1. Hari Menyebalkan

49 26 22
                                        

Seorang gadis berusia 16 tahun berjalan di koridor yang ramai menuju kelasnya dengan ogah-ogahan. Sesekali ia menguap setelah semalam begadang hingga tengah malam untuk mengerjakan tugas Fisika. Kantung matanya pun terlihat gelap dan wajahnya agak pucat karena belum sarapan. Sekilas ia terlihat seperti mahasiswa tingkat akhir yang dituntut untuk revisi skripsi.

Baru sampai di depan pintu kelasnya, XI IPA 2, gadis itu sudah dihadang oleh beberapa teman sekelasnya yang langsung merebut kasar tas yang sedang digendongnya.

"Akhirnya Karin si sumber nilai kita dateng juga", ujar Dewi, siswi yang terkenal sering keluar masuk BK sambil mengobrak abrik isi tas Karin guna mencari buku yang dicarinya.

Gadis yang akrab disapa Karin itu hanya menghela nafasnya pasrah setelah tugas fisika yang semalam rela begadang untuk mengerjakannya malah di share secara cuma-cuma di grup chat kelas tanpa guru.

Setelah selesai dengan urusannya, Dewi mengembalikan buku Karin dengan melemparnya ke sembarang arah. Hal itu membuat Karin berdecih melihat sikap temannya yang tak tau terimakasih.

Karin segera masuk ke kelas dan kini hampir semua murid XI IPA 2 sedang menyalin PR dengan anteng. Karin duduk di bangkunya dan merebahkan kepalanya di atas meja yang terlihat seperti kasur dan bantal yang empuk. Ia berharap pagi ini guru datang terlambat ke kelasnya, jamkos kalo bisa.

•••
Bel istirahat berbunyi beberapa detik yang lalu membuat tidur Karin terusik. Ia mengangkat kepalanya dan melihat sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda wajah tertekan karena tidak paham materi yang diajarkan. Doa Karin agar jamkos ternyata terkabul.

Karin meregangkan tubuhnya dan melemaskan otot lehernya yang pegal. Setelah tidur kurang lebih dua jam, ia merasa lebih fresh daripada pagi tadi.

Karin segera pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Tak seperti teman-teman yang lain, yang pergi ke kantin bergerombol, Karin pergi ke kantin sendirian.

Sesampainya di kantin, Karin membeli seporsi batagor dan es teh manis. Ia mencari bangku yang kosong. Matanya menangkap bangku pojok belakang yang kosong. Ia segera duduk di sana sendirian. Sembari memakan batagor, ia melihat sekelilingnya. Setiap bangku diduduki lebih dari 4 orang. Tapi hanya Karin yang duduk sendirian. Karin dan kesendirian sepertinya sudah menjadi sahabat.

•••

Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Karin masih sibuk menyalin materi yang ada di papan tulis. Tak heran jika Karin adalah murid terpintar dan terrajin di kelasnya.

Setelah selesai, Karin segera memasukkan bukunya ke dalam tas dan keluar kelas. Ia berjalan melewati koridor yang sepi. Hanya ada beberapa siswa ekskul yang berlalu lalang.

Karin melanjutkan langkahnyq keluar gerbang dan duduk di halte SMA Garuda untuk menunggu angkot.

Karin menghela nafasnya bosan saat menunggu angkot yang hampir lima belas menit tak kunjung datang. Ia sesekali menguap hingga tak sadar terlelap.

TIN TIN TIN!

Karin terperanjat kaget saat mendengar suara klakson angkot tang sangat nyaring. Dengan agak sempoyongan karena terkejut, ia berdiri hendak naik.

Namun niatnya ia urungkan saat melihat ada lelaki di depan angkot yang pucat pasi dengan nafas yang tak beraturan. Lelaki itu juga mencengkeram kuat stang sepeda yang ditumpanginya.

Karin mengamati lelaki itu. Memakai kaos putih yang dilapisi kemeja flanel lengan pendek abu-abu, celana joger hitam, sneaker putih branded, dan topi yang terlihat mahal melekat di kepalanya. Melihat wajah lelaki itu yang asing dan style yang terlihat mahal, tidak mungkin ia anak SMA Garuda. Pasalnya SMA Garuda terkenal dengan sekolah kaum menengah ke bawah. Anak orang yang sangat berada di SMA Garuda bisa dihitung dengan jari, termasuk Dewi. Makanya Dewi tak segan menindas orang yang tak disukainya, karena Dewi punya kekuatan harta.

DETAK DETIKWhere stories live. Discover now