#1 : I'm Back

19 1 0
                                        

"Selamat pagi. Pelanggan yang kami hormati, sesaat lagi kita akan tiba di stasiun akhir perjalanan, Stasiun Malang Kota Baru. Kami persilakan Anda untuk mempersiapkan diri. Periksa kembali barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal atau tertukar. Pintu keluar stasiun akan berada di sebelah kanan arah datangnya kereta api. Terima kasih atas kepercayaan Anda menggunakan jasa layanan kereta api. Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya. Stasiun akhir perjalanan, Stasiun Malang Kota Baru."

Pagi yang cerah bisa. Sinarnya sampai bisa memasuki gerbong keretaku yang sedang berjalan melambat. Walaupun kereta ini belum berhenti secara sempurna, sudah terlihat banyak orang yang bersiap-siap mengambil barang seperti koper, tas, maupun kardus oleh-oleh di bagian atas tempat duduk mereka.

Aku? Tentu saja aku juga salah satunya.

Karena hanya pergi sendirian tanpa ditemani oleh keluargaku seperti biasanya, naik kereta kali ini mengajarkanku banyak hal, terutama soal kemandirian. Aku harus siaga dengan barang bawaanku sendiri dan tentunya harus kuat untuk mengangkat dan menurunkan koper sendiri dari kabin atas tempat duduk. Ya, meski seperti yang kita ketahui, saat kereta sudah berjalan melambat akan banyak bapak-bapak porter yang masuk ke dalam kereta yang entah betapa beraninya melompat ke dalam saat kereta bahkan belum berhenti! Tapi aku tidak berminat untuk menggunakan jasa mereka karena aku harus berhemat untuk liburan kali ini. Harus!

Saat dirasa kereta sudah berhenti secara maksimal, para penumpang yang sudah mengantre untuk keluar perlahan-lahan berjalan menuju pintu setiap gerbong.

"Porter, Mbak? Porter?" Bapak-bapak berseragam porter terus menawarkan jasanya pada para penumpang. Aku hanya bisa membalas dengan mengangkat tangan tanda menolak setiap mereka bertanya ke arahku. Tidak, Pak, tidak. Saya bisa sendiri.

Tiba-tiba, tak lama setelah aku keluar dari pintu gerbong keretaku dan berjalan ke arah pintu keluar stasiun, aku merasakan HP di kantong celanaku bergetar. Mama!

"Halo, Kay. Mama sudah di depan pintu keluar ya," kata suara lembut ibuku yang terdengar dari telepon genggam.

"Iya, Ma ini lagi jalan keluar. Tunggu ya." Setelah kumatikan teleponnya, kupercepat langkahku. Bunyi roda koper yang kutarik juga terdengar makin menderu. Namun pintu keluar rasanya masih tak terlihat dari pelupuk mata. Kami harus menaiki eskalator terlebih dahulu, melalui jembatan, dan turun kembali menggunakan eskalator sebelum bisa melihat gerbang keluar stasiun. Untung saja Stasiun Malang Kota Baru ini sudah direnovasi. Jadi bisa lebih mudah menyeberangi peron dengan jembatan layang yang dihubungkan dengan sebuah eskalator. Mantap.

"Ma!" Kusapa ibuku ketika sudah melihatnya dari kejauhan, sambil melambaikan tangan dengan penuh semangat. Walaupun badan terasa pegal setelah duduk selama berjam-jam, rasa capeknya seakan sirna setelah melihat orang tersayang secara langsung.

"Kay, akhirnya pulang juga," balas ibuku sambil memeluk erat diriku. Walaupun sudah berumur 24 tahun, aku tetap memiliki jiwa kekanak-kanakan di depan mama yang tidak dapat kutunjukkan kepada orang lain.

