"Kirana, bangun. Kamu harus sekolah". Senin pagi yang suram. Yah setidaknya itulah yang Kirana rasakan sekarang. Bangun di pagi hari, terlebih hari ini adalah hari Senin, rasanya sangat berat.
"Kirana!"
"Iya, mama. Aku bangun!" Jawab Kirana dengan nada tak kalah tinggi.
"Cepat mandi, lalu turun sarapan. Kamu bakal telat kalau engga buru-buru" Kirana menghela napas begitu mamanya menyelesaikan kalimatnya. Ah, dia sangat membenci ini semua. Sekolah, bangun pagi, mandi di pagi hari, dan hal-hal yang biasa dilakukan di pagi hari, Kirana sangat membencinya.
Tapi, bukan berarti dia tidak melakukan semua hal di atas. Dia tetap melakukannya, walaupun agak terpaksa.
Buktinya, setelah dia benar-benar terbangun karena teriakan Diana—mamanya, sekarang dia sudah berada di dalam kamar mandi. 10 menit kemudian perempuan itu sudah rapih, dan langsung turun ke bawah untuk sarapan.
"Baru sekolah 1 bulan aja, masa udah males-malesan" Ucap Diana ketika Kirana baru sampai di meja makan.
"Baru sampe, udah disindir" Jawab Kirana malas. Sejujurnya, dia masih mengantuk.
"Ini ngasih tau, bukan nyindir. Kamu gak lupa kan perjuangan kamu buat masuk ke sekolah itu?"
"Engga ma, ga bakal aku lupain itu semua. Cuma-"
"Cuma kamu begadang semalem karena nonton anime, kan?" Belum selesai Kirana berbicara, Diana lebih dulu memotong kalimatnya.
"Dih sotoy. Kata siapa aku nonton anime?"
"Ya emang, kan? Nangisin siapa lagi kamu?"
"LOH KOK MAMA TAU?"
"Kamu nya aja yg ga tau diri kalo nangis. Nangis sambil mukul mukul tembok, emang kamu kira ga bakal ada suaranya?"
"Hehe"
Faktanya semalem Kirana emang bergadang, dan benar nonton anime. Dia nangis sampe mukul-mukul karena kesel, udah karakternya mati tapi villain-nya ga mati. Jadilah dia menangis sejadi-jadinya. Suara pukulannya terdengar hingga ke telinga Diana yang sudah terlelap. Bahkan sampai terbangun karena anak perempuannya.
"Langsung berangkat, pak nanang udah siap" Kirana langsung bergerak setelah mendengar perintah dari Diana. Dia bergegas mengambil tas, memakai sepatu lalu pamit untuk berangkat sekolah.
Sudah satu bulan sejak Kirana masuk SMA incarannya, SMA Angkasa. Masuk ke SMA itu bukanlah suatu hal yang mudah. SMA Angkasa adalah sekolah unggulan, apalagi fasilitas yang disediakan membuat banyak orang ingin masuk kesana. Bersyukur Kirana bisa bertahan di berbagai tes sebelum masuk, dan berhasil menjadi murid SMA Angkasa.
Tidak sampai 20 menit, Kirana sudah menginjakkan kakinya di gerbang sekolah. Kirana datang agak siang hari ini, jadi begitu Kirana masuk sudah banyak siswa dan siswi di lingkungan sekolahnya.
Begitu pun ketika sampai di kelas MIPA 1, kelas Kirana berada, banyak siswa maupun siswi yang sibuk dengan kegiatannya masing masing.
"Oi, na, tumben baru dateng" Ucap Diego, si ketua kelas ketika Kirana baru sampai.
"Kesiangan, abis marathon anime semalem" Jawabnya jujur.
"Lu dicariin tau"
"Sama?"
"Temen lo lah, siapa lagi" Jawab Diego.
Kirana sudah menebak siapa yang mencarinya, siapa lagi kalo bukan Zea, Adara dan Chayra.
Karena dia malas, bukannya balik mencari ketiga temannya, dia malah duduk di kursinya sembari menunggu temannya datang. Toh, mereka juga pasti bakal kembali ke kelas kan?, Pikirnya.
YOU ARE READING
Choice
Teen Fiction"Gue gatau harus percaya sama siapa" -Kirana Azalea Maulvi "Percaya sama gue, ki" -Nabil Ray Aesleendro "Gausah dengerin dia, dia yang jahat disini" -Aqastya Stevenio Anggara Begin : 7 Juli 2022 Ending : -
