Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Arc 1 - Prologue : Angin, Hujan dan Mimpi Hari Itu - 01

54 5 0
                                        

Ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Dia duduk tenang di sebelahku. Di hadapannya, terdapat sebuah layar monitor tabung yang nampak masihlah baru tanpa debu sedikitpun. Tangannya—Jarinya dengan cekatan menggerakkan mouse dan memainkan keyboard. Tatapannya yang fokus ke arah layar seakan dia telah tenggelam di dalamnya. Semua yang dilakukannya membuatku sempat berpikir untuk memanggilnya untuk memastikan apakah dia masih bersamaku.

Dia tak terkalahkan. Itulah anggapanku terhadapnya.

Anak itu memainkan permainan seakan bagian dari tubuhnya. Padahal dia baru pertama kali memainkan permainan ini, tapi dia sudah menjadi seahli ini.

Aku menyaksikannya dengan seksama. Bukan karena aku ingin, tapi karena aku telah kalah di permainan tersebut. Dia seorang anak berambut gondrong, tak terlalu tinggi juga tak terlalu pendek. Wajahnya yang pas-pasan. Sama sekali tak ada nilai plus darinya. Tapi ada dua hal yang menarik perhatianku, bentuk rambutnya yang unik.

Itu bukanlah sebuah kiasan. Ini pertama kalinya bagiku melihat seseorang dengan poni rambut unik sepertinya.

Dan satu hal lainnya adalah; bekas luka sobekan di dahi kirinya yang terlukis dari pucuk akar rambutnya hingga hampir menyentuh alis kirinya.

Tiba tiba,

"Aaahh, aku kalah!" Eluhnya sambil meregangkan tubuh di kursi. Sontak itu membuatku terkejut. Aku bahkan hampir melompat dari kursiku karena saking terkejutnya. "Maaf, ternyata aku sendiri takkan sanggup mengalahkan mereka sekaligus." Dia menengok kearahku dengan senyum kecut sambil menggaruk-garuk rambutnya yang gondrong.

Bohong.

Nyatanya, dia bisa saja mengalahkan mereka berdua jika saja dia tak memikirkan perasaanku. Mata seorang amatir sepertiku saja bisa langsung memahaminya dengan sekali pandang. Dia memilih untuk mengalah demi diriku daripada memenangkannya sendiri.

Ditambah lagi...

Senyum kecutnya membuatku merasa bersalah.

"Seharusnya aku yang meminta maaf. Karena karakterku kalah di awal-awal permainan, kau jadi harus melawan mereka sendirian. Mereka mungkin benar, aku seharusnya tidak bermain..." Balasku sambil memasang wajah tersenyum dan sedikit menggeleng.

Mereka yang kumaksud adalah sekumpulan anak laki-laki yang sebelumnya berusaha membuli dan mengusirku karena aku begitu payah dalam memainkan permainan ini. Apalagi permainan online seperti ini.

"Seharusnya anak perempuan tidak bermain game seperti ini. Main yang lain saja sana! Dasar payah! Level dan kemampuanmu bagaikan langit dan bumi!"

Kata mereka.

Awalnya mereka menyambutku dengan hangat, tetapi setelah mengetahui kemampuanku, tingkah mereka langsung berubah seratus delapan puluh derajat.

Mungkin mereka benar. Mungkin aku memang tak seharusnya ada di sini.

Itulah yang kupikirkan, sampai dia tiba-tiba datang dan menantang mereka bertiga dengan sebuah taruhan.

Aku tak tahu dia datang dari mana dan mengapa. Tapi tiba-tiba dia membelaku begitu saja. Seorang anak laki-laki aneh yang sekarang ada tepat di hadapanku.

"Sekarang kau sudah melihat bukan, kalau aku payah dalam bermain game. Wajar saja mereka mencoba mengusirku." Aku membuang muka darinya. Ya, aku harus segera pergi dari sini. Aku sudah mengecewakannya, padahal dia sudah membelaku. Tapi aku sama sekali tak bisa membalas perbuatan baiknya.

"Ya lalu?" Katanya. Dia mengatakan itu dengan santainya seakan dia sama sekali tak memikirkan apa yang kuucapkan barusan.

"Lalu? Apa kau tak mengerti? Orang sepertiku hanyalah beban bagi kalian semua..." Tanyaku balik, kebingungan.

Start PointStories to obsess over. Discover now