Jangan Sedih

37.8K 1.5K 34
                                        

"Yang, kamu capek ya?"

Bima menyusul Lyora ke kamar padahal masih banyak tamu meskipun acara tasyakuran aqiqah putranya baru saja selesai. Jumlah tamu yang mereka undang ternyata melebihi ekspektasi. Banyak saudara dan kerabat jauh yang juga turut hadir mendoakan dan memberikan ucapan atas lahirnya jagoan Bima dan Lyora. Kamar mereka pun dipenuhi tumpukan bingkisan yang menggunung.

"Sedikit, Mas," senyum Lyora pun sedikit dipaksakan. "Maaf ya, aku jadi enggak bisa temenin kamu temui tamu-tamu yang lain."

"It's OK, Sayang. Abang masih dipinjam Ibu, kamu mau istirahat dulu?"

"Aku ganti baju dulu ya, Mas. ASI-nya rembes, kayaknya udah waktunya Abang untuk mimi," Lyora kemudian menuju lemari untuk mengambil baju gantinya.

Bima menghampiri dan memeluknya dari belakang, "Sayang, terima kasih ya karena selalu tampil cantik."

Lyora diam tak menanggapi. Padahal biasanya jika Bima mulai melakukan skinship, ia segera protes karena merasa risih. Dari balik punggung mulus Lyora, Bima mendengar Isak tangis yang tertahan.

"Kamu nangis, Yang?"

Bima berbalik badan untuk melihat wajah Lyora. Benar saja tebakan Bima bahwa istrinya telah berlinang air mata. Seperti pesan Dion tempo dulu, Bima segera memeluk Lyora agar dirinya menjadi lebih tenang.

"Maaf ya, Mas. Enggak tau kenapa tapi belakangan ini aku jadi sensitif banget. Kamu pasti gak suka kalau aku cengeng begini," Lyora cepat-cepat menghapus air matanya walau sebagian sudah membasahi kemeja Bima.

"Mau cerita sekarang atau nanti?" dengan sabar Bima menunggu sampai Lyora merasa lebih baik.

"Aku cemburu, Mas!" ujar Lyora tiba-tiba.

"Loh emang aku ngapain? Aku sama Aldilla enggak—"

"Bukan Aldilla," potong Lyora.

Bima heran dibuatnya. Ia mengingat-ingat kembali apa saja yang dari tadi ia lakukan hingga membuat Lyora cemburu. Namun Bima menyerah, ingatannya buntu karena memang ia tidak melakukan macam-macam.

"Hari ini semua orang memuji Abang dan juga kamu. Bilang Abang mirip kamu, mulai dari mata, hidung dan juga bibirnya. Pokoknya Abang tuh seolah mutlak anak kamu. Enggak ada satupun yang bilang kalau Abang mirip aku. Sepertinya mereka lupa kalau ada aku yang mengandung, melahirkan dan menyusui Abang. Aku sedih karena merasa enggak dianggap," kepada Bima, Lyora mencoba berkata apa adanya.

Seketika Bima merasa terpukul, terkadang ia juga lupa untuk berterima kasih kepada Lyora. Jika dipikir lagi, selama ini Lyora telah banyak berkorban. Apalagi ketika masa hamil tua dulu, Lyora sempat kabur darinya. Belum lagi perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya pasca melahirkan Giffari. Bima masih saja terbayang bagaimana anaknya keluar dari lubang elastis itu.

"Yang, maafin aku ya karena enggak peka. Makanya aku selalu mohon supaya kamu jujur ke aku. Aku terlalu bodoh untuk memahami hal-hal kecil yang kadang terlewatkan."

Sejenak Bima meninggalkan Lyora untuk mengambil sesuatu di laci nakasnya. Lyora sempat tak mengerti maksud Bima menyerahkan sebuah amplop putih kepadanya. Hingga akhirnya Bima memintanya untuk membuka isi amplop itu.

Seketika mata Lyora berbinar, ia masih tak percaya apa yang sedang dilihatnya saat ini. Dua buah tiket konser band favoritnya yang sempat ia lewatkan dulu karena sedang mengandung Giffari. Di lembar sana tertulis bahwa konser tersebut akan diadakan satu minggu lagi di negeri sakura.

"Mas, kamu serius?" tanya Lyora masih tak percaya. Pasalnya ini adalah kali pertamanya ke luar negeri hanya untuk menonton konser.