"Mobilnya di mana?" Itulah pertanyaan yang langsung keluar dari mulutku setelah memeluk mama. Rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

"Agak jauh tadi dapat parkirnya. Jalan sedikit, ya. Sini mama bantu bawa kopernya. Kamu sudah berat-berat bawa ransel." Tanpa sadar, mama sudah meraih pegangan koper biruku dan menariknya dengan tangan kanannya. Seharusnya aku menolak keinginan mama untuk membawakan koperku. Tapi pandangan kagumku kepada wanita yang satu ini membuatku terpaku beberapa detik sebelum akhirnya sadar mama sudah beberapa langkah di depanku.

"Maa! Tunggu!" Aku sedikit berlari untuk menyamakan langkah dengan ibuku.

Biasanya, dari Stasiun Malang Kota Baru, mama langsung mengarahkan mobilnya ke arah perempatan Pasar Klojen karena searah dengan jalan pulang ke rumah. Tapi kali ini berbeda. Mama malah mengambil jalan ke arah Bundaran Hotel Tugu dan belok kiri tepat di sebelah Kantor Walikota Malang.

"Kok lewat sini, Ma? Bukannya muternya malah lebih jauh?" Aku bertanya kepada ibuku sambil tetap melihat ke sisi kiri kaca mobil, menikmati jalanan Kota Malang di pagi hari yang masih sepi.

"Ini, lho sekalian lewat sepanjang Jalan Kayutangan tuh sudah direnovasi. Ada lampu-lampunya, bagus deh. Kayak di Jogja."

Dan ya benar juga. Ketika melewati jalan tersebut, pikiranku langsung teringat akan Jalan Malioboro di Jogja yang sempat kukunjungi beberapa tahun lalu bersama Mama. Banyak lampu hias di pinggir jalannya dan tempat pejalan kakinya pun sudah dilengkapi dengan kursi taman panjang. Persis Jogja. Ini Jogja atau Malang sih?

"Sekalian Kay, sudah lama ya gak lewat jalan ini," kata-kata mama memecah keheningan saat mobil berhenti di lampu merah sebelah Hotel Trio Indah 2 setelah aku menikmati Jalan Kayutangan yang makin indah. Jalan Jaksa Agung Suprapto sudah ada di depan mata. "Padahal dulu lewat jalan ini hampir setiap hari ya, Kay," lanjut Mama lagi.

Yaa, bagaimana mau gak lewat jalan ini hampir setiap hari, Ma? Kalau bolos sekolah tuh iya baru deh gak lewat sini!

"Hahaha iya Ma. By the way, McDonald's lampu merah sini udah gak ada, Ma?"
"Iya, belum lama ini tutup."
Wah.. sayang sekali, bisa dibilang itu adalah McDonald's sejuta kenangan bersama teman-teman SMA-ku. Hmm..

Padahal tak terpikirkan sama sekali untuk melewati jalan ini dan tentunya melihat sekolahku waktu SMA! Mungkin Mama yang lebih kangen mengantar jemput aku selama 3 tahun tersebut. Waktu berjalan begitu cepat rasanya. Apalagi saat lewat tepat di depan sekolah tersebut. Rasa nostalgia makin bermain pagi itu, memenuhi kepalaku yang tadinya tidak memikirkan untuk melakukan hal tersebut.

Dulu, lebih tepatnya 8 tahun yang lalu, aku sering berpapasan dengannya di depan gerbang itu. Kami sedang berjalan menuju gerbang sekolah dari arah yang berlawanan. Dia dari Timur dan aku dari Barat. Biasanya kami sampai di depan gerbang secara berbarengan dan saling menyapa satu sama lain dengan hanya melontarkan senyum sambil sedikit menganggukkan kepala. Dan biasanya itu terjadi sekitar jam 6 pagi lewat 10 menit. Kulihat jam tangan yang melingkari lengan kiriku. Persis jam segini.


======

Halo, All! Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca. Ini karya pertamaku, kalau ada kritik dan saran yang membangun boleh banget yaa! Thank you! Happy reading! 💚

======

Impromptu LoveWo Geschichten leben. Entdecke jetzt