1. Di Balik Bayangan

157 18 10
                                        

"Bagas!" panggil seorang pemuda dari balik pintu kamar

Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.

"Bagas!" panggil seorang pemuda dari balik pintu kamar.

Sang pemilik nama itu pun menoleh dari bilik balkon. Mata sayunya mengisyaratkan bahwa dirinya sedang lelah dengan semua masalah yang menimpanya. Bagaskara, pemuda berusia tujuh belas tahun itu dengan rambut hitam acak-acakan dan postur tubuh tinggi namun kurus, tidak berniat untuk membuka pintu, meskipun pemuda di balik pintu itu terus menggerutu untuk dibukakan.

Bagaskara hanya ingin sendirian sekarang, menikmati angin sejuk yang berhembus sembari menghisap sebatang rokoknya. Keadaannya saat ini benar-benar kacau. Pikirannya penuh dengan kekhawatiran dan kekecewaan yang tak kunjung reda. Ia selalu tampil dengan tatapan kosong dan senyuman pahit, seolah membawa beban dunia di pundaknya.

"Bagas! Buka pintunya!" teriak pemuda itu lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak.

Bagaskara hanya bisa tersenyum pasrah. Sepertinya, pemuda di luar kamar sudah mulai emosi. Daripada menambah masalah, Bagaskara akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamarnya dan membiarkan pemuda itu masuk.

"Kenapa lo lama banget buka pintunya, ha?!" bentak pemuda itu, nadanya penuh kekesalan. Pemuda itu adalah Baskara, kakak kembar Bagaskara. Baskara memiliki temperamen cepat marah tetapi hati yang baik. Ia memiliki rambut hitam yang sama acak-acakannya dengan adiknya, tetapi postur tubuhnya sedikit lebih tegap dan sorot matanya lebih tajam, selalu penuh semangat.

Bagaskara menatapnya dengan pandangan kosong, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Gue cuma butuh waktu sendiri," jawabnya pelan, suara seraknya nyaris tak terdengar.

Baskara menarik napas panjang, berusaha meredam emosinya. "Kita semua punya masalah, Bagas. Tapi kita nggak bisa lari dari semuanya sendirian."

Bagaskara mengangguk perlahan, menyadari kebenaran kata-kata kakaknya. Ia mematikan rokoknya dan mengajak Baskara duduk di sofa, mencoba mencari ketenangan di tengah kekacauan yang melanda hidupnya. Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati hening yang anehnya terasa menenangkan.

Tadi, saat Baskara sampai di rumah, suasana terasa sangat mencekam. Ia melihat papanya di ruang tamu tampak marah, sementara mamanya berusaha menenangkannya. Tanpa menyapa lagi, Baskara memutuskan untuk langsung menghampiri Bagaskara dan melihat keadaannya.

Baskara tahu, jika suasananya seperti ini, pasti sedang ada perdebatan antara Papanya dengan Bagaskara. Hubungan mereka berdua memang tidak baik, entah mengapa, selama ini papanya itu sangat membenci Bagaskara. Baskara pun heran, mengapa Papanya sangat membenci adik kembarnya itu.

Atau mungkin karena Bagaskara nakal?

Sudah biasa bagi anak kembar untuk memiliki kepribadian yang berbeda. Baskara, sang kakak, memiliki sifat penurut, berprestasi, dan bertanggung jawab; semua aspek positif ada pada dirinya. Sedangkan Bagaskara, sebaliknya. Bagaskara adalah pemuda yang cenderung pemberontak, selalu berusaha menentang aturan dan mencari jalannya sendiri.

Dengan rambut yang sering kali berantakan dan gaya berpakaian yang terlihat sembarangan, ia memiliki kesan acuh tak acuh terhadap pandangan orang lain. Di sekolah, Bagaskara dikenal sebagai siswa yang sering membolos dan terlibat dalam berbagai masalah.

Namun, di balik kenakalannya, ia sebenarnya cerdas dan sering mendapatkan nilai bagus dalam ujian. Meski begitu, usahanya untuk mendapatkan pengakuan dari sang papa selalu berakhir sia-sia. Sifat keras kepala dan keengganannya untuk tunduk pada otoritas membuatnya sering berselisih dengan papanya, yang tidak pernah melihat nilai-nilai positif dalam dirinya. Bagaskara merasa terjebak dalam bayangan kakaknya yang sempurna, membuatnya semakin frustasi dan terasing dari keluarganya.

