Disela rintihan yang memilukan chika berjuang. wanita yang berumur tiga puluh tahun itu berjalan dengan langkah terseok-seok masuk ke dalam rumah sakit. Dengan beban perut yang besar dan kaki yang telah hilang rasa, ia mati-matian berjuang demi nyawa seseorang yang bergantung padanya saat ini.
Darah mulai mengalir merembes, meninggalkan jejak rasa sakit dan aliran peluh di setiap langkahnya. Sesaat setelah memasuki lobi, beberapa suster langsung datang dan membantu chika menopang berat tubuhnya untuk naik berbaring di ranjang rumah sakit. Setelahnya pandangan wanita itu mulai mengabur. Tapi rasa sakit seolah menekannya untuk terus terjaga.
Dan dengan kesadaran yang ada, chika menyerahkan kartu pengenal yang sedari tadi ia bawa. Menyuruh seorang dari suster yang membawanya ke unit gawat darurat untuk menghubungi nomor yang tertera disana. Meskipun kata-katanya terbata-bata dan tidak jelas, karena lenguhan dari rasa sakit akan melahirkan, suster tersebut tetap meresponnya dengan anggukan.
Ruang bersalin tampak sangat mengerikan saat ini. Pendarahan terjadi, tak ada harapan. Detak jantung sang ibu melemah. Bayinya telah lahir dengan selamat beberapa saat yang lalu.
Meskipun dalam kondisi diambang batas sadar, saat mendengar tangisan yang semu. Air mata bahagia menetes. Mengalir di sela kelopak mata yang penuh dengan kerutan itu.
Rasa syukur dan bahagia berlabuh seolah mengalihkan rasa sakitnya. Memupuk keinginan untuk terus bertahan. Namun sampai dengan pendengaran terakhir yang ia dengar. Suara teriakan pria yang meronta ingin masuk tertangkap pendengarannya. Dan setelah kata maaf tak mampu lagi ia ucapkan. Seluruh kesadarannya mulai direnggut untuk pulang, mengakhiri ini rasa lelah yang tertumpuk bersama hembusan nafas.
'Bahkan di saat aku mengakhiri semuanya. Kamu masih mau datang untuk ku. Terima kasih. Maaf.'
Mungkin tidak ada orang di dunia ini berharap dilahirkan seperti yang digariskan. Namun jika ia bisa kembali ia akan mencoba untuk bersahabat dengan pria yang baru saja membuat kegaduhan untuk menemuinya yang sudah sekarat. Meminta maaf untuk semua dosa yang ia torehkan, jika mungkin gadis itu akan melakukannya.
A.N : Ini hanya perayaan satu tahun cerita ini disimpan di draft {^-^!!!}. selamat membaca
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Chance
Manusia Serigala"Jangan menghancurkan kebahagiaan orang lain dengan kata-kata mu hanya karena menurut mu pendapatmu berbeda" -Brian. "Aku tidak membenci hujan. Hanya saja perasaan yang di bawa nya terlalu dalam"-chika.
