prologue

391 270 298
                                        

LANGIT kelam di atas sana masih sama pekatnya seperti biasa. Tetes gerimis mengalun bernada, bersama siulan angin mereka menyatu. Malam ini, suasana begitu tenang. Sama seperti teduh kelabunya yang menerawang ke depan. Mendesak penglihatannya untuk tetap terjaga. Meski tahu. Sudah tahu betul, jika yang dilakukannya hanyalah tangan hampa.

Air mata anak itu jatuh dari sudut. Pertahanannya pun perlahan mulai runtuh. Dia merasakan sakit di sekujur tubuh akan tetapi lidahnya seakan kelu untuk mengeluarkan rintihnya.

Menit kembali berganti, namun sepi enggan menepi. Di tengah lenggangnya jalan sana, dia terkapar ditemani sepi. Waktu belum begitu larut. Namun kesadarannya kian menurun. Dingin gerimis yang berjatuhan di atas tubuhnya tak lagi terasa. Bau anyir darah yang menyeruak juga tak lagi tercium di indera pembaunya. Pun napas yang berderu pelan itu, kini tidak lagi terdengar konstan.

Pelan-pelan semuanya mulai memudar, bersama janji yang lagi-lagi harus dia buat ingkar. Dan setelah ini, dia harus mengakui, jika hadirnya nanti bukan lagi untuk membawa suka, melainkan untuk menambah duka.

Lagi. Air mata anak itu turun dari sudut untuk yang terakhir kali dalam hidupnya. Samar-samar dia mendengar makian seseorang—yang sempat dijanjikannya untuk bertemu beberapa menit lalu—dari sambungan telpon yang kini tergeletak mengenaskan di samping kiri kepalanya.

Membawa sesal dan sesak dia biarkan kelopak matanya memejam secara perlahan, bersama hembusan napas ringan yang turut menghilang.

".... anjing banget, ya, lo! Mati kek sono."

06-04-2022

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

06-04-2022

THE BLANCWhere stories live. Discover now