Prolog

105 19 38
                                        

Malaysia, negara impianku untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun sepertinya, kini impianku pupus seketika. Tak ada lagi secuil harapan untuk menuju negara Upin dan Ipin itu.

Alasannya karena aku tidak diterima sebagai mahasiswi dengan full beasiswa. Aku diterima sebagai mahasiswi, hanya saja, biaya kuliah tidak ditanggung oleh pihak universitas, semua ditanggung olehku. Aku, sih, tidak mau menghamburkan uang milik kedua orang tuaku hanya untuk membiayai uang kuliahku.

Aku menghela napas pasrah. Ini adalah takdirku. Takdir yang diberikan oleh Allah. Mungkin Allah memiliki maksud lain dibalik semua ini.

Tok! Tok!

"Zahra, Ibu ingin bicara," suara ibuku yang terdengar membuatku mengurungkan niat untuk berdecak sebal.

Dengan segera, aku membukakan pintu kamar dan kini tampak jelas wajah ibuku di hadapanku. Dengan membawa nampan berisi segelas teh hangat, yang membuat perasaanku menghangat.

Ibuku tersenyum seraya memberikan segelas teh hangat itu kepadaku. Rasanya ingin sekali aku menangis, menunjukkan air mata kebahagiaan setiap kali ibuku menaruh perhatiannya kepadaku. Ah, aku seperti anak baru gede yang haus akan perhatian.

"Zah?" panggil ibuku lagi.

Aku tersenyum, membalas senyum ibuku, "Iya, Bu."

Ibuku langsung nyelonong masuk ke dalam kamarku. Aku membulatkan mataku lebar-lebar, tak paham dengan apa yang ibuku akan lakukan.

"Sini," pinta ibuku lembut seraya menepuk tepi ranjang di sebelahnya, "Duduk di sebelah Ibu."

Aku mengangguk mengiyakan sebagai jawaban. Dengan langkah yang lebar, aku menghampiri tempat di mana ibuku singgah. Dari tatapan ibuku, terlihat sekali bahwa ia ingin berbicara serius denganku.

Kini posisiku sudah berada di sebelah ibuku, dengan duduk di tepi ranjang sembari memegang segelas teh hangat yang tadi sempat ibuku berikan kepadaku. Aku melihat ibuku menempatkan nampan di meja nakasku. Tak lama setelah itu, ibuku menghela napas panjang. Kebiasaan yang dilakukan ibuku ketika akan berbicara serius adalah helaan napasnya.

Ibuku menatapku dengan intens, "Maaf ...," ucapnya yang membuatku dengan cepat menyernyitkan keningku.

"Ibu gak pernah ada salah apa-apa sama aku, untuk apa minta maaf?"

"Maaf untuk semuanya," jawab ibuku yang semakin membuat tanda tak paham di benakku, "Terutama untuk semua impian kamu yang nggak pernah tercapai."

Aku menggeleng pelan, kini aku tahu mengenai topik apa yang akan dibahas oleh ibuku, "Ini memang udah takdirku, Bu," jawabku seadanya.

Tatapan ibuku sendu, seperti hendak mengeluarkan setetes air mata. Dengan cepat, aku kembali berkata, "Soal impian, mungkin akan ada saatnya tercapai. Ibu gak perlu minta maaf."

"Ibu merasa nggak berguna sebagai seorang Ibu," ucap ibuku kembali dengan nada yang sangat pelan, terdengar seperti bisikan, "Benar-benar nggak berguna. Nggak pernah mewujudkan impian anaknya."

Aku menggeleng pelan, dan dengan bersamaan, air mataku menetes. Aku langsung memeluk ibuku dengan tangisan yang pecah. Sungguh, anak mana yang tidak sedih jika ibunya berkata seperti itu?

"Istigfar, Bu. Ibu gak boleh ngomong seperti itu. Ini memang udah takdir aku, Ibu nggak boleh merasa bersalah. Lagipula, jika memang takdirku adalah tidak melanjutkan pendidikan setelah SMA, itu gak jadi masalah. Justru bagus, karena aku bisa langsung kerja, kan?" terangku panjang lebar.

Ibuku menghapus air mataku dengan tangannya yang lembut. Ia tersenyum menatapku. Hangat. Itu yang kulihat dari senyum ibuku.

"Ibu tetap akan berjuang untuk mewujudkan impian kamu."

Aku menghembuskan napas gusar, "Bu, tolong ... Gak usah bahas itu lagi, Zahra mau langsung kerja," tolakku.

"Tap-"

"Zahra udah ada niatan ngelamar kerja di perusahaan ternama, Bu. Kata tetangga sebelah, ada perusahaan yang lagi buka lowongan kerja lulusan SMA," potongku cepat seraya tersenyum manis.

Dan lagi-lagi, ibuku menghela napas panjang, "Zah ..."

Tok! Tok!

"Assalamualaikum, Ayah pulang!"

Dengan cepat, aku bangkit dari tempat yang sempat diduduki dan langsung meninggalkan ibuku. Sebelum aku benar-benar keluar dari kamarku, terdengar hembusan pasrah dari ibuku yang sepertinya kewalahan menghadapiku yang keras kepala. Maaf ibu, untuk kali ini, aku yang akan berjuang untuk keluarga kita.

***

Hai, gimana prolognya? Menarik? Atau cukup rumit?

Selama 100 hari ke depan, aku bakalan fokus sama cerita ini, ya. By the way, cerita ini adalah cerita pertama yang memakai sudut pandang pertama diantara semua ceritaku. Makin seru? Insya Allah, deh, hehe.

Jangan lupa tinggalkan jejak sebelum beralih ke bab selanjutnya, terimakasih!

Salam hangat,

Latifah

The Pursuit of LoveStories to obsess over. Discover now