Cushion refill yang masih terbungkus rapi dalam kotaknya tergeletak di atas meja rias kecil dalam kamar kost gadis bersurai panjang sedikit melewati bahu itu. Reva sebenarnya tidak terlalu pandai berdandan seperti kebanyakan gadis di kampusnya.
Hanya memoles wajah dengan Cushion yang sesuai dengan warna kulitnya, sedikit tinted lipbalm berwarna natural, juga merapikan alis matanya agar terlihat segar dan tidak lesu ketika di dalam kelas.
Tentu saja, menjadi pusat perhatian dosen karena terlihat mengantuk bukan hal yang akan di pilih oleh Reva.
Ah, lagipula,
Menurut Reva, untuk apa merias wajah tebal-tebal ke kampus? toh, yang akan dijumpai juga hanya buku, tugas-tugas, juga kepentingan pendidikan lainnya. Yang penting harus terlihat rapi dan sopan, sesuai dengan tata tertib yang sudah dibuat oleh pihak Universitas.
Seperti biasa, kegiatan paginya setelah bangun tidur adalah membasuh wajah, waktu masih menunjukkan pukul 5, cuaca di Bandung tidak bisa dikatakan menyenangkan karena sangat dingin.
Apalagi sedang musim hujan, belum apa-apa, langit sudah mendung, sinar matahari sangat sulit merambati gumpalan awan hitam walaupun hanya sekedar untuk menyelinapkan sinarnya.
Tidak terasa, sudah satu tahun Reva merantau, alih-alih menghindar dari kehidupannya yang begitu-begitu saja, Ia memulai kehidupan mandiri yang lebih tenang dengan mengambil studi di luar kota.
Sebenarnya Reva memang sudah terbiasa mandiri ketika masih tinggal di rumah bersama keluarganya, terjepit menjadi anak tengah membuatnya memiliki peran adik dan kakak. Meskipun katanya menjadi anak tengah itu menyenangkan karena bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang kakak, juga tanggung jawab kepada adik-adiknya, namun yang Reva rasakan tidak se-klise itu.
Reva mematut dirinya di hadapan cermin; memandangi wajahnya yang tampak sedikit bingung. Baru saja kemarin, beberapa orang kakak tingkat dari Fakultas Seni menghampirinya ketika sedang mencetak beberapa dokumen di tempat foto-copy.
Mereka memuji paras Reva yang memang cantik meskipun tanpa dirias tebal-tebal. Sebenarnya itu sebuah pujian yang sangat disukai oleh para gadis, bagaimana tidak, yang memuji Reva kemarin adalah beberapa orang lelaki dari sekumpulan anak-anak keluarga kaya yang terkenal memiliki tampang menawan.
Namun pujian itu tidak sepenuhnya membuat Reva senang, justru terkesan canggung dan berakhir tidak nyaman karena Ia dikelilingi dan terkesan digoda oleh laki-laki yang bahkan tidak benar-benar Ia kenali.
Apa Ia memoles terlalu banyak cushion pada wajahnya sehingga menarik perhatian mereka? Ah, rasanya tidak, setiap hari Reva selalu konsisten pada wajahnya karena berjerawat akibat terlalu banyak bahan kimia yang menempel pada kulit juga sangat tidak menyenangkan,
Dan tentu saja Reva tidak menginginkan hal itu.
Setelah membiasakan diri dengan suhu, Reva beranjak mandi, untungnya tempat kost yang Reva tempati memiliki penghangat air meskipun harus membayar sedikit lebih mahal dari standar biaya tinggal yang ditawarkan..
Yah, jika sebagian besar rumah kost di Jakarta menyediakan pendingin ruangan, di sini disediakan penghangat air.
Setelah mandi, Reva kembali mematut dirinya di hadapan cermin, hari ini Ia berencana mengenakan kaus putih berlengan yang dibalut oleh oversized jacket berwarna abu-abu yang bisa membuatnya tetap hangat sepanjang pagi yang dingin di kampus nanti.
Sarapan hari ini juga rasanya Ia hanya ingin membuat sesuatu yang cepat dan mudah. Kelas pagi tidak memberinya semangat untuk melakukan banyak kegiatan diluar perkuliahan.
Menghangatkan beberapa buah honey barbeque chicken nuggets sisa semalam dan memanggang roti dalam toaster sepertinya pilihan yang bagus agar Ia tidak perlu memasak nasi dan menunggunya selama 30 menit untuk matang.