Seharusnya Bagaskara sudah terbiasa dengan sikap Papanya yang seperti itu. Tapi, Bagaskara tidak bisa; semakin lama, sikap itu semakin menyakitkan baginya. Bagaskara tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan agar terlihat baik di mata papanya.

"Are you okay?" tanya Baskara saat emosinya mereda.

Bagaskara mengangguk pelan. "Gue nggak apa-apa."

Baskara mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Bagaskara dengan dingin. Adik kembarnya ini tidak pernah jujur, dan Bagaskara selalu saja menjawab tidak apa-apa setiap kali ditanya oleh Baskara.

"Lo diapain lagi sama Papa?" tanya Baskara lagi.

Bagaskara menyunggingkan senyum pedih, lalu menjawab dengan pasrah, "Gue ketauan Papa punya apartemen sendiri. Bas, lo tau, kan, apartemen itu pemberian dari Oma buat gue? Karena Oma tau, hubungan gue sama Papa selama ini nggak baik. Makanya Oma kasih apartemen itu buat gue, semisal gue ada masalah sama Papa di rumah."

Setelah menjelaskan hal itu pada Baskara, Bagaskara menghembuskan napas gusar. Kemudian ia melanjutkan, "Gue takut, Bas. Papa marah banget sama gue tadi. Lo nggak ada di sisi gue, nggak ada yang belain gue. Gue dipukul habis-habisan sama Papa. Sedangkan Mama, raut wajahnya khawatir, tapi dia cuma bisa diem. Dia nggak ada niat buat nolongin gue sama sekali. Dia cuma mikirin Papa yang takut marah sama dia kalau dia belain gue."

Bagaskara mulai menangis, menundukkan kepalanya, dan air matanya mengalir deras di pipinya. Baskara yang melihat adik kembarnya menangis, langsung memeluknya erat, mencoba memberinya ketenangan.

Kali ini papanya itu benar-benar sudah keterlaluan. Baskara sudah berkali-kali mengingatkannya agar berhenti bersikap kasar terhadap Bagaskara. Setelah ini, Baskara bertekad akan turun dan berbicara langsung dengan sang papa.

"Nanti gue ngomong sama Papa. Lo jangan khawatir. Jangan juga ngerusak diri lo dengan mabuk atau merokok berlebihan," pesan Baskara dengan lembut.

Tak lama kemudian, tangis Bagaskara mereda. Ia menatap mata Baskara yang penuh dengan keprihatinan. "Gue nggak tau lagi harus gimana kalau lo juga ada di pihak Papa, Bas," kata Bagaskara dengan nada frustrasi.

"Mau sampai kapan pun, gue bakal terus ada di sisi lo dan ngejagain lo, Gas. Walaupun kita kembar dan lahir di hari yang sama, tanggal yang sama, tahun yang sama, hanya beda 5 menit, lo itu tetap adik gue," balas Baskara. "Ya... Karena gue duluan yang keluar dari perut Mama," lanjut Baskara sambil tertawa.

Mendengar itu, Bagaskara tidak tahan untuk tertawa. Akhirnya, ia ikut tertawa bersama Baskara.

Bagaskara bersyukur memiliki saudara kembar yang sangat baik padanya. Sejak dulu, Baskara selalu ada di sisinya, selalu membelanya, dan selalu melindunginya. Semoga saja, hubungan mereka akan terus seperti ini, penuh kebersamaan dan saling mendukung.

Saat mereka tertawa bersama, Bagaskara merasa sedikit beban di hatinya terangkat. Ia tahu bahwa meskipun dunia tampak tidak adil dan penuh dengan kesulitan, ia memiliki Baskara yang selalu ada untuknya. Itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan harapan dan kekuatan untuk terus bertahan.

Hai, semua!

Jangan lupa vote, ya!

Gimana? Sudah di vote?

Gimana? Sudah di vote?

Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
Baskara & BagaskaraDes histoires addictives. Découvrez maintenant