patah hati terbesar adalah ekspetasi diri sendiri
Seorang gadis cantik tengah memandang langit malam yang di penuhi bintang sendirian baginya angin malam yang dingin sama seperti suasana hatinya sekarang
Anindya Nayara Safira seorang gadis SMA kelas 2, tengah duduk di teras rumahnya dengan satu helaan nafas keluar dari mulutnya. Bnayak yang janggal di fikirannya pertanyaan mengapa bergema di otaknya.
"Hufftt, sia sia banget gue setia selama satu tahun lebih kalo ujungnya tetep kaya gini". Gumam nya dengan memandang hp yang ia genggam,. "Kalo tau ujungnya kaya gini, ngga gue terusin dari kemarin," satu air mata menetas di pipi mulusnya. ia kesal dengan apa yang terjadi padanya.
"Sialan ni mata nangis lagi,,, huaaaa hiks COWO SIALAN!!" geramnya dan membanting hpnya ke tanah
Hal tersebut tidak lepas dari pandangan anak perempuan yang berada tidak jauh darinya, Anak itu lalu mendekati anin dengan genggaman makanan ringan di tangannya . "Kenapa teriak-teriak teh". Pertanyaan polos keluar dari bibirnya yang mungil
"Kamu ngapain keluar sih de, sana ah ke dalem sama mamah" ucap anin memandang tajam mata adiknya
"Tteh ko marah, shella kan cuman pengen liat teteh aja" ucap Shella dengan polosnya. Anin yang mengdengar itu hanya memutarkan bola matanya dan tidak mengubris ucapan adiknya itu.
"Tteh nangis yah? Hahahaha " ucapan polos adiknya membuat Anin geram, ia memejamkan matanya dan segera menghapus air mata yang jatuh ke pipinya. "Lo apaa siii, pergi sana!". Ucap Anin dengan lantang dan tidak sengaja membentak adiknya.
"Mamah teteh bentak Shella" Teriak Shella mengadu kepada mmahnya yang ada di dalam rumah, "udah pasti kena amuk gue" gumam anin sembari memejamkan matanya.
"Anin, kamu apain adik kamu?" Teriak mamahnya dari dalam rumah ,"tuh kan "gumam anin dalam hati. "Ngga anin apa apain mah" balas anin dengan teriak, Anin sangat tau selanjutya apa yang akan terjadi, mamah Anin merupakan perempuan yang cantik akan tetapi sangat menyeramkan menurutnya, Karena ia tidak akan segan-segan menghukum anak-anaknya jika menurut ia itu tidak baik.
"itu ko kenapa bisa nangis coba, jangan berantem inget adik kamu masih kecil" teriak mamahnya di dalam rumah. Anin hanya mengela nafasnya tidak mengubris ucapan mamahnya itu. Teriakan mamahnya pun tidak ia sahut kembali, anin yakin pasti mamahnya menenangkan adiknya yang sedang menangis itu, "anak cengeng dasar" guman anin pelan
"Hp guee!" Ucap anin sepontan saat melihat hpnya yang tergeletak di atas tanah dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Anin mengambil hpnya dan segera melangkahkan kakinya kedalam rumah, anin ingin istirahat mengistirahatkan hati dan fikirannya.
Saat melewati ruangan keluarga anin melihat mamah dan adiknya sedang duduk di depan televisi,
"Nin makan malam dulu sana" ucap mamahnya, anin menghentikan langkahnya saat akan memasuki kamar, "Engga ah mah,Anin ngga laper, besok aja" ucap anin memandang mmahnya dengan tersenyum. Mamahnya hanya menganggukan kepala sebagai pertanda tidak keberatan dengan keinginan anaknya.
"Teh anin lagi galau mah, di putusin kali haha" ucap adiknya menyahuti.
"Diem lo, gue ngga ngomong sama lo" ucap anin menatap bengis adiknya. Shella hanya memandang Anin dengan tatapan menggodanya. Anin kesal bukan main, kalau saja tidak ada mamahnya di sana Adiknya akan ia hajar sampai menangis.
"Udah udah berisik, ade jangan gitu sama tteh ngga sopan" ucap mmahnya memandang Shella, ia hanya cengengesan memandang mamahnya dengan perasaan tidak bersalah. "Tteh juga jangan gitu sama adiknya kan masih kecil" ucap mamahnya melerai pertengkaran mereka.
"Ia mah" ucap Anin dengan tatapan masih penuh dendam kepada adiknya, shella hanya membalas dengan menjulurkan lidah pertanda tidak takut dengan Anin. Anin memutas bola matanya malas ketika melihat respon adiknya itu.
YOU ARE READING
Pemilik hati
Teen Fiction"Kata orang cinta datang karena terbiasa, mungkin aku dulu sempat meragukannya, tapi saat ini aku mulai memahami pelan-pelan. Rasanya seperti hangat yang merayap tanpa suara, hingga akhirnya menetap tanpa diminta. Kata orabg setelah badai berlalu ak...
