“saat ini rasanya aku bangga jadi diriku sendiri, bisa menyicipi segala hal tentang bahagia, mulai dari keluarga, pertemanan hingga percintaan, tapi satu hal yang kuharap semoga allah tidak memberiku kejutan yang begitu menyakitkan suatu hari nanti”
Ayra masih terlelap dalam tidurnya hingga tak sadar kalau adzan telah berkumandang dengan jelasnya, Zira yang melihat kepulesan temannya tidur juga tidak tega untuk membangunkannya, mengingat tadi Ayra memang sangat kelelahan selepas dari kampus ia langsung masuk kerja yang ternyata dia harus lembur hari itu juga.
“ya allahh, astgfirullah”
Ayra bangun dengan ketakutan, peluh keringat membasahi wajahnya, ia terus mengucap istigfar. Ziya yang baru kembali dari kamar mandi langsung kaget mendapatkan temannya sudah bangun akan tetapi penuh dengan keringat.
“kenapa ra? Kamu kepanasan ya, itu keringet kamu banyak banget” Tanya Dira
“aku bukan kepanasan tapi ….” Ayra terdiam tidak melanjutkan ucapannya
“tapi kenapa ra?” Tanya dira lagi dengan tatapan heran, tiba-tiba Ayra menangis
“eh ra kamu knp? Knp nangis? Coba cerita pelan-pelan” katanya sembari mengelus-elus pundak ayra
“aku mimpi buruk dir, aku gamau mimpi itu terjadi hiksss”
“aku mimpiin ayah aku meninggal” ucapnya dengan tangis
“ga mungkin ra itukan cuman mimpi, kamu tau sendiri kan kalau mimpi tuh buah tidur, jadi gabakalan terjadi dikehidupan nyata kita, so udah ya gausa nangis lagi” ucap dira berusaha menenangkan ayra.
Seminggu telah berlalu tapi pikiran ayra masih tidak berlalu mengenai mimpi buruk itu, mimpi itu terus saja menghantuinya, bahkan membuat ayra jadi tidak fokus kala bekerja. Ayra duduk diam diteras cave tiba-tiba dering hpnya terdengar, terpapang jelas nama sang ibu tertera dipanggilan telfon itu.
“assalamu’alaikum halo bu”
“wa’alaikumussalam nak hikss” terdengar disebarang sana sedang ramai dan sang ibu terdengar menangis
“loh ko ibu nangis, ibu kangen ayra ya?” tanyanya memastikan
“sayang kamu harus ikhlas ya hikss…”
“ikhlas kenapa bu?” tanyanya khawatir
“aku ga sanggup ngomongnya hikss”
“yasudah biar aku saja yang ngomong ke ayra” terdengar ibunya sedang berbicara dengan orang yang ia kenal sebagai omnya.
“kenapa om? Ibu kenapa nangis”
“kamu harus ikhlas ya nak, ayah kamu sudah tenang dialam sana, allah udah manggil ayah kamu”
Ayra mematung, tak ada respon yang ia berikan pada omnya, ia menangis tapi masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, kabar duka yaitu dari ayahnya sendiri.
Mulai dari sinilah setelah kematian ayahnya, kehidupan ayra semakin diselimuti kesedihan, ujian datang tak ada hentinya membuat ayra mengalami depresi.
*******
Ini cerita pertama aku, bismillah bisa melanjutkan cerita ini dengan tepat waktu.
Beri aku semangat dengan bintang dan follow dari kalian ✨
PENASARAN DENGAN KISAH HIDUP AYRA? YUKK TETAP STAY DISINI YA.
AKU BAKALAN UPDATE SECEPATNYA!!
see u semoga kalian suka ya ❤
YOU ARE READING
Ayra
Short Story"FOLLOW SEBELUM BACA" Ayra Monera Dalarisa atau kerap disapa Ayra, seorang perempuan cantik dengan jilbab segi empat yang selalu ia kenakan, sosok yang cuek tapi perhatian, cerdas juga cerewet. Ayra berusia 17 tahun yang menginjak kelas 3 SMA, ia me...
