Langit sore serta musim semi yang dilengkapi hembusan angin sepoi-sepoi yang sepertinya dapat menenggelamkan seseorang kedalam benaknya paling dalamnya.
Terlihat tiga gadis remaja yang sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Mengabaikan jam yang terus berdetak menyamarkan keheningan yang cukup jelas.
Tinta-tinta pena yang berwarna hitam gelap menghiasi putihnya halaman-halaman buku diary salah seorang gadis yang masih kosong. Menari indah mengikuti gerakan tangan sang penulis.
Gak kerasa udah 6 tahun tanpa lo, Sak. Sekali aja, kalo ada kesempatan, sekali aja gue pengen ketemu sama lo lagi.
Kalimat itu tertulis indah di lembaran buku kosong. Sebuah kalimat harapan yang tak diketahui apakah dapat terwujud atau kah hanya akan menjadi mimpi semata.
"Lo nulis apa, Liv?" tanya seorang gadis yang sedari tadi melihat sang teman yang serius dengan apa yang ditulis sampai-sampai tak menyadari bahwa ia sedang diajak bicara.
"Hah?" beo-nya tak mendengar dengan jelas apa yang ditanya oleh gadis tadi.
"Hah, hoh, hah, hoh. Tadi gue nanya, lo nulis apa?" ulangnya sembari mengintip tulisan yang ditulis oleh sang gadis yang dipanggil 'Liv' tadi. "O-oh, bukan apa-apa. Eh, katanya ada murid baru lah ya?" jawabnya sembari mengalihkan pembicaraan dan bergegas menyembunyikan diary-nya.
"Eh iya! Katanya cowok tau. Orkay, terus ganteng." tutur gadis yang bernama Vanya dengan mata yang berbinar.
"Gak, cowok gue lebih ganteng." bangga Achel.
"Masa lalu gue lebih," balas Livy. "Diem. Yang gamon sama masa lalu itu ga diajak!" ujar Achel, terselip nada mengejek disetiap katanya.
"Kalo gampang buat ngilangin perasaan, dari dulu juga gue udah ngilangin nih perasaan ya anjing." ucap Livy. Terselip nada kesal didalam kalimatnya.
Alsaka Vincent, salah seorang lelaki yang berhasil menaklukan hati seorang Vilivya Analana. Mungkin kisah diantara mereka dapat dikatakan klise dan pasaran. Tetapi cerita ini bukan mengenai klise dan pasangannya sebuah cerita, tetapi mengenai cinta masa lalu yang terulang kembali. Semua yang ada di dunia ini memang tidak sempurna, jalan kehidupan manusia begitupun takdir yang menjerat.
"Ya udah serah lo, capek ngingetin gue." pasrah Achel yang pada akhirnya mematikan topik pembicaraan mereka yang beberapa menit kemudian dibuka kembali oleh Vanya, "anak baru, namanya Alsaka tapi ga tau marganya apa," tutur Vanya memberi info yang didapat dari handphone-nya.
Achel yang sedang minum untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokannya sontak menyemburkan air yang diminum nya ke lantai saking terkejutnya, "serius lo?" tanya Achel ingin meyakinkan apa yang didengaenya tadi. "Iya, tapi gue ga tau marganya. Bisa aja kebetulan kan?" suasana tiba-tiba menjadi canggung. Vanya yang tidak enak telah membahas apa yang ditemukannya tadi, Achel yang sedang terbengong dengan perkataan Vanya dan Livy yang berharap bahwa orang yang dikatakan Vanya tadi benar adalah Alsaka.
"Gue ke balkon dulu ya, mau nelpon mama bentar." pamit Livy berbohong dan langsung bergegas menuju balkon kamarnya tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya.
Sesampainya di balkon, langit sore hari yang telah menunjukkan tanda-tanda akan memasuki waktu malam semakin terlihat indah. Bulan sabit yang mulai muncul memperindah langit sore yang sekarang telah berwarna jingga membuat Livy merasa lebih tenang dan damai.
Ucapan yang dikatakannya tadi tidak sepenuhnya bohong. Dia memang ingin menelepon seseorang tetapi bukan sang mama. Ia ingin menelepon nomor lama Saka yang dulu sempat diberikan oleh sang lelaki kepadanya sebelum perginya Saka ke luar negeri.
"Ini nomor yang bakal aku pakai kalo seandainya aku udah pulang dari luar negeri. Kamu simpan ya!" pesannya terakhir kali.
