We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Zeroth

275 17 0
                                        

Arka menghela napas menatap kursi kosong dimeja makan tempatnya duduk saat ini. Menerawang jauh sebelum satu persatu anggota keluarganya pergi dari genggamannya.

Memang mulainya hanya si sulung, Diana yang diboyong Mahesa tiga tahun lalu. Dan bisa dihitung sejak itu pula kursi itu perlahan jarang diduduki personil aslinya. Tapi juga tidak membuat meja itu kehilangan hangatnya. Justru Diana menambah Mahesa sebagai anggota baru mereka. Sangat hangat, hingga Arka merasa tak akan ada yang berubah meski kakak-kakaknya mulai sibuk dengan masa depan mereka.

Walau saat itu, Bian kakak keduanya juga sudah mulai membantu bisnis sang papa. Sampai kakak ketiganya, Ciko yang ikut sibuk mempersiapkan pendidikannya di London. Sedikitpun hal itu tak membuat Arka khawatir.

Karena ia tahu, semua orang akan selalu dan ingin duduk mengelilingi meja makan ini. Merindukan tempat ini. Semua makanan yang tersaji di atas sana. Bahkan suasana riuh yang mengganggu aktivitas makan mereka karena ulah si jail Arka atau sekedar meledek satu sama lain.

Semua orang pasti tak akan pernah rela ingkah dari kehangatan ini. Arka yakin.

Sangat yakin.

Sampai akhirnya sakitnya malaikat keluarga itu dua tahun lalu membuat semuanya terasa menyakitkan.

Meja makan itu ada dihati keluarga ini. Jadi mana mungkin seseorang akan sesak ditempatnya biasa melepas penat. Karena itu sekali saja ingkah, bisa dipastikan orang itu tak akan kembali sama.

Desi meninggalkan keluarga tercintanya untuk selamanya. Pergi ke tempat terjauh yang tidak bisa diraih siapapun. Membuat pedih dan tanpa bisa di tangkis luka itu tiba-tiba hadir dihati mereka.

Arka yang masih duduk di bangku tiga SMP, atau tepatnya berusia lima belas kala itu. Menyaksikan satu persatu anggota keluarganya hilang. Kursi-kursi kosong itu sudah tak akan terisi lengkap kembali. Arka disana ditinggalkan berkali-kali tanpa diraih.

Diana benar-benar jarang main lagi ke rumah itu dengan beralasan buah hatinya masih rentan untuk perjalanan Surabaya-Jakarta. Padahal saat hamil besar dulu Diana masih mau main ke Jakarta.

Bian juga memilih tinggal di apartemen. Berdalih terlalu letih jika harus menempuh jarak rumah dan kantor setiap hari. Beralibi memiliki banyak hal penting yang akan tertunda diperjalanan termasuk waktu istirahanya.

Ciko jangan ditanya. Ia bahkan sangat tega pada Arka. Liburan semester pun Ciko tak mau pulang. Padahal dulu rasanya Ciko tidak sungkan menghabiskan uang sang papa dengan perjalanan Inggris Jakarta perbulannya.

Memang Arka masih punya Tama —papanya. Tapi apa yang bisa Arka harapkan dari pria kolot yang gila kerja itu? Semasa Mama nya ada saja papanya sangat sibuk. Tak jarang pergi saat Arka masih tidur dan pulang saat Arka sudah tertidur kembali.

Kini pria itu makin mahir menyibukkan diri. Pulang tiga hari sekali, seminggu sekali sampai yang terparah hanya pulang dua kali dalam sebulan. Walau tak sering namun bisa Arka pastikan, presensinya tetap jarang Arka temukan.

Benar-benar hanya tersisa Arka disana. Memandang kosong meja yang tidak terisi apapun dan kursi yang tidak terisi siapapun.

Arka bisa saja ikut pergi. Pergi seperti orang-orang disana dengan membawa jutaan alasan. Pergi dengan perasaan tak ingin kembali. Pergi melupakan tempat ini.

Tapi, beri alasan Arka harus melakukan itu.

Apa bisa Arka meninggalkan dunianya juga? Lagipula kemana Arka harus pergi jika tempatnya pulang ada disini. Meski penjaga pintu itu sudah lama mengundurkan diri.




-tbc-





Meja Makan - Zeroth

Genre: Family

Sub-genre: Angst

©siireo

06|| 25

The present:

Lee Sangwon as Adimas Arkana


Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Meja MakanStories to obsess over. Discover now