Kicau burung nyaring terdengar di telingaku, pagi ini mentari sangat terlihat cerah. Seperti biasa Aku melaju pelan menuju tempat kerjaku di temani motor hitam yang tak pernah Aku cuci, pemandangan pagi tak asing lagi untuk Aku lihat para pekerja dan pedagang menenuhi jalanan kota di setiap paginya, Aku harus segera sampai pukul 07.30 WIB namun pagi ini kejadian diluar kendali terjadi, seorang pengendara motor terjatuh karena tak melihat mobil didepan nya. Aku segera mematikan motor dan turun untuk membantu Ibu dan Anak untuk segera menepi, Aku segera pergi melanjutkan perjalanan
" Maaf bu Aku hanya bisa membantu untuk menepi saja" gumamku
Aku kinara, teman teman dan keluarga memanggilku Nana, Aku sangat menyukai panggilan itu karna bagiku Nana adalah panggilan kasih sayang. Kini usiaku menginjak Sembilan belas tahun, sejak Aku lahir ke dunia Aku sangat yakin bahwa Tuhan telah merencanakan hal hal yang tak pernah Aku duga, sembilan belas tahun membumi memberikan banyak sekali pelajaran dalam menjalani kehidupan, Aku perempuan ramah dan penyayang. Aku tak pernah mencari masalah pada orang lain, karna pikirku seribu teman masih kurang dan satu musuh terlalu banyak, Aku menyukai cerita cerita yang teman teman sampaikan, dari mereka Aku dapat belajar banyak tentang arti kehidupan.
Tak kalah hebat, Aku memiliki segudang luka yang membisu di dalam hati, tak semua orang mengetahuinya ini menjadi bagian rahasia kehidupanku.
Menyusun kata demi kata untuk melampiaskann kesedihan yang Aku pendam sendirian, Aku mengira ini adalah hal yang sangat egois, Aku juga mengira ini akan menyiksa diriku sendiri. Jauh dari itu Aku mendapatkan ketenangan dalam menjalani hidup, Aku rasa tak Ada gunanya untuk berbicara tentang kekuranganku pada khalayak ramai. Aku tak butuh belas kasihan dalam sebuah pertemanan juga percintaan sekalipun
Sering kali Aku berdebat dengan diriku sendiri, saat hati dan pikiranku tak sejalan beradu dua argument yang saling menyudutkan dan membutuhkan pembelaan, kemana harus ku cari? Kemana harus Aku telusuri? Sampai kapan Aku mempunyai pikiran pikiran aneh ini, tak perlu memikirkan hal yang tak semestinya Aku pikirkan sungguh ini menyiksa dan membuat rumit diri sendiri, Tapi Aku menyukai hal ini. Dasar aneh!
Mengamati orang orang sekitar membuatku ingin masuk kedalam pikiran setiap insan, ini kacau sekali bagaimana bisa Aku menyusup ke dalam pikiran orang lain untuk ikut serta berdiskusi tentang masalahnya.
Kini saat nya Aku menceritakan tentang rasa sakitku pada semesta, mendikte perasaan yang pernah Aku rasakan bersama orang orang yang hadir dalam hidupku, yang berhasil membuat luka tak kunjung sembuh, luka yang sampai saat ini belum ku temukan obatnya
Menjalani kehidupan dari hari ke hari, dan kini lebih membaik dari sebelumnya, Aku sudah terbiasa dengan segala luka yang ada, Aku sudah bersahabat dengan segala rasa sakit yang mencoba menyapaku. Aku amat sangat bersyukur dengan hadirnya orang orang baik dalam hidupku, Semesta mempertemukanku dengan seorang sahabat yang begitu mengerti dengan keadaanku, Dia memahami apa yang Aku rasakan, Kurasa bukan karena cuma cuma pertemuanku dengan nya tetapi terselip makna bahkan sampai saat ini belum kutemukan jawabannya.
Sahabatku Naira izinkan Aku berbicara pada semesta tentang ketulusanmu dalam bersahabat denganku, kukira hanya sebatas omong kosong yang tak pernah bermakna apa apa, Aku salah, kamu begitu baik padaku
Dalam baris- baris berikutnya inginku sampaikan beberapa pesan pada manusia si pembuat luka, manusia yang telah mengubah hidupku, manusia yang sampai saat ini namanya masih tersusun rapi dalam buku diaryku
YOU ARE READING
Pulang
Teen FictionNamaku Kinara, beberapa orang mengenalku dengan perempuan yang bingung dan membingungkan, perempuan yang plinplan akan sebuah pilihan yang sederhana sekalipun, perempuan yang egois terhadap dirinya sendiri. kurasa tak seperti itu. tokoh tokoh dalam...
