Raut kusut dari seorang perempuan yang duduk di hadapan pemuda dengan ekspresi yang tak jauh berbeda. Pemuda itu berkali kali menghela nafas, seolah kesulitan dalam bernafas. Setelah kesekian belas helaan nafas berat itu terus ia tarik, akhirnya ia menghembuskan nafas nya lumayan keras setelah menentukan untuk mengutarakan keputusan paling besar yang ia ambil tahun ini.
"Aku rasa, kita gak bisa—ngelanjutin hubungan ini." Ujarnya dengan nada yang rendah tapi tegas.
"Hah, apa?" Seru si perempuan yang merupakan tunangannya. Mereka sudah menjalin hubungan lebih dari 4 tahun, dan bahkan sudah memutuskan akan menikah dalam beberapa bulan ini.
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan langsung memasang ekspresi penuh keyakinan meskipun ia sendiri masih merasa gugup dengan keputusan nya sendiri. "Aku—pengen kita putus."
Kediaman si perempuan membuktikan kalau perkataan tunangannya terdengar mengejutkan baginya, bahkan bagi perempuan lain yang duduk tak jauh dari mereka.
Perempuan itu bahkan menghentikan kunyahan makanan enak kesukaannya di restoran tersebut untuk memfokuskan diri mendengarkan pembicaraan dua orang itu.
Kekehan terdengar beberapa saat setelahnya. "Kamu becanda ya? Gak lucu tau." Protes si perempuan sambil tersenyum geli. Ia paham tunangannya, dia adalah pemuda humoris yang kadang memang bercanda tak kenal tempat dan kondisi. Maka dari itu ia tak percaya apa yang di katakan nya begitu saja.
Tatapan si pemuda begitu dalam melunturkan senyum tunangannya. "Aku serius. Aku beneran gak bisa lanjutin hubungan kita lagi."
Kerutan begitu jelas nampak di antara kedua alis perempuan yang masih bingung itu. Ia mencondongkan tubuhnya dengan memasang wajah datar. "Kenapa? Aku punya salah sama kamu?"
Sekali lagi pemuda itu menghela nafas. Lalu menggeleng kecil. "Engga, kamu gak salah apa apa. Aku cuma, ngerasa kalo aku gak pantes buat kamu."
Awalnya keduanya terdiam, tapi kemudian si perempuan tak bisa menahan tawa nya. "Ka—kamu apa? Dan setelah 4 tahun? Sebelum sebelum nya kamu baik baik aja, kenapa sekarang kamu tiba tiba ngerasa begitu?"
"Itu—bukan apapun." Lirih pemuda itu.
"Bukan apapun gimana maksud kamu! Kita udah pacaran selama 4 tahun dan bahkan kita udah tunangan! Gimana bisa kamu mutusin aku gitu aja cuma karena gak pantes. Kamu kenapa sih, Dik?! Kalo emang aku ada salah, atau kamu ada masalah. Kita bisa selesain bareng bareng, bukan mutusin sepihak kayak gini." Ujarnya melepaskan unek unek kekesalan dari hatinya.
Melihat kediaman sang tunangan membuat si perempuan semakin emosi saja. "Ada hal lain kan? Pasti ada alesan lain yang bikin kamu kayak gini, iya kan?"
Tundukan kepala lemah dari tunangannya membuat kecurigaan kalau memang ada hal yang tidak beres dari ketiba tibaan lelaki itu begitu padanya. "Iya, memang ada. Kan?"
"Iya. Ada."
Jawaban yang seharusnya tak membuat perempuan itu kaget karena ia sendiri sudah memperkirakan nya, tapi ia tak menduga kalau dia akan menjawab dengan nada setegas itu. Seolah tidak ada keraguan sama sekali.
Spekulasi buruk berkumpul dalam kepalanya, hal apa yang mengubah kekasih yang sudah ia pacari sejak masih sekolah menengah akhir tersebut. "Kamu selingkuh?" Cicitnya sedikit takut. Bagaimana kalau benar?
Perempuan itu menatap lamat lamat ke dalam mata kekasihnya, mencari kebenaran yang ingin ia dapatkan dari sana. Ada keraguan, dan penyesalan yang ia lihat di sana. Jadi memang benar?
Tanpa sadar, perempuan itu tersenyum pasrah sambil menyandarkan tubuhnya. Ia tak paham lagi, harus berbuat apa jika sudah seperti ini. "Jadi gitu." Jelas sekali kalau perempuan itu kebingungan untuk mengungkapkan bagaimana perasaan saat ini. "Kenapa baru sekarang Dik." Cicitnya lesu.
YOU ARE READING
DIKANESHA
RomanceLahir sebagai anak di luar nikah menjadikan hidup Nesha sejak awal dipenuhi bayang-bayang takdir yang tidak ia pilih. Kedua orang tuanya terpaksa menanggung keputusan pahit, sementara ia tumbuh dengan membawa beban yang tidak pernah ia minta. Dari k...
