P r o l o g

11 4 0
                                        

Mimpi mungkin memang hanya bunga tidur semata, tapi jika aku berharap, apa salahnya?

_Lasenta

•○°○°○•

Seandainya tuhan berbaik hati, aku selalu ingin terlahir menjadi Cinderella yang menawan. Pasti dunia bisa berpihak padaku.

Hidup itu tidak adil. Harus cantik bila ingin perkataannya didengar. Harus cantik bila ingin diperlakukan baik. Hanya si cantik yang bisa mengubah sikap orang sesuai keinginannya.

Aku tidak dikenal oleh banyak orang. Bahkan mungkin sebagian besar dari mereka tidak pernah tahu bahwa gadis bernama Lasenta hidup di bumi.

Lasenta itu namaku. Nama yang diberikan mendiang ayah yang pergi 2 tahun lalu. Bahkan ibuku, tak sempat melihat bentuk awal diriku saat terlahir, ia lebih dulu pergi dari bumi, dari dunia.

"Lasenta!"

"Lasenta!"

"I-iya, bu. Saya!"

Aku mengangkat tangan kananku segera. Acara melamunku terlalu lama hingga tak sadar dosen di depan sana tengah memeriksa absen.

"Oh, cewek itu"

"Sejak kapan kelas ini ada dia?"

"Kok gue gak kenal"

"Dia mahasiswa baru?"

"Dasar cewek aneh"

Aku menunduk menatap kaki. Dosen jarang sekali melakukan pengabsenan pada mata pelajarannya. Wajar bila namaku tak pernah disebut-sebut di kelas. Apalagi aku yang tak pernah berinteraksi dengan semua orang. Benar-benar 'semua orang' tanpa terkecuali.

Aku tak memiliki satupun teman.

Kecuali, buku harian yang entah kenapa kubiarkan kosong. 2 tahun lalu, saat ayah tengah sakit keras, ia memberikanku sebuah buku harian tebal dengan sampul coklat tua.

Sempat terpikir buku itu berisi wasiat untukku sebelum kematiannya, hingga aku tak berani membukanya hingga ajal menjemput ayah.

Setelah kupikir lagi, dengan keberanian yang datang seujung kuku, akhirnya kubuka perlahan lembar demi lembar. Tak ada satupun coretan pena di dalamnya.

Aku tak sempat bertanya mengapa ayah memberiku buku ini, aku tak sempat bertanya siapa pemilik buku ini sebelumnya, aku tak sempat bertanya kenapa buku ini kosong, aku tak sempat bertanya mengapa harus aku yang memilikinya?

Brukk.

Ditengah pemikiranku, suara gaduh yang berasal dari kamar berhasil membuatku terkejut. Aku tengah menonton film kartun kesukaanku siang ini.

Mengedarkan pandanganku ke penjuru kamar, aku melihat semua barangku sesuai pada tempatnya.

Kecuali,

Buku tebal dengan sampul coklat tua yang tergeletak di lantai.

Aku ingat, aku sudah menaruhnya di meja belajar.

Kupungut buku harian itu, membalik-balikkan sejenak untuk melihat adakah bagian dari buku itu yang rusak. Ah, aman.

Kutaruh buku itu di atas meja lagi. Bila dipandang semakin lama, meski berwarna coklat tua yang membuatnya terlihat kuno, buku ini cukup cantik.

Setelah menimbang-nimbang, kuputuskan untuk membuat sebuah catatan untuk mengawali buku itu.

Dear, buku tua yang tak pernah kutulisi huruf dan angka.

Planeta ; SentaGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt