Aku si sulung yang malang
Aku si sulung yang kehilangan arah
Aku si sulung yang menderita
Iya aku, akulah si sulung yang tersiksa
Dan inilah kisahku.
Aku punya kehidupan yang berkecukupan, aku punya kepintaran, aku punya banyak teman. Tapi ada satu hal yang tak aku punya, kasih sayang orang tua. Entah kapan aku akan mendapatkannya. Aku sering bertanya-tanya, kenapa bunda dan ayah tidak menyayangiku. Kenapa? Apa aku kurang baik? Apa aku mengecewakan mereka? Apa? Tidak ada yang pernah menjawab pertanyanku. Aku tersisih di keluargaku sendiri.
Hari ini, hari pertama libur sekolah setelah ujian semester. Aku keluar dari kamar ingin mengambil minum ke dapur. Diperjalanan aku melihat sekilas ke kamar bunda yang terbuka, ia sedang beberes baju ke dalam koper. Karna aku penasaran aku pun bertanya.
Tok tok tok
Bunda, bunda sibuk? Mau Ara bantu?
Tidak perlu
Bunda mau kemana?
Bukan urusanmu, keluar sana
Baik bunda
Aku pun keluar kamar bunda dengan perasaan sedih. Kenapa bunda selalu ketus padaku. Aku pun melanjutkan perjalanan ke dapur. Sampai di dapur aku melihat adikku sangat cantik dan rapi.
"Dek kamu mau kemana? Kok udah cantik pagi-pagi, kakak aja belum mandi." Tanya ku
"Ohh ini, emang bunda ga bilang sama kakak? Kan kita mau liburan ke villa kita yang di sumba selama 3 minggu. Kakak kok belum siap-siap, nanti ditinggal lo." Kata adikku dengan senyum nya
Kapan? Bunda ga ada bilang sama aku mau liburan, apa bunda lupa ya? Batinku
Niatku ingin bertanya, tapi aku mendengar sebuah suara yang menyahut
Dia tak akan ikut, kakakmu akan menjaga rumah. Hanya kita yang pergi tanpa kakakmu.
Hatiku rasanya seperti diremas-remas. Begitu tidak berharganya aku dimata bunda. Aku hanya diam melihat bunda mengelurkan koper-koper yang akan dibawa. Adikku hanya diam memandangiku dengan raut yng sedih lalu mendekatiku
Kakak maaf ya, bunda ga ajak kakak ternyata. Kakak mau aku ga usah pergi juga?
Ehhh ga usah. Kakak gpp, bersenang-senanglah disana. Jangan lupa vc kakak ya.
Benarkah? Kalau begitu kita akan vc setiap malam. Nanti aku akan belikan kakak oleh-oleh yg banyak.
Akan kakak tunggu
Bunda, boleh Ara tanya sesuatu?
Hmm
Bunda, knp ara ditinggal? Ara pengen ikut juga bunda
Kalau kamu ikut bukan liburan tapi nyusahin entar disana, udh lah kamu di rumah aja
Ara ga bakal nakal bunda, ara ikut ya bun. Ara ga mau di rumah sendiri
Kamu ga usah manja, lagian biasanya juga kamu di tinggal sendiri. Udh lah saya mau pergi.
Aku melihat bunda dan adikku sudah memasuki mobil. Dinda melambaikan tangannya kepadaku. Aku membalas dengan senyuman yang manis. Bunda dan dinda akan berangkat berdua ke sumba, ayah sudah berada disana karna urusan bisnis. Mobilpun prgi meninggalkan perkarangan rumah.
Aku memasuki rumah yang sangat sepi ini lalu menangis sejadi-jadinya di depan pintu.
Tuhan kenapa?
Ini terlalu sakit, sangat sakit. Untuk sekian kalinya aku hancur. Hancur oleh harapan yang aku impikan. Kapan tuhan? Aku juga ingin seperti dinda. Dimanja, disayang, dikasih. Tuhan jika boleh meminta ku mohon hilangkan sakitnya tuhan.
Aku menangis, ya menangisi kemalanganku sendiri.
Didalam mobil
Bunda, kenapa kk ara ga ikut liburan?
Kan udah bunda bilang tadi dia jaga rumah
Kan ada satpam bunda, dari dulu kk ara ga pernah ikut kita liburan keluar kota. Kenapa bunda?
Karna bunda ga suka
Bunda, dinda sangat menyayangi kk ara, sangat sayang. Karna bunda dan ayah tidak bisa memberi kasih sayang jadi dinda yg memberi lebih untuk kk ara. Bunda, kadang dinda selalu berpikir dan menempatkan diri diposisi kk ara. Jika dinda jadi kk ara mungkin dinda ga akan sekuat kk ara.
