1st: Pelayan Kedai

21 1 0
                                        

"DUA puluh empat tahun masih juga lajang. Pokoknya, ikut aku kencan buta besok. Ayolah, bertindak sebagaimana perempuan pada umumnya, Soonbok, temanku sayang."

Larik pesan di email Soonbook berhasil mendiami relung ingatan, diam-diam mencoreng naluri feminim si penerima. Sudah tiga belas jam ia memusingkan keputusan antara menjelajahi dunia baru sebagai wanita seutuhnya atau tetap pada keteguhan jiwanya sendiri yang terselindung sejumput sisi naif. Romantisme kehidupan nyaris menoreh alergi memang. Rumit dan menyusahkan, seperti benalu. Tapi, mustahil pula disangkal seorang Song Soonbok mendamba emas tempawan, sumpah. Dua puluh empat tahun melajang, apa enaknya?

Kakak Soonbok berceletuk. "Nanti ada saatnya, kau merasa ingin mempercantik diri ketika jatuh cinta, aku jamin."

Alhasil pipi Soonbok yang agak tembam telah merona di kedua sisi berkat polesan kosmetik karya Song Soomin, kakak Soonbok yang lekas menyepakati antusias tentang kencan buta sebelum adiknya menyebut konklusi. Pagi-pagi langsung membeberkan peralatan dandan dan bergairah menjantur Soonbok yang baru. Soomin senang selama adiknya mulai menikmati masa muda.

Sedangkan kesenangan Soonbok mendarat di lintang bibir Soomin. Mau tidak mau, adiknya mengiyakan ajakan kencan buta sang kawan karena Soomin terlihat sangat bungah.

"Mataku jadi besar." Soonbok berkaca di cermin rias kamar Soomin. Pelangak-pelongok, lirik sana dan sini meniti tiap elemen dari kontur wajahnya. Si sipit Soonbok sekarang memiliki lingkar mata yang tegas dan tajam, bulu mata yang lebih melintang, alis lebih tebal, bibir berwarna plum segar, dan secara keseluruhan wajah tampak mengilap enak dipandang. Sesaat adik Soomin dibuat terpana menatap pantulan diri sendiri.

Segala instrumen dibenahi, Soomin mengalit juntai panjang rambutnya cekatan jadi seikat di bawah kepala dengan kuncir yang dikulumnya sejak tadi. "Aku juga harus berangkat isi materi workshop. Semangat, jangan pulang terlalu larut," pesan kakak Soonbok sambil lalu, menyambar tas selempang bertali kecil dengan warna seelegan penampilannya.

Yang diamanahi? Malah sibuk dia dimabuk kepayang atas transformasi diri.

Soonbok baru tergugah saat bunyi keras di luar kamar merenggut kerja jantung sejenak. Buru-buru dia beringsut, mendapati vas bunga di ruang tamu telah kehilangan wujud aslinya selain sisa abstraksi puluhan kepingan keramik runcing-runcing. Hampir menyayat kulit mulus Soomin kalau Soonbok kurang cepat lempar instruksi menitah kakaknya supaya tidak dulu bergerak, jelas-jelas Soomin tersungkur dalam kolam beling di sana.

Bibir tipis Soomin naik memamerkan senyum getir seperti anak kecil malu-malu mengaku telah mencuri lembar seribu won di dompet ayahnya. Setetes semu keringat mengintip lancang dari sela helai rambut Soomin seakan turut khawatir.

"Maaf, jatuh lagi." Terkekeh ia seperti biasa. Tubuhnya yang ia maksud, terperosok tanpa sebab kesekian kali.

Padahal Soonbok sama sekali tidak mencium bau lucunya kejadian ini. Kalau memang patut ditertawakan, Soonbok tidak mau jadi satu-satunya yang berpikir sebelum tertawa.

Kondisi lemahnya persendian lutut kakak Soonbok tentu alasan serius gadis itu mati-matian cari lowongan kerja meskipun berulang kali gagal. Menjadi kilah yang membutakan matanya atas berahi dan foya-foya. Prinsip Soonbok, kebahagiaan Soomin nomor satu. Sekalipun bahagia sendiri masihlah diksi dengan ambiguitas makna. "Bagaimana aku bisa meninggalkanmu pergi sendirian kalau begini, Kak? Minta taksi mengantarmu sampai kantor nanti."

Soonbok memungut satu per satu serpih pecahan vas perlahan, menyapu lantai bersih, kemudian membopong Soomin sampai stasiun. Di sana dia pesankan taksi untuk Soomin Setidaknya setiba di tempat tujuan nanti, kaki Soomin sanggup kembali berjalan.

Bitter Resemblance || Jeon JungkookStories to obsess over. Discover now