your vote and comment means a lot! 💗
"Aaah jangan terlalu dalam gigitnya, Brian!"
Maura mendesah nikmat sekaligus menahan nyerinya kala Brian semakin dalam menggigit putingnya yang semakin mengeras. Brian tak memperdulikan itu, ia semakin kalap dengan terus mengecap payudara besar nan padat milik Maura, tak mengindahkan raungan dari Maura yang juga tengah duduk di pangkuannya.
Maura semakin panik ketika ia merasakan kejantanan milik Brian yang tepat menempel pada kewanitaannya semakin berkedut, seperti meminta untuk dipuaskan. Maura harus mengambil langkah tegas. Ia belai rambut milik Brian yang asik menyusu, lalu ia tarik dengan kuat rambut Brian tersebut sehingga membuat Brian mengerang kesal karena permainannya telah diganggu oleh Maura.
"Kamu apa-apaan, sih?!" Bentak Brian kesal. Menurutnya, ia sudah cukup bersabar selama ini dengan tak merasakan liang vagina milik Maura, selama ini mereka hanya bermain di bagian atas, ataupun paling mentok, hanya bermain dengan pakaian yang masih berada di tubuh keduanya.
"Kamu kebablasan nanti kalau aku ga berhentiin!" Balas Maura tak mau kalah, ia lalu bangkit dari pangkuan Brian, merapikan dress ketatnya yang tadi sudah diacak-acak oleh Brian. Brian balas memandang Maura sungut.
"Ya terus kapan aku boleh masukin, by? Aku udah ga tahan tau ga sih?" Suara Brian terdengar frustasi, ia sampai menarik-narik rambutnya sendiri, gemas akan Maura.
"Ya kamu berani ga nikahin aku?"
Skak mat!
Brian terdiam.
"Ga berani, kan? Makannya jangan coba-coba!" Maura menatapnya nyalang. Ia memang bukan perempuan baik-baik, tapi sebisa mungkin prinsip sex before marriage harus selalu melekat pada dirinya.
"Kolot tau ga pemikiran kayak gitu? Kayak kamu udah paling bener aja." Sanggah Brian dengan setengah kesal, lalu melirik vape yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.
"Emang aku ga bener, makannya harus dibenerin! Kamu bukannya nuntun aku ke jalan yang lebih baik, malah ngejerumusin!"
Brian berdecak sebal sambil mengeluarkan kepulan asap Vape nya. Matanya melirik Maura yang tengah mengalungkan slingbag ke lehernya, seperti berniat akan pulang.
"Dah ya aku pulang dulu, males disini lama-lama, emosi mulu kamu tuh."
Sebelum Maura bangkit meninggalkannya, Brian menarik tangannya, membuat Maura yang tak siap, kembali jatuh kedalam pelukan Brian.
"Ya ya, aku minta maaf sih. Besok-besok janji deh ga gini lagi." Brian memeluk tubuh Maura, mencium aroma sampo yang terasa sangat wangi pada rambut milik kekasih. Maura tersenyum manis mendengarnya. Brian selalu seperti itu, selalu tau cara agar ia luluh.
"Iya deh dimaafin, tapi janji loh ya? Nanti di sunat lagi kalau ngaceng kayak tadi!" Ujar Maura sedikit vulgar membuat Brian melotot tak percaya. Brian lalu melonggarkan pelukan mereka, menyentil mulut Maura pelan.
"Heh! Siapa yang ajarin itu ngomong gitu?" Gemas Brian. Bibir Maura mengerucut sebal.
"Temen-temen kamu lah, Junior sama Gino tuh paling sering!"
"Wah harus dikasih pelajaran kayaknya tuh orang dua."
Setelahnya mereka pun tertawa bersama.
*****
Maura kini tengah berada dalam mobilnya,
BMW M4 Coupe, sebuah mobil yang ia dapat dari hasil kerja kerasnya sendiri. Sehabis pulang dari apartemen milik Brian tadi, ia segera menyetir mobilnya untuk bergegas pulang. Memang Brian bukanlah tipikal pacar yang senang mengantar pulang Maura, ia lebih senang jika mereka berdua pergi bersama ke suatu tempat. Tak masalah bagi Maura, ia senang menyetir mobilnya.
YOU ARE READING
Not for you
Teen Fiction21+ (ADULT ROMANCE) Follow akun ini terlebih dahulu biar part nya gak hilang Pertemuan pertama antara Maura dan Kiano membuat Maura menyadari bahwa dirinya mulai merasakan adanya getaran hati pada dirinya kala bersentuhan dengan Kiano. Maura, si...