Reva membuka lemari pendingin sesampainya di area dapur, Ia sangat beruntung mendapatkan tempat kost yang memiliki perabotan bawaan cukup lengkap dengan budget yang pas dengan keuangannya.
Sekitar dua bulan yang lalu, Reva membeli sebuah airfryer agar tidak sulit untuk menghangatkan makanan.
Sembari menunggu, Reva mengoleskan sedikit mayonaise pada roti tawar sebelum dimasukkan ke dalam toaster.
Disela kegiatannya membuat sarapan, Reva memeriksa ponsel, melihat apa lagi 'drama' yang ada di pesan grup tempat kerja sampingannya.
Reva tahu, bekerja sebagai peracik minuman beralkohol di sebuah club malam bukan pekerjaan yang baik. Tidak juga membuatnya memiliki nama yang baik jika keluarganya tahu.
Namun apa boleh buat, menjadi seorang perantau yang baru saja sampai di kota yang jauh dari rumah membuatnya harus melakukan banyak hal untuk menopang kehidupannya sendiri.
Masih untung pada saat itu ada kenalannya saat ospek yang mau memberinya pekerjaan ini.
Tapi sudah satu tahun menjalaninya, Reva tidak pernah bisa terbiasa, bahkan membuatnya cenderung lebih canggung pada orang lain terutama laki-laki, karena Ia sudah banyak meihat betapa liarnya laki-laki yang bersenang-senang di club tempatnya bekerja.
Memukul rata semua orang sama saja sebenarnya tidak baik, namun waspada menjadi alibi terbaik yang Reva miliki agar berjarak dengan orang lain. Lagipula apa peduli orang lain padanya?
Ting!
Makanan yang Reva hangatkan sudah siap dan segera gadis itu sajikan dalam piring beserta dua lembar roti panggang. Sembari memeriksa ponselnya, Ia mulai menikmati sarapan.
Satu pesan datang dari temannya yang kebetulan menjadi anggota kelompok yang sama dengannya untuk tugas mata kuliah Pengantar Hukum Perdata.
Reva menghela napas membaca alasan yang dibuat oleh rekan kelompoknya itu yang berhalangan sehingga tidak bisa mengerjakan tugas kelompok tepat waktu.
Alasan klasik yang lagi-lagi membuat Reva harus mengerjakan semuanya sendiri.
Mau menolak pun, tenggat waktu penyerahan tugas sudah di depan mata. Ia tidak ingin mengorbankan nilainya menjadi hancur hanya karna ingin memberi pelajaran pada anggotanya yang tidak bertanggungjawab.
Reva menyimpan ponselnya kembali di atas meja setelah makanan dalam piringnya habis.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Reva sudah selesai membersihkan piring bekas dan merapikan sedikit tempat kostnya agar tetap terasa nyaman saat pulang nanti. Ia juga sudah menyiapkan semua kebutuhan kuliahnya. Jarak ke kampus juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki sehingga sangat pas untuknya berangkat sekarang.
"Pagi neng Reva."
Reva mengulas senyum sebagai respon sapaan seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya. Langit masih sangat mendung, rasanya siang nanti akan turun hujan. Untungnya selalu ada payung di dalam tas ransel yang Ia gunakan sehari-hari.
Dari sebrang jalan, terlihat sebuah mobil sedan hitam berjenis Porsche Cayman yang memasuki pekarangan parkir Fakultas Hukum.
Reva pikir, menjadi mahasiswa jurusan Hukum akan membuat hidupnya damai karna bisa saja mereka yang memilih jurusan ini adalah sekumpulan anak jenius yang sangat individualis.
Namun kabar burung yang mengatakan bahwa anak Fakultas Hukum, Kedokteran, juga Fakultas Ilmu Sosial dan Politik seakan memiliki stigma 'kasta' pergaulan yang sedikit berbeda dengan fakultas lainnya rasanya tidak bisa dibantah juga.
Yah, selama tidak mengganggu ketenangannya, bagi Reva mau setinggi apapun pergaulan mahasiswa di kampus, Ia tidak peduli.
YOU ARE READING
Wunschzyklus
RomanceSetiap manusia memiliki keinginan, tentang hal yang berbeda-beda, tentang keadaan yang tidak sama, dari hal sepele hingga yang serius. Dari keinginan kecil hingga besar. Manusia tidak akan pernah mampu berhenti untuk berharap seberapa keraspun merek...