Handphone yang ingin dipakainya untuk menelepon Saka sudah ada digenggamannya. Segera ia mencari nama kontak yang telah ia simpan dengan nama 'Sakaa'. Ingin rasanya ia segera menekan ikon hijau untuk menelepon, tetapi terasa berat. Menimang apakah ini harus dilakukannya atau tidak.
Sekian detik berlalu dan pada akhirnya ia memilih untuk menghubungi nomor itu dan ya, berbunyi. Tak butuh waktu lama untuk orang di sebrang sana untuk mengangkat panggilan itu.
"Halo?" sapa orang di sebrang sana. Suara lelaki. Sekian lama tak berjumpa membuat Livy tak mengetahui apakah ini benar suara Saka atau tidak.
"Hai," sapa balik Livy.
"Siapa?" suara seran itu terdengar khas.
"Kamu Saka? Aku... Livy,"
Tut
Panggilan terputus sepihak. Setelah mengatakan beberapa patah kata itu, panggilan terputus secara sepihak. Meninggalkan tanda tanya besar bagi Livy, apakah itu Saka atau bukan? Livy tak tahu.
Apakah Saka ingin menjauhi Livy? Jika iya, kenapa?
"Itu kamu, Sak?" gumam Livy bertanya kepada diri sendiri. Ia punya pendapat bahwa orang yang tadi mengangkat teleponnya itu adalah Saka.
Saking sibuknya mencari jawaban dari semua pertanyaannya, ia sampai tak mendengar panggilan-panggilan yang dilontarkan oleh Achel dari dalam kamar. Merasa tak digubris oleh Livy, Achel memilih untuk menyusul Livy ke balkon kamar Livy. Melihat Livy yang sibuk melamun, terlintas ide jahil dibenak Achel.
1
2
3
DUAR!
Teriakan itu berhasil membuat Livy kaget hingga ingin rasanya ia untuk membuang Achel kedalam jurang.
"Bangsat, kaget gue asu!" umpatnya tak bisa menahan kesal. "Ya abis lo dipanggil-panggik ga nyaut mana nipu kita berdua lagi lo." kata Achel. "Tante Cellyn di rumah, kalo mau ngobrol kenapa ga langsung ngobrol empat mata aja? Emang tadi lo telponan sama siapa sih?" kepo Achel.
"Y-ya engga. Gue tadi emang telponan sama mama. Males turun ke bawah gue, ya jadi gue nelpon mama aja." alasannya. "Tante Cellyn tadi masuk ke kamar pas lo lagi telponan sama tuh cowok, tante juga ga lagi megang HP tuh." telak Achel yang membuat Livy taj dapat memberikan alasan lagi.
"Siapa tadi?" tanya Achel.
"Hah? Apanya? Ga ada cuman temen. Besok kita mau berangkat sekolah bareng?" tanya Livy berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan ngalihin pembicaraan, jawab pertanyaan gue dulu."
"Ya, apa? Temen doang tadi." alasan Livy.
"Udah kali Chel. Si Livy juga punya privasi." ujar Vanya yang berhasil membuat Achel lantas menepis rasa penasarannya jauh-jauh.
"Ya udah. Anyway, tante Cellyn manggil ke bawah tadi, makan." ucap Achel menyampaikan amanat Cellyn.
"Oh, oke." kata Livy yang berjalan duluan untuk masuk kembali kedalam kamar dan bertindak seolah tak terjadi apa-apa.
Bergegas menuju meja makan untuk menghindari pembicaraan tentang Saka dengan teman-temannya sekarang adalah tujuannya. Langkahnya semakin dipercepat saat dirinya menuruni tangga. Achel dan Vanya mengikuti, tetapi berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang. Sesampainya di meja makan, ia dikejutkan dengan kedatangan tamu tak diundang yang membuatnya terkejut bukan main.
"Long time no see, Liv." sapa sang lelaki sambil tersenyum manis.
Bersambung...
*:..。o○ ○o。..:*
Tbc
Hai, Hai! Selamat datang di ceritaku yang ke-2 ini. Maaf banget buat kesalahan penulisan atau kalah seandainya ada kata-kata yang kurang sopan apa gimana mohon dimaafkan. Aku human yang ga bakal bisa sempurna.
rate untuk cerita ini?
Maaf kalo ceritanya diluar ekspetasi, dan ga bagus. Makasih untuk perhatiannya and see u in the next chapter!
YOU ARE READING
Love?
Teen Fiction"Akankah cinta kita akan bertahan lama?" Takdir itu tak selamanya indah. terkadang kita dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya oleh seseorang, dan setelahnya di tinggal tanpa kepastian yang jelas.
