-EPHEMERAL-
"Si Gendut ini udah mulai berani memberontak, ya?"
Di sudut tempat paling terpojok atau jarang sekali dilalui orang-orang, tiga orang siswi tengah melakukan perundungan pada seorang siswi yang tak lain teman sekolah mereka. Siswi yang berada posisi terbawah dari mereka itu tampak ketakutan, tidak tahu harus melakukan apa saat dikondisi seperti ini.
Satu di antara mereka menyiram sisa minuman yang tersisa miliknya ke kepala siswi itu, mereka tertawa layaknya tak memiliki rasa kasihan. Hal ini bukan sekali dua kali terjadi padanya dan juga orang yang sama, tetapi entah mengapa rasa takut yang ia rasakan lebih besar dari rasa keberaniannya.
"Lo pantes diginiin!" teriak orang yang menyiramnya.
Siswi yang lebih dominan di antara mereka mulai mendekat dan menarik kuat rambut gadis itu. "Lo udah berkali-kali kita bilangin, jangan sesekali ngebantah perkataan kita!" bentaknya, tangannya menghempaskan renggutan rambut gadis itu.
Berkali-kali gadis itu meminta ampun, namun hanya dihiraukan dan tak dianggap. "Maaf..." lirihnya. Kata itu terus ia ucapkan. Melawan hanya akan membuatnya semakin terkukung.
"Cih! Bisanya cuman minta maaf, terus diulangi lagi besok." Begitu ringan tangannya membentur kepala siswi itu ke tembok yang menjadi sandaran tubuhnya yang mulai terkulai lemah.
Sakit, tentu saja sakit yang ia rasakan. Namun, ia hanya bisa menangis dalam diam menahan rasa itu.
"Gue tekankan sama lo, jangan sesekali melawan apa kata gue, paham?" kata siswi itu. Lalu ia hanya bisa mengangguk, ia menahan rasa sakit di kepalanya karena benturan yang ia dapat.
"Sampai sini doang?" seru di antara mereka yang sejak tadi hanya menyaksikan perlakuan kedua temannya. "Kalau kita gunting rambut panjangnya, gimana?"
Mereka yang mendengar tawaran temannya itu tersenyum penuh arti dan kemenangan, sementara dia yang menjadi korban semakin ketakutan. "Jangan! Gue mohon jangan," ringisnya.
"Ampun? Apa itu ampun?" kata mereka. "Sini guntingnya!" pintanya pada temannya.
Kini rambutnya ditarik paksa oleh siswi yang memegang gunting dan kedua lainnya memegang tubuhnya yang sedang berusaha melepaskan diri walau ia tahu tidak mudah.
"Siapapun itu, tolong gue," lirihnya dalam ketakutan.
"Wah, ada perundungan nih, guys!"
Siswi yang memegang kendali pada situasi ini berdecak saat seseorang masuk dalam ruangan tersebut. Dilihatnya, seseorang yang masuk terdiri dari tiga orang dan satu di antara mereka yang bersuara memegang ponsel dalam mode landscape, dalam artian sedang melakukan perekaman pada ponsel itu.
Lain dari mereka yang tampak kesal, mereka yang berhasil memberhentikan kejadian itu bertepuk tangan dan berpura-pura menatap kagum.
"Senang, ya, merundung orang lemah?" tanya Leona, gadis yang berdiri satu langkah lebih maju di antara kedua lainnya.
"Oh, gue senang, dong!" kata siswi itu, lalu ia tersenyum angkuh. "Dan, urusan kalian di sini, apa, ya, kalau boleh tahu?"
Leona mengangguk dan melekukkan bibirnya ke bawah, tanda meremehkan lawan bicaranya itu. Kemudian ia memberi isyarat pada kedua teman di sampingnya untuk mengambil tindakan terhadap korban.
YOU ARE READING
EPHEMERAL
RandomPertemuan, entah itu sesuatu yang sudah ditakdirkan atau bahkan yang tak disengaja, manusia hanya bisa menyapa lalu menjalaninya. Banyak manusia percaya, setiap pertemuan akan ada perpisahan. Benar, kata tersebut telah banyak yang terjadi. Namun, a...
