We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog : Hujan Sembilan Tahun Lalu

38 7 0
                                        

"Cukup satu kali.
Cukup satu kali saja aku sakit.
Jangan datang lagi, aku tidak mau ada yang pergi lagi ."

Ada yang berkenan di kala hujan

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ada yang berkenan di kala hujan. Pun ada yang masygul kala tetesan itu mulai berderai. Orang dulu bilang jangan mencela hujan, sebab reda tak lama datang. Namun, kenapa hujan seakan tahu kapan kalanya bersedih. Layaknya sekarang, sebuah mobil hitam melaju menebas derasnya hujan. Seorang anak laki-laki menitikkan air matanya tak henti-henti. Tangisnya bersuar mengundang hujan untuk menangis  bersama.

Udara dingin saling bergugus melingkupi kabin mobil yang bersicepat menyapu jalanan. Sang pengemudi begitu panik, sedang anak pria itu masih tersedu-sedu dalam balutan seragam sekolah yang sebagian permukaannya basah oleh tetesan hujan beberapa saat lalu. Matanya yang sembab perlahan melongok ke kaca jendela mobil, menembus pandang ke arah jalanan yang berubah-ubah, hanya hujan yang terlihat jelas. Ia sentuh kaca itu dengan telapak tangannya.

Dingin.

Aneh rasanya, padahal saat ia di sekolah tadi hujan itu tidak sedingin ini. Tepatnya saat sang ayah datang menjemput. Tidak hanya ayahnya saja, tapi berita biru itu datang bersama untuk menjemput. Seketika udara dingin terasa lebih menusuk.

Roda mobil berhenti berputar tepat di depan sebuah bangunan besar yang didominasi oleh cat berwarna putih. Pria paruh baya yang duduk di kursi pengemudi lantas membuka pintu mobil, menuntun bocah di jok tengah untuk turun bersama. Keduanya berlari melintasi hujan menuju serambi bangunan itu. Bau obat-obatan menyeruak di dalam bagunan bernuansa putih. Rupanya semua pegawai pun berseragam putih.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita pada meja resepsionis kala melihat seorang pria paruh baya dan anak kecil bersamanya.

"Pasien atas nama Anjani Bestari. Kamar nomor berapa?"

Wanita itu kemudian mengecek data pasien pada komputer. Jemarinya terlihat cekatan saat mengetik nama yang dimaksud, seakan paham dengan situasi tersebut. "Kamar nomor 502, lantai 5."

Dengan langkah cepat mereka bergegas menuju lantai lima. Pikiran pria itu dipenuhi kecemasan tentang sang istri. Entah apa yang diperbuatnya hingga kecelakaan itu tidak terelakkan. Amarah dan kekhawatiran saling beradu. Ketidaksanggupan akan kemungkinan terburuk membuat tubuhnya kian melemas. Bukankah semuanya telah selesai? Kalau begini jadinya ia rela pergi menggantikan posisi Anjani. 

Sesekali ia tatap wajah anak itu, membuat matanya memerah menahan luapan rasa bersalah yang menjadi-jadi. Langkahnya melemah kala ruangan 502 itu berada di samping. Menarik sedikit napas yang terbuang bersama langkahnya. Tangan itu meraih gagang pintu yang mengilat. Namun, gerakannya terhenti saat sang anak menahan lengannya.  Kepalanya menggeleng kuat dengan pelupuk mata yang masih membendung cairan bening.

"Alen di luar aja, Alen ... takut."

Paham dengan kondisi shock-nya. Ia mengulurkan tangan dan mengusap lembut pucuk kepala malaikat kecil di hadapannya. Tak lupa senyum pun ia tarik dengan harap mampu memberi sedikit ketenangan—meski faktanya pilu itu terlalu besar.

Dengan gontai pria dewasa itu pun masuk ke dalam ruangan menyisakan anaknya sendirian yang sekarang tengah terduduk memeluk tasnya erat. Badan kecilnya menggelugut kedinginan, ruang pikirannya kosong. Namun, hatinya tanpa henti berharap Anjani dapat terbangun dan memeluknya erat-erat. Hingga air matanya meringkai, sang ayah akhirnya keluar dari ruangan dan berjalan ke arahnya. Sang ayah menurunkan tubuhnya guna menyamakan tinggi sebelum membuka suara.  

"Sekarang kita pulang lalu kemasi barang-barang Alen. Besok kita harus terbang ke Singapura."

***

***

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aku Takut Esok Akan PergiStories to obsess over. Discover now