"Kau tidak bisa kabur dariku anak manja!"
Perkataan Gianna terus terngiang-giang di kepalanya. Gadis bermata hazel itu terus melangkah menyusuri hiruk pikuk jalanan kota. Hatinya sedang gundah karena pertikaiannya dengan ibu tirinya. Kepalanya terasa pusing memikirkan perkataan ketus ibu tirinya itu. Andai membunuh diperbolehkan, ia ingin sekali menikam ibu tirinya dengan benda tajam. Tapi pikirannya masih waras, ia tak mungkin melakukannya.
Olivia Michelle Wright, orang-orang memanggilnya dengan Livy. Gadis bermata hazel yang kini kabur dari rumahnya. Kakinya telah jauh melangkah, hatinya tak tahu tujuannya. Livy mendudukkan dirinya di bangku dekat taman. Kakinya terasa kebas akibat lama berjalan. Livy tak membawa apa-apa saat kabur dari rumahnya. Livy hanya membawa dirinya sendiri, itu sangat konyol. Tidak ada sepeserpun uang di kantong Hoodie maupun kantong celananya. Tidak ada barang-barang yang dibawanya.
Livy menatap langit-langit biru. Terlihat indah dipandang mata. Sejenak melupakan masalah yang ada dipikirannya. Pikirannya terus berputar memikirkan hidupnya yang kadang menyedihkan. Hidup dengan ibu tiri yang pemarah jangan lupakan tugas sekolah yang selalu menumpuk. Ditambah kakak tirinya yang protektif. Livy masih mempunyai orang tua kandung yaitu papanya, Thomas Wright. Tapi Thomas adalah orang yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jarang meluangkan waktunya untuk Livy.
Livy terlalu larut dalam pikirannya, tanpa sadar ada seorang pemuda duduk disampingnya. Pemuda itu memakai hoodie sama seperti dirinya. Kakinya dibalut oleh celana jeans panjang serta sepatu sneaker sebagai alasnya. Pemuda itu menyapanya. Livy tersenyum mengangguk membalas sapaan pemuda itu. Livy terdiam sejenak, mengamati pemuda disampingnya. Bagi Livy, wajahnya terlihat familiar. Livy mengingatnya, pemuda itu adalah Ethan seniornya di sekolah.
"Sedang apa kau disini?" tanya pemuda bernama Ethan.
"Aku hanya melihat bunga di taman ini. Kau sedang apa?" Livy bertanya balik.
"Aku sedang mencari udara segar. Aku rasa, aku butuh udara segar."
"Sepertinya aku mengenal dirimu? Kau seperti Ethan seniorku di sekolah. Katanya, Ethan adalah siswa populer. Aku tidak terlalu percaya."
"Ya, aku memang Ethan yang kau maksud. Senang bertemu denganmu, siapa namamu?"
"Olivia Wright, kau bisa memanggilku Livy atau Olivia. Tapi, orang-orang memanggilku dengan Livy. Itu panggilanku sejak kecil."
"Ethan Sanders, kau bisa memanggilku Ethan." Ethan memperkenalkan dirinya.
"Aku sudah tahu namamu. Tidak usah berkenalan." Ethan hanya tersenyum mendengar perkataan Livy. Dirinya begitu terkenal dikalangan para siswa.
Mereka mulai bercerita satu sama lain. Menceritakan tentang kehidupan mereka. Livy bercerita tentang kaburnya dari rumah karena pertikaiannya dengan ibu tirinya. Ethan mendengarnya sesekali menanggapi cerita Livy.
"Asal kau tahu, Liv? Aku juga kesal dengan ayahku."
"Apa kau bertengkar dengan ayahmu?" Ethan hanya menaikkan bahunya, seperti malas menjawabnya.
"Ayahku akan menikah dengan wanita berusia 29 tahun. Dia dan ayahku berjarak sekitar 11 tahun. Apa ini tidak gila!"
"Mungkin, dia jodoh ayahmu. Semoga kau tidak bernasib sepertiku."
Ethan menceritakan keluh kesahnya pada Livy. Ethan bercerita bahwa dirinya korban broken home. Orang tuanya bercerai ketika Ethan berusia empat belas tahun karena perselingkuhan. Saat itu, Ethan tidak terlalu mengerti tentang urusan orang dewasa. Ethan berpisah dari ibunya, hak asuhnya jatuh pada ayahnya. Ibunya jarang menemui Ethan karena sibuk dengan pekerjaannya sebagai model.
YOU ARE READING
After Meet You
RomanceOlivia Michelle Wright, orang-orang memanggilnya dengan Livy. Semenjak kematian ibunya akibat kecelakaan, Livy menjadi gadis pendiam dan berwatak dingin. Ayahnya menikah lagi saat usia Livy menginjak lima belas tahun. Hidupnya bertambah buruk setela...
