Lima

4.6K 365 21
                                    

Selamat membaca ❤

Author POV

Semalam Arkan berjanji akan mengajak istrinya jalan-jalan di hari minggu ini, tujuan mereka adalah kota tua.
Saat ini Mentari baru selesai memandikan Melati, tiba-tiba terdengar orang memencet bell mereka.

"Mbak tolong pakaikan baju Melati biar saya yang buka pintu." Kata Mentari lalu melihat siapa yang datang.

"Baik bu."

Ketika pintu di buka, terlihat seorang wanita lumayan cantik berkaca mata hitam, rambut pendek sebahu, memakai baju yang sepertinya merek terkenal dan tasnya juga tak kalah bermerek.

"Maaf bu cari siapa, " tanya Mentari, wanita itu menatap Mentari dari atas sampai bawah, saat ini Mentari hanya memakai daster rumahan yang sering ia gunakan saat di rumah, juga hijab simple yang bisa langsung pakai. Karena baru selesai memandikan anaknya terlihat bajunya sedikit basah.

"Saya mau bertemu tuanmu," ujar wanita itu.

"Tuan?" Mentari mengerutkan keningnya.

"Iya, dia ada kan." Ujarnya sambil mencoba melihat kedalam rumah mencari sosok yang ia cari. Tak lama kemudian Melati datang dari dalam menghampiri ibunya.

"Pasti ini Melati ya. Cantik banget sih kamu," wanita itu mencoba menggendong Melati tapi balita itu menolaknya.

"Sini sama tante. Kita ajak Papa kamu jalan-jalan ya sayang." Melati menggeleng kan kepalanya.

"Papanya Melati ada kan,"

"Ada lagi mandi,"

"Baguslah," tanpa di persilahkan masuk wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah. Mentari hanya mengikutinya dari belakang. Dalam hatinya bertanya, siapa wanita ini, apa dia sudah ada janji dengan mas Arkan. Saat ini Mentari hanya diam melihat wanita itu sedang memandangi sekeliling rumah.

"Sudah berapa lama kamu jadi pengasuhnya Melati. Baguslah kalau anak itu dekat pengasuhnya, biar aku bisa berduan dengan Papanya selalu tanpa ada gangguan." Ujar wanita itu, sekarang dia duduk bertumpang kaki sesekali melihat kukunya yang ia cat warna merah. Mentari paham wanita itu menganggapnya hanya asisten. "Oke.. kita lihat ..permainan di mulai," batin Mentari. Dia juga ingin tahu apakah suaminya punya wanita lain atau tidak.

"Saya mengurus Melati sejak dia lahir, jadi dia sangat dekat dengan saya."

"Tenang saja saya tidak akan memecat kamu. Malah saya akan naikan gajih kamu, kalau kamu kerja dengan baik. Jangan pernah biarkan anak itu mengganggu kami kalau saya dan Papanya dia sedang berduaan. Kamu ngerti kan pengantin baru." Mentari mengangguk.

"Mengerti bu, emang kapan ibu akan menikah dengan Papanya Melati?" Tanya Mentari

"Sebentar lagi, setelah dia menerima pernyataan cinta saya, saya akan menyuruhnya segera melamar saya. Dan saya akan jadi ratu di rumah ini,"

"Siapa yang akan menjadi ratu di rumah ini?" Itu suara Indah yang baru masuk.

"Saya, memang siapa lagi calon istri Dokter Arkan yang pantas selain saya."

"Sebentar lagi saya akan menjadi nyonya kalian." Wanita itu menunjuk Indah dan Mentari bergantian. Sama seperti Mentari, Indah juga hanya memakai daster rumahan.

"Apa kamu bilang, nyonya?"

"Iya, saya yang akan menjadi nyonya baru kalian. Ingat saya bisa memecat kalian kalau kalian kurang ajar sama saya." Ujarnya sombong.

"Pecat aja kalau bisa, kami tidak takut," Mentari mulai geram pada wanita ini, dengan seenaknya dia  mengklaim calon istri  Arkan suaminya.

"Kamu berani kurang ajar sama saya ya."

"Siapa yang suruh kalian duduk di sofa, tempat kalian di lantai ga pantes kalian duduk di sofa mahal." Indah dan menantunya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat wanita itu, sebenarnya para asisten rumah tangga ingin menghampiri mereka tapi Mentari mengisyaratkan mereka tetap di dapur.

"Saya sudah terbiasa duduk di sofa nyonya." Kata Mentari santai sekarang dia juga mengangkat satu kakinya. Dia duduk di samping Indah dengan Melati di pangkuannya.

