"Jay!"
Pemilik nama menoleh ke samping. Menampilkan sosok gadis cantik sambil menenteng tas merah muda.
Alis Jayden menukik, seolah bertanya 'ada apa?'
Sabit manis si gadis begitu memabukkan, tetapi tak membuat Jayden terkesima. Justru memilih melanjutkan langkah besar. Hari ini cukup melelahkan bagi cowok bertubuh tinggi nan tegap tersebut, sebab sedari fajar sudah diinvasi oleh teman satu divisi untuk melanjutkan pekerjaan──yang senja ini harus rampung.
Beruntung, setengah jam lalu berhasil mengejar deadline. Setelah usai mengisi perut di kafetaria kampus yang masih buka. Kini, Jayden hendak kembali ke atap berteduhnya. Mengistirahatkan diri dari kesibukan satu minggu belakangan.
Namun sepertinya, niatnya akan batal kala melihat siapa yang tengah berdiri dengan anggun di depan. Sosok yang terus membayangi setiap jejak langkah. Mengisi ruang kosong yang selalu dihalau Jayden.
"Sebentar!" Melihat Jayden hendak meninggalkan, maka si gadis segera memblokade jalan.
Mengeluarkan sebuah kotak yang Jayden tebak bekal makan. Selalu sama setiap hari.
"Gue udah makan. Lo bawa pulang aja, bilang ke nyokap kalau Jayden hari ini sudah makan tiga kali. Satu lagi, gue sibuk. So, lo gausah ngikutin." Seusai mengeluarkan kata-kata yang cukup mencongkel hati, Jayden pergi begitu saja ke parkiran motor.
Sayangnya, sentilan kata Jayden juga tak didengar. Gadis itu masih mempertahankan binar puja pada paras Jayden. Sekali pun Jayden mengambil langkah lebar, tetapi si gadis mencoba berlari untuk menyejajarkan langkah di samping.
Jayden lupa jika gadis ini adalah manusia paling keras kepala yang pernah ditemui. Sejauh apa pun Jayden melangkah, pasti dikejar. Sekeras beton pun, akan gadis itu terobos demi mendapat sedikit eksistensi dari Jayden.
Jayden melupakan jika Mami dan Papinya sudah menyerahkan seluruh hidupnya pada gadis gila itu. Mungkin sebabnya begitu tergila-gila pada Jayden. Seolah telah memiliki hak atas hidup Jayden.
"JAYDEN! berhenti!" teriakan itu berhasil menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa di trotoar depan kafetaria.
Semua orang di universitas sepertinya akan tahu siapa sosok Jayden dan Kalana. Dua mahasiswa paling banyak dibicarakan selama setahun terakhir. Sempat menggegerkan isi base kampus dan menjadi topik paling hangat pada masanya, bahkan beberapa berita tidak mengenakkan bagi Jayden juga berasal dari Kalana.
"Jay, tungguin!" Hoodie belakang Jayden ditarik paksa Kalana, membuatnya berhenti mendadak.
"Cewek gila!" umpatnya kasar seraya menghentakkan genggaman Kalana di ujung hoodie.
Kalana mengangkat kepala, menghadap Jayden dengan netra hitam sepekat bulu gagak, tetapi tak pernah berhasil menarik atensi cowok valentine itu. Setiap mendekat, ada saja batasan dinding untuk menghindar.
"Kamu belum minum vitamin hari ini. Sesibuk apa pun, kamu harus minum, Jay!"
Jayden bosan setiap hari harus direcoki, meminum berbagai jenis vitamin dari Kalana. Dengan kasar, dia merampas vitaminnya dan membuang tanpa arah. Sudah cukup Jayden menjadi boneka orang tuanya yang memainkan peran di panggung pentas.
"Udah, 'kan?" balasnya dengan dingin setelah membuang beberapa vitaminnya.
Bagi Jayden ini terlalu berlebihan. Hanya karena tidak mengonsumsi vitamin, bukan berarti dirinya lemah. Tidak makan sehari saja Jayden masih hidup, apalagi vitamin.
YOU ARE READING
Skandal ||•Jung Jaehyun
Fanfiction✓ Sedang Revisi - On Going Menjadi anak orang kaya tidak semenyenangkan bayangan orang. Katanya, segala sesuatu akan terpenuhi. Bilangnya, semua telah terjamin. Sangkanya, hidup lebih bahagia. Namun, bagaimana jika ditakdirkan hidup sebagai...
