Hari ini pukul 00.12 dini hari. Sudah terhitung tiga hari sejak kami meninggalkan rumah. Membuat rasa ingin kembali semakin meluap-luap tak tahu batas, mencakar sedikit demi sedikit kewarasan diantara kami. Segala cara sudah kami upayakan untuk bisa keluar dari tempat yang tak tahu benar nyatanya ini. Namun, hasilnya nihil. Tak ada yang berhasil. Kami bertiga hanya membuang-buang tenaga tak jelas.
Berbicara tentang dua orang di hadapanku yang tengah mencari cara agar kami bisa bertahan hidup pagi ini. Membuatku kembali berpikir. Apakah benar aku yang terjebak bersama mereka disini? Bukan orang lain. Maksudku, kami tak pernah benar-benar cocok sebelumnya. Orang yang sedang berusaha membakar singkong hasil temuannya itu lebih sering menyita segala perhatian orang hanya dengan paras wajahnya. Sangat berbanding terbalik dengan diriku yang memiliki wajah standar orang Indonesia pada umumnya. Sedangkan yang satu lagi-
“Kanti! Kenapa diam saja di situ? Sini maju, api unggunnya udah nyala. Kamu gak mau mati kedinginan di sini to?”
“Iya Kan, aku juga dapet beberapa singkong ini. Ayo makan bareng, keburu dingin.”
Kemudian yang satu lagi...yang satu lagi, ah sudahlah kalian akan mengetahuinya sendiri nanti. “Iya! Tunggu sebentar.”
YOU ARE READING
KANTUN
AdventureTak pernah terpikir dalam benak Kanti bahwa tugas kelompok prakarya yang diberikan secara mendadak di penghujung pekan itu akan menyeretnya pergi jauh dari kehidupan normal selayaknya ia hidup 16 tahun belakangan. Bersama dengan dua orang yang bahka...