"Kurang ajar kamu," wanita itu lalu menarik kerudung mentari untung tidak sampai terlepas.

"LIDYA " suara barinton Arkan mengagetkan nya.

"Mas... itu para asisten kamu pada kurang ajar sama saya," dia menunjuk Indah dan Mentari.

"Mereka pantes di beri pelajaran agar tidak kurang ajar lagi."

"Siapa yang nyuruh kamu masuk rumah saya,"

"Apa.. mas. Aku cinta sama kamu mas," ujar Lidya, ya ternyata wanita itu bernama Lidya, lalu mendekati Arkan. Dan Arkan berjalan menuju ibu dan istrinya berada.

"Cinta kok cuma sama bapaknya aja, sama anaknya enggak. Malah suruh pengasuh membawa jauh-jauh Melati dari papanya." Kata Indah, sebenarnya dia sudah dari tadi, mendengar pembicaraan menantu dan wanita yang mengaku calon istri Arkan.

"Tutup mulutmu wanita tua bangka," ujar Lidya  menaikan satu oktaf suaranya. Membentak Indah.

"Jangan pernah berteriak pada ibuku, " kata Arkan lalu mencium tangan ibunya.

"Mommy sudah lama,"

"Apa mommy," Lidya kaget ternyata wanita yang sebut tua bangka itu calon mertuanya.

"Iya dia putra saya." Indah menampilkan senyum terbaiknya. Lidya masih melongo.

"Kamu kenal dengan wanita itu Arkan"

"Dia dokter Lidya teman ku di rumah sakit mom." Sekarang Arkan duduk di tengah-tengah Mentari dan Indah.

"Kenapa dia mengaku calon istri kamu. Kamu mau menikah lagi." Arkan menatap Mentari yang sedang mentapnya, sungguh dia merasa takut Mentari marah.

"Kami hanya berteman mom," lalu dia menggenggam tangan Mentari.

"Apa dia bekerja dengan kamu di Hutomo Hospital mas." Arkan mengangguk.

"Aku akan coba bicara dengan ayah, apa dia masih pantes kerja di rumah sakit atau tidak." Sekarang Mentari menatap wanita itu tajam.

"Apa maksud kamu. Seorang pengasuh tidak perlu ikut campur urusan atasannya."

"Siapa yang kamu maksud pengasuh? Kenalin saya Mentari Kianitha Hutomo anak Aditya Hutomo, pemilik dari Hutomo Hospital. Istri dari Arkan Aldama." Dan pernyataannya membuat Lidya mematung. Ternyata Mentari anak pemilik rumah sakit tempat dia bekerja. Yang lebih mengagetkannya dia istri Arkan laki-laki yang dia cintai.

Malu... jelas saya Lidya malu apalagi di sini ada ibu Arkan juga.

"Apa karena penampilan saya seperti ini, anda menganggap kami seorang asisten," Lidya tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Pupus sudah harapannya memiliki Arkan, istrinya lebih jauh darinya. Mentari lebih kaya, jelas dia keturunan keluarga Hutomo yang memiliki beberapa rumah sakit di seluruh wilayah Nusantara. Cantik, pasti Mentari cantik, dia pernah melihat Kasih ibu  Mentari yang memang sangat cantik, hanya saja saat ini Mentari tidak sedang dandan.

"Maaf untuk semuanya. Saya permisi dulu. Maaf mas mungkin mas memang bukan jodoh saya, bu Mentari memang cocok buat mas, nyonya Aldama saya juga minta maaf. Saya permisi." Lidya benar-benar tidak sanggup berada lama-lama lagi dengan mereka.

"Arkan kamu harus segera mengadakan resepsi, agar semua orang tahu kalau Mentari itu istri kamu. Mommy ga mau kejadian seperti tadi terulang." Tegas Indah.

"Aku dan istriku sudah membicarakannya mom. Kita akan segera mengadakan resepsi. Mungkin bulan depan."

"Bagus. Bila perlu acara yang sangat mewah."

"Baik mom. Ngomong-ngomong mommy ada apa datang kesini pagi-pagi "

"Ini mommy bikinin makanan kesukaan Mentari dan Melati, nanti sore mommy dan babah kamu akan keluar kota selama tiga hari."

"Biasa jalan-jalan "

Mentari berharap pernikahannya seperti orang tuanya dan mertuanya, langgeng sampai kakek nenek.

Bersambung

28 Maret 2021

THB

Mentari untuk Arkan  (Aldama Family seri 3)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang