Chapter 1

13 3 0
                                        

Tak ada kebahagiaan tetap! Semuanya berputar,saling berganti untuk melakukan bagiannya.
............

Sejak setelah bel pulang berbunyi, gadis itu hanya bisa menyibukkan dirinya dengan ponsel gengam berlogo apple digigit, hingga sesekali mendengus kesal karenya lamanya jemputan untuknya pulang
"Ughh karatan gue lama lama"
Cibirnya pelan, dengan merapikan poni ramburnya, dan menatap sekeliling dengan rasa cemas.

Mahasiswa berlalu lalang dengan cepat karena hari yang sudah mulai sore.

Sementara semua orang pulang, gadis itu hanya duduk di salah satu bangku panjang dekat pos keamanan sekolahnya.

"Ara gue duluan yahh"
Ucap seseorang yang sontak membuat sang empu pemilik nama mendongakkan kepala, mengacungkan jempol sebagai
responnya.

Kemudian ia menyandarkan badannya di senderan bangku, membuka jas almamaternya da meletakkan nya tepat di atas rok hitam kotak kotak sebatas paha

Menyetel sebuah lagu lalu memasangkan headset di telinganya, mengusir rasa bosan atasnya, bersamaan dengan matanya yang perlahan mulai tertutup, meresapi lagu pavorit yang entah sudah berapa kali ia setel tanpa pernah berniat untuk menggantinya.


Ia menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, sudah hampir satu jam dirinya duduk.

Matanya yang tertutup pun kembali terbuka, menatap gerbang sekolah yang memperlihatkan langsung jalanan kota, mengamati deretan kendaraan yang berlalu lalang mengikuti arah arus,
Berharap mobil yang biasa dipakai untuk menjemputnya pulang datang.

1 menit

2 menit

3 menit

A few moment later....

"Akhhhhh" Ara menjerit prustasi, dengan gerakan cepat tangannya menarik headset yang sudah memutarkan 3 lagu yang sama dengan tarikan kasar.
Menghirup dan menghembuskan nafas panjang untuk menetralkan kembali emosinya yang memuncak.

Dengan sekali hentakan, ara bangun dari duduknya,

Menyampirkan jas almamater miliknya di bahu kanan, berjalan cepat menuju halte bus yang hanya berjarak 20 meter dari area sekolah,
Mengabaikan teriakan satpam penjaga sekolah yang meneriaki namanya,.
Hanya satu yang terlintas di benak nya, berharap masih ada bus yang lewat, karena bus yang mengambil rute ini hanya sampai jam 15.30.

Hingga tanpa permisi wajah khawatir orang tuanya terlintas begitu saja di benaknya.

Ara terdiam sesaat, memikirkan kembali keputusannya untuk pulang naik bus.
"Nungguin apa pulang"
Begitu dan seterusnya,
Kalimat yang terus ia lontarkan, mencari sebuah jawaban yang tepat..


"Akhhh gue mau pulangg" finalnya. lalu kembali melanjutkan jalannya menuju halte yang sempat tertunda karena rasa ragunya.

Masa bodo dengan larangan orang tuanya yang menentang keras untuk tidak menaiki kendaraan umum termasuk taxi juga ojek,
Terutama bundanya, yang pernah sempat menangis hanya untuk membujuk ara agar mau diantar jemput sekolah.

"Huhhh" mau bagaimana lagi? Ara tidak mau jadi anak durhaka yang sudah membuat orang tuanya menangis hanya karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya.

Inseparable (ON GOING)Where stories live. Discover now