Berdatu Picisan

2 2 0
                                        

"Kamu kalah."

Aryo Warsawitama tersenyum puas atas kemenangannya. Keinginannya untuk  memiliki cucu akan segera terpenuhi. Taruhan aneh antara ayah dan putri sulungnya ini sulit dimengerti. Sehingga istri dan anak bungsunya tak dapat menghentikan mereka.

"Ayah, tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Pasti kali ini aku akan berhasil." ucap Lyra sembari meyakinkan.

"Ayah sudah beri kamu keringanan. Jadi penuhi kesepakatan awal."

"Tapi yah..."

"Ayah tidak melarang kamu mengejar impianmu. Tapi kali ini kamu harus mengerti kak, perjodohan kalian sudah diatur sejak awal. Jadi kita harus memberikan kepastian."

"Alasan, yakin bukan karena pengen punya cucu?" ucap sang istri, Rosalina.

"Itu juga salah satu alasannya hehehe."cengiran Aryo penuh wibawa.

"Kenapa gak Andre aja yang dijodohin."

"Idiih ngapain aku di bawa-bawa."

"Mereka hanya punya putra tunggal."

Andrian Lyra Witama terjebak taruhan dengan ayahnya sendiri. Lyra memiliki kemampuan yang baik di bidang akademik, banyak orang yang menyayangkan keputusan Lyra yang menolak beasiswa. Setelah lulus SMA 3 tahun lalu, Lyra memutuskan untuk tidak langsung melanjutkan kuliah karena ingin fokus berkarir sebagai seorang penulis. Tak berlangsung lama setelah karya debutnya yang best seller, ia pun memutuskan berhenti menulis karena suatu alasan dan beralih mencoba berbagai bidang lainnya. Namun tak ada satu pun yang membuatnya merasa cocok. Nyaris setahun ini, Lyra menjadi 'penunggu' rumah sembari berharap sekarung uang jatuh dari langit.

Sejak tahun lalu Lyra terjebak taruhan dengan ayahnya. Jika Lyra tidak mendapatkan pekerjaan atau pacar dalam tempo yang ditentukan maka ia harus menerima perjodohannya.

"Jadi kak, sesuai dengan kesepakatan karena kamu gagal. Kamu akan kuliah dan menerima perjodohan."

"Iya deh aku kuliah tapi yah aku baru 22 tahun masa nikah sama om-om. Inikan bukan jaman Siti Nurbaya lagi."

Lyra beranggapan di usia awal 20 tahun adalah saat-saat penting baginya. Sebenarnya dia tidak terlalu ambil pusing jika dijodohkan, tapi ia keberatan jika harus menikah dengan  pria yang berumur lebih tua 7 tahun darinya. Ayolah, setiap orang pasti punya standar masing-masing kan? dan baginya calon suaminya itu sudah seperti om-om meski dia belum pernah bertemu secara langsung.

"Lyra, ibu dan ayah mengharapkan yang terbaik untuk mu. Tapi maaf, perjodohan ini tidak bisa dibatalkan."

Rosalina menggenggam tangan putrinya dan menatap sendu. Rosalina tau betul kelemahan putrinya.

"Huuffhh... Baiklah."

"Malam besok, kita akan mengadakan pertemuan keluarga."

...

Ruang rawat inap yang dominan berwarna putih. Terbaring seorang wanita berumur. Ia mengelus lembut rambut pemuda yang tertidur di sisi ranjang.

Secara perlahan pemuda itu membuka matanya, dan tersenyum tipis.

"Nenek, sudah bangun?"

"Iya, sebaiknya kamu pulang dan istirahat."

"Tidak, aku akan disini sebentar lagi."

"Kamu pasti lelah jadi pulanglah."

"Jangan pikirin itu, sekarang nenek harus sembuh dulu."

"Regis, hubungilah ayah mu sesekali."

Pria yang dipanggil Regis itu terdiam sejenak. Ia kembali merapikan selimut dan memberikan air ke wanita berumur itu. Regis hanya tersenyum menanggapi ucapan neneknya.

"Kalian berdua itu terlalu kaku. Bicara hanya saat penting saja. Sesekali kalian perlu bicara santai layaknya anak dan orang tua."

Drrt drrt

Terlihat jelas di layar ponsel terdapat panggilan telepon dari seseorang. Regis menunjukkan ekspresi tanpa berniat mengangkat panggilan tersebut

"Tunggu apalagi ? Angkat telpon ayah mu."

Tut...

"Dimana ?"

"Rumah sakit"

"Besok malam, kosongkan
jadwal."

"..."

"Berikan pada nenekmu."

"Halo?"

"Gimana keadaan ibu?"

"Aku baik-baik saja, keadaanku
semakin membaik."

"Syukurlah. Aku akan
ke sana nanti."

"Iya."

"Besok akan ada pertemuan
keluarga dengan pihak 'sana'.
Mereka sudah menetapkan pilihan."

"Baguslah, padahal aku
juga ingin datang.

"Jangan khawatir."

"Kamu ingin bicara
dengan Regis lagi kan?

Tanpa mendengar jawaban lawan bicaranya, wanita berumur itu segera mengembalikkan ponsel ke cucunya. Namun, Regis segera mematikan panggilan.

Tutt

"Sudah, itu aja ? Kalian berdua ini." Wanita paruh baya itu memasang wajah kesal dengan sikap keduanya.

"Pulanglah, kamu kan harus kerja besok." Dengan wajah cemberut sembari mengibaskan tangannya, ia berharap cucu nya ini segera istirahat di rumah.

"Baiklah, aku akan ke sini lagi nanti. Hubungi aku jika nenek butuh sesuatu."

"Iya... Iya.. Sana pulang."

Berdatu PicisanStories to obsess over. Discover now