Bima bersyukur bahwa sesuatu yang baginya belum seberapa itu dapat membuat Lyora senang, "iya, Sayang."

"Apa enggak terlalu mendadak? Satu minggu lagi loh, Mas. Giffari gimana?"

"Abang enggak mungkin ditinggal. Kita kesana berempat, aku ajak Ibu supaya kita bisa menitipkan Abang."

Dugaan Lyora bahwa yang direncanakan Bima tadi adalah sesuatu yang mendadak adalah salah. Saat Lyora meminjam laptopnya tempo dulu, Bima yang kepo segera mengecek riwayat penelusuran di halaman webnya. Dari situlah Bima tahu bahwa Lyora benar-benar ingin pergi menonton konser band favoritnya. Pantas saja Lyora terlihat sedih ketika Dion yang jahil memamerkan tiket konser yang telah dipesannya. Sedangkan Lyora hanya bisa gigit jari karena perutnya sudah terlanjur membuncit. Tidak mungkin seorang ibu mengandung delapan bulan menonton konser, hal itu terlalu beresiko.

Saat Lyora sempat pergi darinya, Bima mengusahakan segala cara untuk membuatnya kembali pulang ke rumah. Salah satunya adalah dengan membeli tiket konser untuk Lyora. Bima sangat berharap Lyora dapat luluh dan memaafkannya dengan disuap selembar tiket itu. Mengingat betapa teganya Mirna saat itu, nyali Bima langsung menciut dan akhirnya tiket itu hanya dapat ia simpan sendiri. Kesalahannya kepada Lyora tidak dapat dimaafkan semudah itu.

Mungkin saat itu Bima terlalu impulsif karena tidak memperhitungkan jarak persalinan Lyora dengan waktu konser yang akan diselenggarakan. Seperti saat ini, konser di negara Jepang itu hanya berselisih dua minggu sejak kelahiran putranya. Tentu akan sulit mengupayakan segala cara untuk membawa bayi yang usianya belum genap satu bulan untuk ke luar negeri.

Namun melihat Lyora yang sudah terlanjur bahagia dengan selembar tiket konser di tangannya membuat Bima berjanji akan mewujudkan semua itu. Tidak ada yang mustahil baginya. Dengan segala kemampuan finansial dan koneksinya, Bima berjanji akan mengurus segala dokumen yang diperlukan agar ia bisa membawa Lyora, Giffari dan juga Mirna berlibur pasca melalui masa-masa sulit sejak Lyora melahirkan.

Hari demi demi hari berlalu, segala keperluan untuk berangkat berlibur telah siap. Pada awalnya Mirna sempat tidak setuju dengan ide Bima atas pertimbangan keselamatan Giffari. Namun dokter spesialis anak tempat mereka berkonsultasi telah meyakinkan Mirna bahwa tidak ada masalah jika akan mengajak Giffari terbang ke Jepang.

Sayangnya, dua hari sebelum keberangkatan, Giffari mendadak rewel karena demam. Liburan mereka terancam dibatalkan. Namun Mirna yang tidak mau membuat Lyora bersedih justru mengusulkan agar Bima dan Lyora tetap berangkat, sementara Giffari bersama dirinya di rumah.

"Ly, Ibu beneran enggak masalah kalau kalian tetap jadi pergi. Untuk sementara biar Abang minum susu formula dulu," usul Mirna bijaksana.

"Enggak, Bu. Lyra yang seharusnya enggak masalah kalau kita enggak jadi pergi. Lyra udah janji mau kasih ASI eksklusif untuk Abang," jawab Lyora mantap.

"Bima juga enggak masalah, Bu. Benar kata Lyora, Abang harus selalu dapat yang terbaik. Bima enggak akan liburan kecuali kita semua ikut pergi."

Di depan Mirna dan Giffari, Bima memeluk mesra Lyora sembari berbisik, "makasih ya, Yang, karena kamu enggak marah dan pengertian."

"Tapi, Mas," Lyora mengendurkan pelukan Bima dan menatapnya seolah memohon, "tahun depan mereka tur di Eropa."

Bima mulai was-was mendengar Lyora melanjutkan kalimatnya yang menggantung.

"Tahun depan aja ya, Mas?"

"Hah?"

"Boleh kan, Mas?"

"I—iya, Sayang...." jawab Bima dengan berat hati.

******

Giffari Lionel Bimantara [ SELESAI ]Stories to obsess over. Discover now