CHAPTER 01

23 3 0
                                        

"Yap masuk lagi satu poin."

Lalu suara bising dari sampingnya terdengar jika saja yang berteriak bukan adiknya mungkin ia akan menendang pantatnya sekarang juga. Kalana melirik sinis pemuda dua tahun di bawahnya ini memang cukup menggelikan. Meskipun dirinya sudah menduduki bangku SMA tahun pertama tapi tingkahnya tak berbeda jauh dari anak sekolah dasar.

"Juna lo bisa diem gak sih!"

"Lo kalah kak buruan beliin gue es krim."

Kalana berdecak, bagaimana bisa ia dinyatakan kalah sedangkan yang bermain bola bukan dirinya? Kesepatakan tidak ada seharusnya ia bisa menolak tapi tetap Kalana tidak akan pernah bisa berkata tidak.

"Lo kenapa ga pulang aja sih? Bikin gue kismin aja cari duit susah bego!"

"Gue kan tinggal minta kak, kenapa masalah?"

"Ya masalah lo morotin gue kek gini."

"Yaudah deh gue traktir KFC."

Kalana terdiam ia tak jadi mengenakan jaket jeansnya dan menatap adiknya sebal. Liburan kali ini memang adiknya meminta untuk tinggal bersamanya di kontrakan kecil tempatnya tinggal.

"Ga doyan lidah gue biasa makan ikan asin."

"Yaudah gue beliin ikan asin sepuluh kilo."

Kalana tak menggubris ia menarik adiknya keluar dari ruang tamunya dan mengajaknya untuk membeli es krim. Memenuhi keinginan adik satu-satunya.

Semua orang memandang pemuda dengan perawakan tinggi, berkulit putih, dan tatapan teduh itu dengan kekaguman. Bagaimana seorang yang masih berusia belia bisa memiliki keberanian dan cara berpikir yang matang layaknya orang dewasa. Seseorang yang murah senyum serta tak hentinya membuat kagum dengan sikap baiknya pada semua orang.

Kalana Razzani seperti halnya dengan namanya. Ia memang selalu memberi ketenangan bagi setiap orang yang dekat dengannya. Berbeda halnya dengan Juna adik dari Kalana, menurutnya kakaknya menyebalkan. Cowok yang sangat dingin namun penyayang pada keluarganya. Mandiri, pekerja keras, bermulut pedas, tapi tetap saja hatinya lembut.

"Kak gue laper mampir ke pinggir jalan itu dong pengen ngerasain makan ikan asin."

"Ga ada lo bisa diare kali bisa digebuk mama pake gada punya werkudara mampus gue."

Helaan napas putus asa terdengar dari arah belakang. Sedangkan Lana sendiri mendumal bagaimana mungkin ia memiliki adik yang sangat menyebalkan dan menyusahkan? Baru saja meminta es krim tiba-tiba minta nasi kucing.

"Kak tapi kan gue laper kalo tipes gue kampuh bisa digorok juga kan lo."

"Yaudah makan tapi ga disitu." Jawab Lana pasrah.

Pemuda itu membawa motornya menuju ke rumah makan masakan padang langganannya. Mungkin nanti adiknya bisa merasakana bagaimana rasanya puas makan dengan porsi banyak dan harga murah.

"Ada ikan asin?"

"Ikan lele adanya."

"Lo pernah janji ajakin gue makan nasi kucing ya kampret nape kaga jadi si?"

"Angkringan bukanya sore, siang bolong begini lo mau makan ikan asin mentah iya?" Juna berdecak kesal, benarkan jika kakaknya ini memang tidak memiliki hati terhadapnya.

Akhirnya setelah banyak berdebat hal yang tak perlu Juna memilih untuk masuk terlebih dahulu. Ia memilih lauk dengan ayam daripada ikan. Tak berselang lama pesanan mereka datang, Lana tersenyum pada pelayan yang sudah ia kenal dengan baik. Sedangkan Juna menatap piringnya yang penuh dengan sayur dan kuah pedas.

Matanya berbinar senang bagaimana mungkin ia akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati ini? Makanan dengan rasa pedas memang favoritnya bukan?

Lana melirik adiknya sekilas dan menahan senyumnya. Ia tahu apa yang Juna suka dan tidak, meskipun ingin makan ikan asin seperti dirinya tapi Lana tahu.

Lana tahu jika adiknya hanya ingin kakaknya berbagi kesulitannya dengannya. Bercerita tentang banyak hal, tentang luka batin, tentang sekolah, tentang pekerjaan, hobi, atau apa pun dengannya. Lana sadar selama ini ia terlalu menutup dirinya dengan sang adik. Ia hanya tak ingin Juna merasakan menjadi dirinya yang menyedihkan, karena bagaimanapun antara Juna dan Kalana berbeda dalam segala hal.

***

"Kamu tidak pernah aku harapkan, kamu hadir merusak semuanya jadi jangan berpikir kamu memiliki tempat di sini!"

Lana langsung terbangun, napasnya memburu. Tatapannya ia alihkan pada gelas yang berisi air minum di nakas sebelah ranjang. Segera ia meminumnya sampai tandas.

Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Wajahnya ia tutup rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya. Ada perasaan aneh di ujung hatinya hingga rasa sakit itu muncul membuat dadanya kian sesak.

Setetes air mata meluncur bebas tanpa seizinnya. Lagi-lagi Lana menangia dan bermimpi itu lagi. Beruntungnya liburan sudah selesai dan Juna sudah kembali ke rumah mama. Jika saja belum mungkin adiknya itu akan melihatnya patah seperti ini.

"Tenang Lana semuanya hanya masa lalu kamu cukup berpikir untuk masa selanjutnya tanpa perasaan bersalah itu." Ucapnya dengan terbata-bata, ia hanya ingin meredakan ketakutannya.

Lana melirik ke arah jam dinding di atas rak bukunya, waktu menunjukkan pukul dua pagi. Masih banyak waktu untuknya beristirahat. Besok semua jadwalnya akan kembali seperti semula.

Pagi harus berangkat ke sekolah dan sorenya bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Mungkin hidupnya tak akan semenyedihkan ini jika saja ia memilih tinggal dengan orangtuanya. Namun ia tak akan bisa menjalani kehidupan dengan suasana neraka di dalamnya.

Mungkin kalian berpikir memangnya ada apa? Bukan sekarang jawabannya Kalana masih belum siap membuka buku ceritanya. Luka-lukanya masih basah mungkin karena terlalu sering dikoyak sebelum membaik.

Kembali ia merebahkan dirinya, tatapannya menatap langit-langit kamar kontrakannya. Ia tak pernah menyesali pilihannya untuk tetap hidup hingga sampai pada titik ini. Lana tak pernah membenci takdirnya, ia hanya membenci dirinya yang menjadi perusak dalam hidup orang yang dicintainya sendiri sekalipun ia tak ingin.

***

TBC

Bismillah aku harap kalian bakal suka sama cerita baru aku yang ini. Terimakasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak❤

KalanaOù les histoires vivent. Découvrez maintenant