Chap 1 Gosip

50 3 0
                                        

Sore itu, suasana warkop di pojok jalan tampak cukup ramai. Empat remaja laki-laki berseragam abu putih sedang duduk melingkar di meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas. Asap dari gorengan panas mengepul, berbaur dengan suasana sore yang mulai meredup.

​"Sumpah, tugas Fisika Pak Surya beneran harus dikumpulin besok?" Sean Elland Yeidara cowok tempan itu mengeluh sembari memijat pelipisnya. Ekspresi wajahnya tampak frustrasi, seolah rumus-rumus fisika adalah beban paling berat dalam hidupnya.

​Gandhi Andreas Harmono yang sedang duduk dengan posisi kaki naik ke kursi, tertawa kecil. Ia menatap temannya itu dengan pandangan geli, "Ya dikumpulin lah, bego. Emang lo mau dapet nilai E lagi terus harus remedial sendirian?"

​"Ya habisnya gue nggak paham sama sekali, Ndi. Otak gue beneran mentok kalau udah bahas rumus kayak gitu." balas Sean dengan nada memelas.

​Di sampingnya, seorang cowo playboy kelas teri yang hobby flirting bernama Kenzo Areond Aditya itu tengah sibuk menatap layar ponselnya, sesekali merapikan tatanan rambutnya dengan jari.

"Gue sih udah pasrah. Paling nanti juga gue tinggal nyalin punya Gerland. Otak gue isinya cuma list cewek yang mau gue ajak jalan pas weekend, bukan buat ngitung percepatan benda jatuh." ujar Kenzo enteng.

Vernando Noah Trapasipta cowok itu duduk paling tenang tampak sedang menikmati gorengannya tanpa beban, "Gausah binggung, gausah pusing, kita nanti nyontek si Gerland." ucapnya sambil mengunyah bakwan.

​"Gerland mana Gerland?" tanya Kenzo celingak-celinguk.

​"Tuh, lagi nunggu jemputan. Tumben banget dia nggak bawa motor sendiri." tunjuk Gandhi ke arah cowok tinggi yang lagi berdiri di depan pintu warkop.

​Gerlandra Vrismo Adikusuma, pria tampan yang hanya ingin hidup tenang akhirnya jalan mendekat ke meja mereka. Tingginya yang hampir 185 cm membuatnya terlihat paling mencolok di antara temen-temennya yang lain.

Cowok itu duduk, menaruh tasnya, lantas menatap mereka satu per satu dengan tatapan datar yang ikonik dan khas.

​"Ngapain lo pada bahas tugas? Udah selesai?" tanya Gerland santai.

​"Belum! Si Sean sama Kenzo nih, otaknya mampet." adu Gandhi tertawa meremehkan.

​"Dih, lo juga! Tadi gue liat jawaban nomor lima lo salah, Ndi. Sok pinter amat." timpal Kenzo nggak mau kalah.

Gerland hanya tertawa pelan, "Udah, nanti gue kirim ke grup chat, jangan disamain persis tapi, biar nggak keliatan kalau satu sumber."

​"Nah, ini baru Bos gue! Cinta banget dah." kata Noah sambari ingin memeluk bahu Gerland, tapi langsung didorong pelan sama cowok itu.

​"Najis, jauh-jauh lo, No. Bau bakwan." ledek Gerland, yang langsung disambut tawa pecah mereka, berbeda dengan Noah yang sudah di dorong menjauh itu berdecih. Memilih mojok sembari memakan gorangan.

Gandhi yang tengah memainkan korek api di sela jarinya, tiba-tiba memajukan tubuhnya ke tengah meja. Matanya menyipit penuh antusiasme yang tertahan.

​"Woy, lo pada denger something nggak soal Citra 12 IPA 3?" tanya Gandhi dengan nada berbisik yang sengaja dibuat dramatis.

​Kening Kenzo terangkat penasaran, ia langsung menoleh, dan mematikan ponselnya, "Citra? Kenapa lagi tuh cewek? Bukannya dia lagi rajin-rajinnya belajar buat olimpiade?"

​Tawaan sinis terdengar, "Rajin belajar mata lo! Dia nggak masuk dua minggu ini bukan karena sakit tipes, tapi gara-gara dia lagi isi. Perutnya udah mulai kelihatan." jawab Gandhi.

​Sean yang tadinya menyandarkan punggung langsung menegakkan tubuh terkejut, "Sumpah? Citra yang sok alim itu? Anjir, gacor juga tu anak."

​"Siapa yang hamilin?" tanya Noah, tangannya berhenti menyomot gorengan.

Sircel SengklekCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang