"Mahh pokoknya aku gamau tinggal dirumah Haidar."
Seorang gadis yang tengah berbaring diatas ranjang, dengan kaki yang menjuntai dilantai. Mulut nya tak behenti mengomel dengan bibir mengerucut. Kakinya tak bisa diam naik turun bergantian seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Orangtua Nayara menyuruhnya untuk menginap dirumah Haidar selama sebulan. Karena perusahaan papahnya yang berada di Milan sedang ada masalah, papahnya harus turun tangan langsung. Sedangkan mamahnya ini selalu mengekor kemanapun papahnya pergi jika ada perjalanan bisnis. Bucin akut.
Dan Areta nama asli mamahnya tidak bisa membiarkan anaknya tinggal sendiri dirumah. Karena tau tingkah Nayara yang tidak bisa diam sehari dirumah, membuatnya khawatir. Masih dalam pantauan mereka saja Nayara sering kabur malam-malam dan pulang shubuh sebelum orangtuanya bangun.
"Kalo gamau tinggal dirumah Haidar yaudah mamah tinggal minta papah buat ga kasi uang kamu bulan ini."
Haidar adalah teman masa kecil Nayara. Dulunya mereka tetangga, tetapi pada saat Nayara umur 12 tahun mereka pindah rumah. Dikarenakan suatu masalah terjadi menimpa keluarga mereka. Tetapi itu tidak membuat hubungan dua keluarga tersebut jauh. Nayara sering mampir kerumah Haidar jika merasa bosan atau sebaliknya. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh sekitar 5km.
Laki-laki itu tidak seumuran dengannya, usia mereka selisih 3tahun. Nayara kelas 2 SMA, sedangkan Haidar sudah berkuliah semester 4. Jadi mereka tidak pernah 1 sekolah.
Haidar sangat lah baik pada Nayara, laki-laki itu selalu menuruti kemauan Nayara. Tidak pernah menolak jika Nayara suruh-suruh seperti babu. Tapi disisi lain ia tidak suka Haidar sangat lah posesif, jika menginap dirumah Haidar harus menuruti peraturan yang Haidar buat. Jadi Nayara tidak bisa keluar rumah seenak jidat. Jika melanggar peraturan gadis itu akan mendapat hukuman dari Haidar.
Nayara dan Haidar tidak ada hubungan spesial seperti sepasang kekasih. Mereka hanya teman atau sahabat, tapi Nayara selalu heran kenapa Haidar sangat lah posesif padanya. Karena Nayara sendiri tau jika Haidar tidak pernah menyukainya. Jika Nayara bertanya apakah laki-laki itu menyukai dirinya, jawaban Haidar dengan tegas tanpa berpikir menjawab tidak.
"Ihhh, mamah ga takut apa anaknya dimacem-macemin sama Haidar?"
"Yang ada kamu yang macem-macemin."
"Mana ada, Haidar tuh nakal mamah. Kalo pas mamah pulang aku perutnya besar gimana?"
Ctakk
Pulpen mendarat dikepala Nayara. "Ngawur kalo ngomong. Haidar tuh anak baik ga mungkin macem-macem. Mamah yang khawatir Haidar yang dihamilin kamu."
Areta sangat tau tingkah centil anaknya ini, jika Haidar menghamili Nayara tidak mungkin. Haidar dimatanya sangat kalem, baik, sopan, dan seleranya tinggi.
"Mamah kok fitnah anak sendiri. Pokoknya aku gamau tinggal disana, kalo sehari sih gapapa lah ini sebulan apaan. Haidar tuh galak mah ganas juga."
"Bilang aja gabisa keluyuran malem-malem. Udah pokoknya mamah gamau tau kamu harus nginep disana. Cepet beresin baju mamah tunggu setengah jam buat siap-siap. Mamah anter sekalian ke bandara."
Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya kesal, sebelum akhirnya beranjak menuju walk-in closet untuk bersiap-siap.
"Jangan salahin Nayara kalo mamah nanti tiba-tiba gendong dua cucu kembar." ucapan Nayara membuat Areta melayangkan protes.
Nayara memasuki walk in closet, langkahnya berjalan kearah koper yang berjejer. Matanya menilisik bingung koper mana yang ia perlu dibawa. Otaknya memilih koper pink yang berukuran sedang. Kakinya berjalan mendekati kursi panjang lalu mendudukan dirinya.
Pakaian apa yang perlu gue bawa.
