"Jika hadirmu memberi luka, mengapa kau janjikan untuk terus bersama?"
Seorang gadis cantik duduk di tepi danau yang tenang. Udara segar dengan tiupan angin menerpa wajahnya. Matanya terpejam merasakan setiap sentuhan angin, menghela napasnya pelan lalu membuka matanya perlahan.
Manik coklatnya menatap ke arah rumah pohon diseberang sana. Terbayang sepasang kekasih yang begitu ceria, bertukar cerita dan tertawa lepas. Perlahan menghilang bagai bayangan dalam sekejap ketika terang menerpa.
Dadanya terasa sesak ketika ingatan itu terus muncul di hadapannya. Banyak pertanyaan di benaknya, mengapa? Mengapa harus dia yang merasakan kehilangan.
Gadis itu bernama Agresya Queenzia Arlana, setiap hari kamis dia akan datang di tempat sekarang dia berada yaitu di sebuah danau terpencil jauh dari kebisingan kota.
Tempat itu adalah tempat dimana sejuta kenangan bersama pria yang dulu sangat dia cintai, tapi itu dulu sebelum kepergiannya, meninggalkan dirinya tanpa alasan apa pun.
Senyum yang selalu menghiasi wajahnya sekarang telah sirna, sejak kepergian kekasinya Resya lebih banyak diam sosoknya yang ceria menjadi gadis yang pendiam. Jika boleh jujur Resya sangat mengharapkan pria itu kembali namun apakah perasaannya akan sama seperti dulu? Jawabannya adalah tidak. Dia hanya butuh penjelasan namun untuk kembali bersama Resya rasa tidak.
Rasa yang dulu pernah ada sekarang sudah hilang- lenyap.
"Gue nggak nyangka orang yang berkata nggak akan ninggalin gue sekarang malah mengingkari ucapannya sendiri."
Resya memegang dadanya yang terasa sesak, "Lo jahat Andra."
Resya bangkit dari posisinya. Berjalan memutari danau yang tidak terlalu luas, menuju rumah pohon di seberang sana. Dapat terlihat rumah pohon yang masih terawat dengan cet warna biru dihiasi beberapa lembar foto menggantung di setiap dindingnya.
Resya memandangi foto-foto tersebut satu persatu hingga matanya berhenti pada satu foto. Foto tersebut menggambarkan dirinya dan Anandra Antonio yang merupakan pacar dari Resya.
Resya mengambil foto tersebut lalu tersenyum tipis. Air matanya tak dapat ditahan lagi, cairan bening itu pun mengalir di wajahnya. Ada rasa rindu dan benci menjadi satu.
"Gue rindu lo Ndra. Tapi apa kita bisa menjadi seperti dulu?" Resya mengusap air matanya kasar dia tidak boleh larut dalam kesedihan terus menerus.
Melupakan semua kenangan ini mungkin akan jauh lebih baik baginya. Meskipun sulit Resya harus terus mencoba, hingga akhirnya tiba dimana dia tidak lagi terkurung dalam bayangan masa lalu.
***
"Sya tunggu, Resya!" teriak Gara saat Resya memilih berlari menghindari dirinya.
Gara Valdiro pria yang terobsesi pada seorang Agresya Queenzia Arlana. Gara menyukai Resya sejak mereka masih SMP, sikapnya yang tempramental membuat Resya memilih menjauh dari dirinya. Namun bukannya memberi efek jera, Gara malah menjadi sangat terobsesi pada Resya. Dia akan menyingkirkan apa pun yang menghambat dirinya mendapatkan Resya.
Gara berlari mengejar Resya sambil terus memanggil nama gadis itu. Resya yang merasa ketakutan memilih bersembunyi dibalik semak-semak yang tidak jauh dari tempatnya.
Tangan Resya gemetar. Entah apa yang akan terjadi lagi jika Gara mendapatkan dirinya yang sedang bersembunyi. Jika saja Andra berada bersamanya maka Gara tidak akan dapat menyentuhnya walau hanya seujung jari saja. Namun sekarang Andra sudah tidak bersama Resya lagi, lantas siapa yang akan melindunginya?
Resya menggigit jarinya gemetar ketika Gara berdiri tepat didepan dirinya bersembunyi. Hanya semak yang memberi jarak keduanya, semoga Gara tidak menemukannya.
"Sial, lo dimana Resya," Gara berjalan menuju arah lain yang memudahkan Resya untuk kembali kabur.
Setelah dirasa cukup aman Resya pun berdiri hendak kembali berlari dan segera tiba di rumahnya.
"Dapat juga akhirnya," Resya memutar kepalanya kebelakang, tangannya telah dicekal oleh Gara.
"Lepasin!!"
"Nggak!" ucap Gara membentak.
"Hikss.. Sakit," cengkraman tangan Gara semakin kuat hingga membuat tangan Resya memerah.
"Jangan nangis Sya, gue sayang sama lo," Gara menghapus air mata Resya perlahan.
"Tapi gue nggak mau sama lo!"
"Diam!" bentak Gara, "Maafin gue Sya, gue lakuin ini karna lo harus jadi milik gue" sekarang nada suaranya menjadi sangat lembut.
"Berhenti ngejar gue Gara, dari awal gue udah tegasin sampai kapan pun gue nggak bakal mau sama lo."
Plakk
"Gue bilang diam!" Gara kembali meninggikan nada suaranya membuat Resya ketakutan.
Sosok Gara yang seperti inilah yang membuat Resya tidak ingin menjadi pacarnya. Gara tidak akan tanggung-tanggung memukul dirinya jika keinginannya tidak terpenuhi.
Gara membelai rambut Resya, menyelipkan di daun telinganya, "Nggak ada yang bisa nolongin lo malam ini," bisik Gara.
Bugh
Satu pukukan melayang kewajah Gara membuat sudut bibirnya robek. Gara memegangi sudut bibirnya yang berdarah, tersenyum smirk kearah pria yang memukulnya.
"Bacot lo Brian!" Gara membalas pukulan Brian namun berhasil di tahan.
Satu tendangan lagi tepat di perut Gara membuatnya tergeletak di jalan dan meringis kesakitan.
"Berani lo sentuh Resya, gue sendiri yang bakal bunuh lo," tegas Brian sambil menujuk Gara yang sudak tergeletak di jalan.
Gara pun berdiri dengan sisa tenaga yang dia miliki lalu pergi meninggalkan Resya dan Brian, "Tunggu pembalasan gua."
Brian Galdiro adalah sahabat dari Andra. Selain Andra yang menjaga Resya, Brian lah yang juga ikut menjaga gadis itu. Dia sangat tau bagaimana watak Gara yang sejak Andra pergi sudah melewati batas. Saat mereka masih SMP Gara tidak terlalu menunjukan sikap seperti saat sekarang di SMA yang cenderung brutal dan sering menyakiti Resya karena terus menolaknya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Brian cemas.
"Gue nggak apa-apa."
"Gue antar lo balik" putus Brian yang di angguki oleh Resya.
Gue harap lo segera bangun Andra, batin Brian
YOU ARE READING
ANANDRA
Teen Fiction"Gue sayang lo Zia," "Jangan berharap lebih lagi!" Resya menepis tangan Andra yang menahannya untuk pergi. Andra menatap kepergian gadis yang dicintainya. Tangannya meraih kepalanya, merasakan sakit yang begitu luar biasa. Tubuhnya jatuh menghantam...
