Prolog

11K 517 30
                                        

Hallo semuanya...

Mungkin yang udah baca cerita ini sebelumnya, bagian baru ini akan berbeda, jauh sangat jauh berbeda dari alur cerita kemarin.

Ada beberapa hal yang aku sendiri pertimbangan kenapa ngerubah cerita ini, salah satunya karena jalan cerita kemarin itu sangat-sangat membosankan, menurut ku. Aku mau buat ulang dengan alur yang lebih fresh dan aku yakin kalian pasti suka!

~Selamat membaca~

______________________________________________

Kata mereka, yang ga pernah di bicarakan gak perlu di cari tahu, yang di sudah di lewati tak usah di putar ulang. Benar, ada banyak hal yang tak perlu kita ulang atau kita bicarakan kembali untuk sekedar memberikan ketenangan jiwa.

Tapi yang namanya anak-anak, mereka selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi, tantangan bagi mereka adalah hal yang seru untuk di lewati dan larangan adalah perintah yang harus di jalani. Benar kan?

"Apa sih, cuma loker kosong gitu mana mungkin ada ada hantu, kebanyakan denger gosip lo, ah!" mendengar Mahesa berucap barusan seperti meremehkan kedua temannya yang baru saja membicarakan tentang loker kosong di ujung lorong kelas.

"Heh Sa! kita tuh bukannya takut, cuma patuh aja kale."

Mendengar Jatmiko berkata demikian Mahesa berdecih, dari ekspresinya seperti masih meremehkan teman temannya.

"Halah, udah lah Ko, Rak. Bilang aja lu pada takut, Raka aja lewat situ langsung keringet dingin, kalo ga gua tarik mah ngompol kali di depan tu loker."

Raka melempar penggaris busur kearah Mahesa, dengan cepat Mahesa menghindar dari lemparan itu alhasil busur itu terpental ke lantai.

"Anjir, hampir aja!" reflek Mahesa sambil menatap Raka dengan tatapan tidak terima.

"Lagian, asal jeplak aja tu moncong."

Raka berdecak pelan lalu semakin merapatkan jaraknya dengan Mahesa dan Jatmiko.

"Kata orang orang tuh itu udah lama kosong, kaka gue pernah maksa buka itu dan besoknya sakit." bisiknya pelan namun kedua temannya dapat jelas mendengar.

"Jirr, seru itu mah. Kalo gitu gimana kalo kita maksa buka juga, yakali kita bertiga sakit barengan." Mahesa langsung dapat tendangan dari Jatmiko yang menendang kursinya hingga mundur beberapa lantai.

"Bego anjir!" gerutu Jatmiko, ia beralih menatap teman-teman sekelasnya, dan menatap isi ruangan dengan teliti. Matanya memutari seisi kelas, ia berfikir banyak terlalu receh untuk di fikiran.

Tak ada yang aneh, hawa pun nyaman nyaman saja, semua berjalan lancar selama ini, mereka bakan tidak pernah kesurupan seperti kisah-kisah horor yang ada di film hantu berlatarkan sekolah. Alis Jatmiko mengerut, pandangannya fokus kepada seorang gadis yang duduk di kursi paling depan, bahkan anak se indigo Denara aja ga pernah bilang kalo sekolah ini ada penunggunya.

______________________

Matahari semakin condong ke barat, siswa siswi di kelas sudah memasang wajah mengantuk, banyak yang merebahkan kepalanya di atas meja, ada yang diam diam bermain ponsel di kolong meja, ada yang masi duduk tegak memperhatikan guru menjelaskan.

Tulisan di papan tulis bak anak domba yang meloncati pagar membuat yang melihatnya semakin mengantuk, suara guru menjelaskan bak dongeng si kancil yang sangat lembut membuat siapapun yang mendengarkan merasa sedang di bacakan dongeng oleh ibu ketika kecil.

"Jatmiko~"

Jatmiko yang tengah fokus mendengarkan guru menjelaskan lalu mengalihkan pandangan nya ke sumber suara, senyum kecil reflek terukir di bibirnya.

"Aku pulang sama kamu ya, ayah ku gabisa jemput katanya ban nya bocor." Jatmiko tersenyum makin lebar seraya mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

"Oke, tapi tunggu aku selesai eskul dulu ya, bentar ko evaluasi aja soal event kemarin." katanya hampir berbisik, gadis itu mengangguk antusias.

Raquella, itu namanya, panggil saja Ella,  ia kekasihnya Jatmiko sejak mereka kelas 11 di SMA itu. Jatmiko dan Ella adalah dua sejoli normal yang sangat menikmati masa masa kasmaran di SMA, mendapati mereka satu kelas lagi di kelas 12 membuat kedekatan mereka makin dekat.

Mendadak senyum lega terpancar dari semua wajah siswa, bell pulang telah berbunyi. Tanpa aba aba mereka membereskan buku-buku yang ada di atas meja, pulpen yang berserakan mereka masukkan ke dalam tas masing-masing.

Guru di depan hanya menghela nafas saja, bergegas merapihkan buku dan berpamitan.

"Terimakasih anak-anak untuk hari ini, ibu harap apa yang ibu jelaskan bisa kalian pahami."

Sedetik setelah Guru pergi meninggalkan ruang kelas itu, semua langsung berhamburan keluar seperti baru merasakan kebebasan setelah di kurung bertahun-tahun.

Jatmiko dan Ella keluar juga di susul oleh Mahesa dan Raka yang seperti sangat terburu-buru terlihat dari cara mereka berjalan yang bisa di bilang hampir berlari, melewati Jatmiko dan Ella yang berjalan pelan.

____________________

~TBC~
Thanks for reading

LOKER 99Where stories live. Discover now