💉 Prolog 💊

7.6K 491 79
                                        

WARNING! ⚠️

Peringatan, ff ini memuat banyak kata-kata kasar, perilaku bodoh yang tak patut dicontoh, hal-hal yang mustahil dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Cerita ringan dengan tokoh yang rata-rata rada gesrek nyerepet ke bahlul.

Typo(s) bertebaran, ada dialog dengan bahasa daerah dikit, narasi non baku dan kadang sebaliknya. Tidak sesuai dengan PUEBI, EYD apalagi masuk ke dalam KBBI! Isinya ditulis sesuka hati author.

Tidak terima komplen yang membahas kenapa tanda bacanya salah, kalimat yang tidak tepat atau lain sebagainya, karena balik lagi ke atas, ini cuma ff selingan dan ditulis sesuka hati authornya!





















Cengiran miring itu nampak jelas terkembang di wajah Chandra, mana kala manik gelapnya bertemu tatap dengan karamel Lina saat ini.

"Udah 'lah, ngaku aja lo sekarang ini!" titahnya sembari meregangkan punggung dan bersandar pada kursi taman tersebut.

"Ngaku apaan sih?!" sahut Lina dengan nada yang tinggi serta alis saling bertautan. Lebih dari itu sebenarnya dalam hati ia sudah meracau tak tentu, takut kalau-kalau sebenarnya Chandra memang tahu siapa ia sebenarnya.

"Dih, pura-pura," cowok berkulit pucat itu malah mendecih sarkas. Diambilnya sebatang rokok dari dalam saku celana sebelum menyulut api pada ujungnya. Dan kepulan asap putih pun membumbung tinggi ke udara.

Tapi sialnya, Chandra dengan amat sengaja meniupkan asap itu pada Lina, membuat gadis tersebut batuk sesaat sembari sibuk mengibas-ngibaskan tangan ke depan.

"Tuh 'kan bener apa yang gue pikir. Lo pasti batuk kalo kena asep rokok!" ucap Chandra lagi.

"Heh, Maman! Semua orang juga pasti batuk kalo kena asep! Jangan 'kan asep rokok, asep dari kentut lo aja bisa bikin gue bengek!" bentak Lina, ketus sekali. Tapi entah kenapa si lawan bicara lantas tertawa mendengarnya.

"Ah, gue jadi beneran yakin sekarang," katanya kemudian.

"Paan sih lo!? Udah deh, kalo emang gak ada yang mau lo omongin, gue mau balik ke kelas aja! Mau nugas! Gak guna banget duduk di sini lama-lama kalo cuma buat nemenin lo ngerokok doang!" omel Lina pada akhirnya. Ia kemudian segera bangun dari kursi, namun mana kala hendak beranjak mendadak tangan besar Chandra lekas mencekal lengannya.

"Tunggu dulu kenapa sih! Gue belom sempet ngomong!" tahannya kemudian.

"Ya kalo mau ngomong buruan, dong! Lama banget kek nenek-nenek bangun beranak!"

Mendengar itu Chandra berdecih sarkas, ia kemudian mematikan ujung bara api rokoknya sebelum berdehem pelan.

"Duduk!" titahnya lagi, kali ini terdengar tegas dan juga serius, yang akhirnya membuat Lina mau tak mau ikut menurut. Ia kembali duduk ke tempatnya semula. "Gue tau lo nyembunyiin sesuatu dari gue," kata si cowok pada akhirnya, memulai obrolan yang sejak tadi tertahan.

"Nyembunyiin sesuatu?" Lina membeo dengan wajah bingung, "Apaan?" tanyanya kemudian.

Angin berdesir pelan, menggoyangkan anak-anak rambut keduanya. Membuat untaian helai panjang selembut sutera milik Lina ikut terhempas sesaat. Bersamaan dengan itu, Chandra sekilas menemukan sesuatu yang sebenarnya sejak awal sudah ia ketahui keberadaannya; sebuah bekas luka di bawah telinga kiri Lina.

"Chan!" gadis itu setengah berseru mana kala memanggil namanya, dan seperti menemukan sesuatu lagi lewat intonasi nada meninggi tersebut; Chandra tersenyum miring seketika.

Pemuda tersebut melirik arlojinya sesaat; melihat bila waktu istirahat akan segera usai sekitar sepuluh menit lagi. Yangmana artinya ia harus sesegera mungkin mengatakan hal yang menjadi alasan kenapa keduanya berada di sini.

Overdoze [Banginho]Stories to obsess over. Discover now