KEHIDUPAN DI BALIK KEMEWAHAN

15 1 0
                                        

Pagi itu, cahaya mentari menyelinap lembut melalui celah tirai putih di kamar Amara Belina Alatas. Di dalam kamar yang luas dengan interior klasik modern itu, easel berdiri kokoh di dekat jendela, dihiasi dengan kanvas yang masih setengah jadi. Amara duduk di kursi kecil di sampingnya, menggenggam kuas yang terhenti di tengah goresan. Sebuah bunga dandelion tergambar indah, seolah menunggu sentuhan akhir.

Jam dinding berbunyi pelan, menunjukkan pukul 06.15. Amara memandangi lukisan itu dengan pandangan kosong. Ponselnya tergeletak di meja, tanpa pesan baru dari kedua orang tuanya. Dengan helaan napas pelan, dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah selesai bersiap, Amara turun ke ruang makan. Aroma roti panggang dan kopi menguar dari dapur. Di meja makan yang panjang, berbagai makanan lezat tersaji, tapi tak ada satu pun anggota keluarga yang menemani.

"Non Ara, sudah siap sarapannya," ujar Bibi Rani, seorang wanita paruh baya yang bekerja di rumah keluarga Alatas sejak Amara kecil. Suaranya lembut, penuh perhatian.

Amara tersenyum tipis. "Makasih, Bi."

Dia duduk di ujung meja, mengambil sepotong roti panggang dan sedikit selai stroberi. Pandangannya melayang pada kursi-kursi kosong di sekeliling meja. Ayahnya, seperti biasa, sudah berangkat ke kantor sejak subuh, dan ibunya sedang berada di luar kota untuk acara sosial.

"Bibi nggak sarapan?" tanya Amara sambil mengoleskan selai ke rotinya.

"Ah, bibi udah tadi pagi, Non. Sekarang bibi mau siapin barang Non buat sekolah."

Amara hanya mengangguk pelan. Setelah beberapa suap, dia meletakkan roti itu kembali ke piring. Rasanya, selera makannya menguap begitu saja.

Di sekolah, koridor dipenuhi dengan murid-murid yang saling bercanda, berlari, dan berbicara dengan semangat. Namun, Amara berjalan perlahan, menghindari keramaian.

Sampai di kelas, dia langsung menuju tempat duduknya di pojok dekat jendela. Di sinilah dia merasa paling nyaman, dengan pemandangan langit biru yang seolah membisikkan ketenangan.

"ARA!" suara ceria Bella terdengar dari pintu kelas. Bella langsung menghampiri dan meletakkan tasnya di kursi sebelah Amara.

"Kenapa sih lu selalu dateng lebih pagi dari gue?" Bella tertawa kecil sambil mengeluarkan sebatang cokelat dari tasnya. "Tuh, buat lu. Gue tau lu nggak sarapan banyak di rumah."

Amara menatap cokelat itu, lalu tersenyum kecil. "Makasih, Bell. Lu baik banget."

Bella tertawa lepas. "Ya iyalah. Gue kan sahabat paling baik sedunia!"

Amara hanya menggeleng pelan, tapi senyumnya sedikit lebih lebar kali ini. Bella memang selalu berhasil membawa sedikit warna ke dalam harinya yang sering terasa abu-abu.

***

Saat jam istirahat, Bella menyeret Amara ke kantin. Meski Amara sering merasa canggung di tempat ramai, dia tak pernah menolak jika Bella yang mengajaknya. Di tengah keramaian kantin, Amara mendapati pandangannya teralihkan pada Rafael, teman sekelasnya yang duduk di meja seberang.

Rafael sedang tertawa bersama teman-temannya, tapi tatapannya sesekali melirik ke arah Amara. Ketika mata mereka bertemu, Rafael tersenyum tipis. Amara buru-buru memalingkan wajahnya, pura-pura tidak peduli.

"Dia liat lu lagi," bisik Bella sambil menyikut pelan Amara.

"Siapa?" tanya Amara, meski dia tahu siapa yang dimaksud Bella.

"Rafael lah. Lu pikir siapa lagi? Gue liat dia sering banget ngelirik lu, Ara. Gimana? Lu ada rasa nggak?"

Amara menggeleng cepat. "Gue nggak mikirin yang kayak gitu, Bell. Jangan sotoy."

Bella menatap Amara dengan tatapan menyelidik, tapi akhirnya dia tertawa. "Ya udah deh. Tapi kalo nanti lu butuh bantuan soal Rafael, bilang ya!"

Amara hanya mendengus pelan. Dalam hatinya, dia merasa bingung. Kenapa Rafael sering menatapnya seperti itu? Apa dia salah paham tentang sesuatu?

***

Hari itu berlalu dengan cepat. Ketika Amara sampai di rumah, langit mulai berubah jingga. Dia langsung menuju kamarnya, melepas seragam dan menggantinya dengan pakaian santai. Pandangannya tertuju pada lukisan dandelion yang masih tergantung di atas easel. Dia duduk di kursi kecil, mengambil kuasnya, dan mulai melanjutkan goresan.

Bunga dandelion itu mulai terlihat lebih nyata, seperti siap terbang terbawa angin. Di dalam hati Amara, dia bertanya-tanya, apakah dia juga seperti dandelion itu? Rapuh, tapi tetap berdiri tegak.

Bibi Rani mengetuk pintu pelan. "Non Ara, ada yang bisa bibi bantu?"

Amara menoleh, tersenyum. "Nggak, Bi. Makasih."

Bibi Rani hanya mengangguk, lalu menutup pintu kembali. Kamar itu kembali sunyi, hanya diisi dengan suara lembut kuas Amara yang menyentuh kanvas.

Di balik semua warna yang dia tuangkan di atas kanvas, Amara merasa ada bagian dari dirinya yang tak bisa dia lukiskan. Sebuah kehampaan yang selalu hadir di saat-saat seperti ini.


Hai 👋

Gimana part pertama ini? Seru gak? Tinggalkan komentar ya

Ini cerita ke dua aku semoga aku bisa rutin up

Dan jangan sampe lupa buat vote dan follow akun ini dan akun sosial yang lain ya..

Terimakasih banyak yang telah membaca semoga menghibur dan semoga menambah wawasan juga.

Maaf kalo masih banyak typo nanti akan ada waktunya untuk revisi apalagi cerita aku masih berantakan banget

Yang mau ngasih saran boleh banget langsung chat ya

Udah segitu dulu jangan lupa jaga kesehatan, pakai pakaian hangat jika keluar saat malam hari dan selalu memakai masker ya.

Sekian terimakasih

Salam hangat

ALENAF19 😉

AMARA (ON GOING)Stories to obsess over. Discover now