Part 1 (Si Eneng)

66 8 4
                                        

A novel by : kwardisss
Published by : @panggilansayang (akun kedua ku)

🍂🍂🍂

"Mak, Eneng berangkat sekolah dulu, ya!" teriak seorang gadis remaja berseragam putih biru di luar rumah, berpamitan pada Emaknya yang sepertinya sedang berkutat dengan peralatan dapur.

"Iye, hati-hati ya!" balas Emak ikutan teriak dari dalam rumah, "Bawa sepedanya jangan ngebut-ngebut!"

"Asyappp, Makkk!" Gadis yang diketahui bernama Eneng itu mengangkat tangan ke atas membentuk hormat. Kini posisinya sudah mengendarai sepeda tua dan butut miliknya, seperti seorang pangeran berkuda yang siap tempur di medan perang. Hiyakkk, maju prajurit!!! Serang!!!

Eneng, gadis sederhana yang hidupnya pas-pasan kayak mukanya yang pas-pasan makanya masih jomblo sampai saat ini, mulai menggoes sepedanya ke jalan raya yang kini masih tampak sepi.

Angin sepoi-poi menerpa wajah damai Eneng membuat dara manis itu refleks memejamkan matanya. Menikmati setiap moment indah yang tak akan pernah dirasakannya setiap saat. Terkadang suasana seperti inilah yang gadis itu inginkan. Sepi, jauh dari keramaian. Perlahan-lahan, senyuman tipis terukir di wajah manisnya.

“Gue meminta lebih sama dunia, boleh gak, ya? Gue berharap lebih sama manusia, boleh gak,ya?” tanya gadis itu pada dirinya sendiri di sela-sela nya mengayuh sepeda.

Pandangan matanya kosong menatap lurus ke depan. Sepotong kejadian masa lalu yang kelam berputar begitu saja dalam pikirannya. Dulu, dia adalah anak yang tak pernah kekurangan apapun dalam hidupnya. Boleh dibilang hidupnya nyaris sempurna, walau mereka hidup dalam kesederhanaan. Kasih sayang, penuh cinta dan hidup rukun, semua dimilikinya sebelum sebuah kejadian menimpa keluarganya. Bapak yang merupakan tulang punggung di keluarganya meninggal beberapa tahun yang lalu, berhasil merenggut kebahagiaan mereka. Dan kini, tinggallah dirinya bersama Emak yang sikapnya super duper bikin geleng-geleng kepala sambil joget goyang dua jari. Kanan, kanan, kiri... kanan, kanan, kiri... puter-puter jari...

Ahayyy, mantap!!!

Saking asyiknya melamunkan masa lalu yang rasanya sepahit kopi dan janji-janji manis si doi (Ah, nyesek!), Eneng sampai tak menyadari bahwa kini sebuah mobil avansa sedang melaju kencang dari arah yang berlawanan ke arahnya.

Tin-tin...

Ciiittttt...

Suara klakson mobil dan gesekan antara ban dengan aspal memenuhi jalan itu memekakkan telinga. Lalu diikuti teriakan histeris Eneng yang melolong seperti anjing betina yang sedang mencari jantannya.

“Ahhh... !!!”teriak Eneng sambil memejamkan kedua matanya takut. Jarak antara dirinya dengan mobil semakin menipis.

Mobil terhenti, tepat di hadapannya. Dan untungnya, tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Eneng dengan napas terengah-engahnya dan sebutir kecil keringat mengucur dari pelipisnya, remaja SMP itu turun dari sepedanya. Membawanya ke pinggir jalan kala pengendara mobil itu tak henti-hentinya membunyikan klakson mobilnya.

“Oiii, cewek miskin! Kalau bawa sepeda tuh hati-hati, kalau mau ngelamun di pinggir jalan sana sekalian jadi pengemis biar pro,” omel si pengendara mobil itu yang merupakan cowok yang umurnya tampak lebih tua darinya. Terdengar marah.

“Minggir lo!” sentaknya sekali lagi.

“Dih, santai aja dong!” cibir Eneng, diam-diam memberenggut kesal.

Ketika Eneng sudah berada di pinggir jalan, si pengendara mobil itu pun melenggang pergi dari sana. Sebelum benar-benar menghilang dari pandangannya, masih sempat-sempat cowok itu melayangkan cibiran padanya.

Si EnengWhere stories live. Discover now