"Ibu, jangan saya deh Bu." melas Haerin. Saya nggak mau, serius, sumpah. Batinnya.
Bu Mina tertawa kecil,"Kan kamu yang saya pilih, Haerin. Jadi kamulah yang saya tugasin. Lagian kenapa deh ngawasin si Riki? Dia nggak ngigit kok."
Tapi dia nyebelin. Haerin menggumam lagi dalam hati. Bukan sekali dua kali Haerin menghadapi Maki. Bu Mina sih manggilnya Riki terus. Padahal Riki terlalu kalem buat cowok itu.
He's a big problem.
. .. .
"Nggak cukup apa gue mabok Kimia? Ini Fisika sekali nulis bejibun terus suruh dihafal. Sial. Kalo gini gue milih soal aja!!" Kyujin misuh-misuh sambil menyedot teh botol.
"Soal, emang bakal lo kerjain??" tanya Eunchae yang duduk didepannya.
Kyujin menatap cewek itu, lantas menggeleng."Justru itu, kalo soal kan banyak yang nggak bisa, jadi gue ikut yang lain aja biar ngerjainnya minggu depan."
"Tolol."
"Tolong yah, gue nggak sendiri. Lo juga nggak punya otak."
"Bangsat."
Kedua sahabat itu saling menoyor, mendorong bahu satu sama lain dan hampir cubit-cubitan jika Haerin nggak datang bergabung lalu membawa serta kesusahannya ke meja yang ditempati dua sahabatnya.
"Berat banget itu nafas, kenapa nggak diikhlasin aja?" cetus Kyujin.
Eunchae mengangguk-angguk setuju."Kalo berat, mending jangan nafas."
Haerin melirik sinis mereka berdua. Salahnya berteman sama kedua manusia yang hampir kesulitan menunjukkan kemanusiawian kalau lihat kawan dalam masalah.
"Jangan ngomong, lo pada nggak membantu apapun." akhirnya, Haerin sinis beneran.
"Uuuww,"
Kyujin dan Eunchae kompak menutup bibir masing-masing dengan kedua tangan, mata mereka memicing melihat wajah kusut Haerin.
"Miss ada problem kah, Miss??" canda Kyujin. Tergelak setelah mendapati mata sipit Haerin memandangnya tajam.
"Woi woi," Eunchae mengguncang pelan bahu Kyujin,"Diem dulu lah. Miss mau curhat nih, silahkan Miss. Saya siap nampung teh tumpahnya," cengir Eunchae.
Kyujin mengangguk semangat. Lupa seketika dengan tugas hafalan Pak Wooyoung, lupa dengan mabok Kimia, dan lupa jika siang ini adalah mapel Ekonomi.
"Lo tahu kan? Gue jadi asisten Bu Mina sekarang?"
"Yes."
"Of course."
Kyujin dan Eunchae saling menatap, lalu Eunchae lebih dulu mengalihkannya pada Haerin kembali."I think, you love it so much."
"Damn it! Gue nggak pernah mau!"
"Mampus," kata Kyujin, seolah senang melihat temannya sengsara. Haerin semakin memandangnya sinis, kepalan tangannya bisa saja sampai ke wajah cewek itu.
"Ini soal apa sih???" tanya Eunchae mendesak,"Kalo itu, gue rasa lo udah nggak masalah dijadiin asisten sama Bu Mina. Lo kayak udah terbiasa. Tapi sekarang, ada masalah lain kan??"
"Yeah. Gue harus ngurusin orang yang paling nggak mau gue sapa diseluruh bumi ini!"
"Halah lebay banget, jatuh cinta tahu rasa lo."
"Kalo cewek gimana?" Eunchae memandang Kyujin, perempuan itu mengendik."Gendrenya nanti berubah."
"Gak waras."
Eunchae memalingkan wajah dengan malas, memilih untuk tidak meladeni dan menyambung perkataan Kyujin.
"So, who's the bastard?" lebih memusatkan perhatiannya pada Haerin, Eunchae menatap cewek itu lamat. Walau sebuah nama sudah terbersit dalam otaknya, melihat bagaimana cara Haerin menjelaskannya dengan cukup menggelikan.
Bahkan sekarang, dengan ketidaksukaan, Haerin memaksakan diri untuk menyebut nama itu.
"Maki."
Tak salah, tebakan Eunchae juga orang yang sama. Cewek itu tersenyum miring.
"Orang jodoh emang nggak bisa jauh-jauh ya?"
. .. .
KAMU SEDANG MEMBACA
confident
Fiksi PenggemarHaerin menganggap Maki hanya sebagai siswa laki-laki biasa. Bolos kerjaannya, dan numpang nama ditugas tanpa ikut kontribusi apa-apa. Tapi tanpa dia tahu, dia lalai memperhatikan cowok itu.
