Frieska menoleh ke arah Bima yang duduk di sebelah kanannya. Sepasang suami-istri itu sedang menikmati tayangan film yang ada di layar televisi. Sebuah alur film yang mampu membuat Frieska terbawa suasana dan emosi yang diperankan oleh aktor-aktris ternama di Indonesia itu.
"Awas, ya!" teriak Frieska menatap tajam ke arah Bima.
Bima sontak saja menoleh dan menatap manis wajah istrinya. "Mana bisa aku melakukan hal itu. Istriku saja cantik seperti artis Korea," puji pria itu sambil menyentuh lembut dagu Frieska.
Tangan Bima semakin nakal, menjamah bibir Frieska. Namun, pada saat wanita dengan gaun cokelat itu mulai menikmati permainan suaminya, Arona tiba-tiba saja datang ke ruang televisi.
Kehadiran sang buah hati, terpaksa membuat Frieska dan Bima menghentikan aktivitasnya. Bahkan, mereka menjadi canggung dan tidak nyaman. Karena hal itu, Bima menggerutu dan sedikit kesal dengan Arona. Namun, pria itu tidak sama sekali memarahi anaknya.
"Arona, ada apa, Nak?" tanya Frieska sambil membetulkan pakaiannya yang terlihat kusut karena ulah suaminya.
Frieska menatap lurus ke arah Arona yang masih berdiri di sebelah kanan meja televisi dan membiarkan suaminya yang masih menggerutu. Tidak menunggu lama, wanita yang tengah mengandung itu menyuruh gadis kecil dengan baju tidur warna biru itu duduk bersamanya.
Arona tersenyum bahagia, lalu melangkahkan kaki mendekati kedua orang tuanya. Arona duduk di tengah-tengah ayah dan ibunya. Gadis berambut panjang hitam itu menatap Frieska dan Bima secara bergantian.
Arona memegang Frieska dan Bima secara bersamaan. "Ibu, Ayah, selalu bahagia dan bersama, ya," ucapnya sembari tersenyum manis.
Frieska menangguk, kemudian mencium pipi Arona penuh dengan rasa kasih selama tiga detik. Tidak sengaja, mata wanita itu melirik ke arah televisi yang masih menayangkan tontonan bertema rumah tangga. Dengan cekatan, Frieska mengambil remote dan mengganti stasiun televisi.
Bima menatap ke arah Frieska sangat dalam. Kemudian, pamit pergi karena ada urusan di luar. Katanya, ada konseling dadakan bersama pasiennya. Lagi-lagi, Frieska tidak bisa menahan suaminya agar tetap berada di rumah lebih lama lagi.
"Arona, Ayah mau pergi dulu, ya. Kamu jaga Ibu dengan baik," pamit Bima sembari mencium kening Arona dengan lembut.
Ucapan dari Bima membuat Arona melepaskan genggaman tangan dari kedua orang tuanya sambil tersenyum lebar ke arah ayahnya.
Bima berdiri dari duduknya, kemudian melangkah ke arah pintu. Dia mengambil jaket dan kunci dari gantungan yang ada di dinding sebelah kanan pintu. Tidak lama kemudian, Bima membuka pintu dan pergi meninggalkan rumah tepat pukul delapan malam.
Melihat pintu yang sudah tertutup kembali, Frieska kembali menatap ke arah televisi yang sudah berganti film kartun. Dia teringat dengan kejadian pada saat Arona datang secara mendadak.
Frieska meraih tangan kanan Arona. "Nak, apa yang kamu lihat tadi?" tanyanya dengan lembut yang mengenakkan telinga gadis kecil.
"Arona hanya melihat Ibu dan Ayah saling tatap," katanya meringis bahagia. "Ibu, memang kalau orang dewasa sudah menikah, harus seperti Ibu dan Ayah tadi, ya?" tanya Arona cukup membuat Frieska terkejut.
Frieska tersenyum kecil, lalu mengangguk pasrah. Dia berpikir, tidak perlu membohongi Anora mengenai aktivitas kecil yang sempat dilihatnya. Justru, Frieska berpikir untuk memberitahu tentah hal itu kepada sang buah hati secara mendetail.
"Ya, nggak harus, sih, tapi berpelukan, berciuman, itu perlu untuk kehidupan orang dewasa seperti Ibu dan Ayah. Jadi, kalau ada yang melakukan hal itu sama Arona, jangan mau, ya?" jawab Frieska dengan sabar.
YOU ARE READING
FRIESKA
RomanceFrieska selalu membayangkan bagaimana jika kaca riasnya retak atau bahkan pecah beribu keping. Mungkin, Frieska tidak akan mampu membenahi seperti semula. Sama halnya dengan cinta. Hati yang telah tersambar ribuan petir tidak akan bisa merah merona...