Tiba-tiba ide muncul di otak cantiknya, membuat senyumnya terukir. Lalu berjalan kearah pakaian yang berisi baju tidur. Matanya menulusuri mencari pakaian yang dia cari. Saat menemukannya tangan Nayara terulur untuk mengambil tiga lingerie berwarna hitam, pink, dan merah maroon.
Ya, gadis itu berniat membawa lingerie untuk berjaga-jaga. Gadis itu sebenarnya bercanda pada mamahnya, Nayara masih sekolah mana mungkin mau nikah dini.
Lalu meraih baju tidur lengan panjang dan pendek tiga pasang juga. Nayara tidak akan membawa banyak pakaian, hanya 15 pasang pakaian termasuk seragam sekolah.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Nayara menggeret koper pink nya memasuki rumah yang berukuran cukup besar. Wajahnya masih ditekuk, dibelakang gadis itu ada Areta, Lion atau papah Nayara dan Arsyil mamah Haidar. Gadis itu seperti pemilik rumh berdiri paling depan, langkah kakinya berhenti. Mengeluarkan ponsel yang berada ditas slempang gadis itu. Guna menelfon seseorang.
"Gue dibawah cepet turun kak, gue dateng bukannya disambut malah enak-enakan tidur."
Tuttt.
Nayara memutuskan panggilan sebelum Haidar menjawab ucapannya. Kurang ajar sekali menyuruh-nyuruh pemilik rumah.
"Maaf ya syil sama kelakuan Nayara." ucap Areta pada Arsyil saat melihat tingkah kurang ajar Nayara pada si pemilik rumah.
Arsyil tidak mempermasalahkan itu, karena ia sudah menganggap Nayara seperti anak sendiri.
"Kaya sama siapa aja lo Ret, Nayara juga udah gue anggep anak."
"Semoga lo sabar ya ngadepin anak gue, dijaga Haidar nya takut Nayara macem-macem."
Nayara yang mendengar itu menoleh sinis kepada mamahnya. Kedua orang tua nampak tertawa. Tidak menghiraukan tatapan sinis Nayara.
"Gue macem-macemin beneran baru tau rasa."
Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga mengalihkan atensi Nayara. Ia membalikan badannya, melihat seorang laki-laki memakai celana hitam diatas lutut dibalut dengan kaos lengan pendek berwarna hitam juga.
Lemari pakaian laki-laki itu tidak semuanya berisi warna hitam, ada beberapa yang berwarna lain. Itu juga atas paksaan Nayara sendiri agar Haidar memakai warna lain. Tetapi sekarang laki-laki itu memakai pakaian hitam lagi.
"Lo kok pake item-item sih kaya mau nganter gue ke pemakaman."
Haidar melewatinya dan menghiraukan ucapan Nayara. Membuat gadis itu bertambah kesal.
"Hallo tante." sapa Haidar pada Areta lalu mencium telapak tangan Areta.
"Hai Haidar, kamu tambah ganteng aja."
"Biasa aja tante."
"Oiya Haidar tante nitip Nayara, jangan boleh keluyuran malem-malem kurung aja dalem kamar kalo bandel tuh anak. Terus kalo dimacem-macemin anak tante kamu bius aja."
Nayara mendengarnya melotot kearah Areta. "Apasih mamah, emangnya Nayara bakal ngapain!"
Gadis itu menghentakan kakinya kesal, lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya meninggalkan kopernya. Kamar yang biasa dia tempati saat menginap.
"Pokoknya jagain anak tante ya Haidar, jangan mau dimacem-macemin."
Haidar hanya tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Gue titip Nayara ya syil, maafin tingkah anak itu kalo bandel. Kabarin gue kalo ada apa-apa."
"Lo tenang aja Ret gausah khawatir, Nayara aman disini."
"Yaudah gue pamit dulu sama Lion." setelah sesi bersalaman Areta dan Lion lalu pergi meninggalkan rumah Arsyil.
"Mah, aku naik dulu nyusul Naya."
Arsyil tersenyum lalu mengangguk. "Tanyain Nayara udah makan belum, disuruh turun kalo belum makan."
Haidar mengangguk patuh, lalu berjalan ke arah koper pink. Membawanya keatas kekamar Nayara.
YOU ARE READING
Nayara
RomancePenolakan Haidar jika dirinya tidak menyukai Nayara membuat Nayara sadar bahwa teman masa kecilnya itu memiliki standar yang begitu tinggi. Alih-alih bertahan, gadis itu justru memilih perlahan mundur, terutama saat ia mulai menyadari debaran asing...
