Ini Satu

87 13 30
                                        

Tanganku terulur, ucapan terima kasih ku balas dengan sama. Ini sudah lumayan. Berdiri sendiri, tanpa memperdulikan apa kata mereka, aku juga bisa bahagia, kan?

"Mas Aksa, menu spesial dua porsi untuk meja sebelas," sungkan, suara Aluna, berkata kepadaku sambil menunduk.

Berjalan meninggalkan tempat kasir, lalu pergi ke dapur. Orang-orang terlalu sibuk, untuk hanya memberi tatapan sungkan bahkan hormat, aku tidak apa, karena aku ingin akrab dan berbaur dengan semua pegawaiku.

Menu spesial di sini adalah masakan khas pulau tengah negara ini, dengan ikan sebagai bahan dasarnya, aku suka sekali mengolahnya. Tidak sampai lima belas menit, aku berjalan, dengan apron hitam membungkus kemeja putih yang ku gulung sampai sikut lengannya. Ya, jika menu spesial, maka yang mengantarkannya juga spesial, pemilik tempat makan ini.

Nampan berisi dua piring dan juga mangkuk yang menampung olahanku sebelumnya, ku taruh di meja yang terduduk angka sebelas dengan bahan kayu, sepertinya pelanggan kali ini sedang dalam cuaca yang tidak baik, sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu.

Menata nampan - nampan yang kubawa dengan rapi, lalu mengambil angka yang ada pada meja itu, aku hendak berbalik tapi ... aku terjatuh. Tarikan terasa kuat pada tali apron-ku yang juga terikat kuat, aku tidak menyangka, jika ada yang menarikku, karenanya aku terjatuh.

"Kamu liat pramusaji ini, dia bahkan lebih tampan dan sopan daripada kamu!" Suara wanita yang menjadi pelanggan pemesan menu spesial tempatku ini, membentak lelaki di depannya.

Aku tidak bisa mengira jika mereka berdua adalah pasangan yang menghabiskan sabtu malam bersama, tatapan mengejek pria di depan wanita yang menarik ku ini sedikit membuatku risih.

"Sopan? Bukannya kamu yang kurang ajar selama ini? Membuat semua lelaki berharap kepadamu, lalu menjatuhkannya, setelah kamu mendapat uangnya." Ucapan lelaki yang mempunyai tatapan sinis itu, menunjuk dengan penuh emosi tepat di depan wajah wanita yang menjadi objek perkataannya.

Aku bangkit, ingin menenangkan, salahkan posisiku yang langsung menuju tengah mereka berdua, Plak-sakit sebenarnya, tapi entah mengapa perempuan ini tidak menunjukkan raut bersalah, menghilangkan sedikit rasa kesal ku, aku kemudian berucap, "Maaf. Mas, Mbak. Kalian tidak membayar untuk bertengkar di sini, jadi silah kan keluar, jika hanya ingin merusak-"

"Gue di lecehin secara tindakan juga perkataan sama cowok brengsek ini. Dan lo masih duduk di situ selama tiga menit? Dasar cowok cemen," suara wanita penarik apron-ku, memotong apa yang hendak aku sampaikan.

Sial, kenapa perempuan ini sangat menjengkelkan, "Benar seperti itu Mas? Lain kali jaga sikap dan perkataan anda terhadap wanita, dan silahkan keluar," aku tahu, ini sangat berat untuk lelaki, tapi wanita akan lebih merepotkan jika tidak dibela.

Seringai kejam keluar dari bibir merah itu, membuatku sedikit ngeri, perempuan ini memang cantik, tapi sedikit mengerikan. Sedikit menatapku sinis sebelum mengambil telepon genggam dan dompetnya, "Dia yang bayar," lelaki itu berbisik kepadaku, sambil melirik wanita tadi.

Ck, aku tidak suka lelaki ini, "Hah? Sepertinya kata-kata anda tadi salah Mas," ucapku, membuat lelaki yang tadi sudah berbalik itu berenti, menghadapku lalu mengedutkan bibirnya.

"Aah, sepertinya kalian cocok, saya bisa bayar-"

"Silahkan ke kasir kalau begitu, bilang saja menu yang anda pesan," kataku, aku tidak menghilangkan keramahan nada bicaraku, tapi sepertinya mataku tidak bisa berbohong.

Kesal, tercetak jelas dalam langkah lelaki itu, sepertinya aku baru saja memenangkan permainan bodoh, dengan terlalu ikut campur. Menu spesial ku kali ini sia-sia, lirikanku kepada meja makan membawa hembusan napas kesal, karena aku sungguh tidak suka jika ada orang yang mengabaikan masakanku, apalagi ini spesial.

"Lo manajer tempat ini?" suara tiba-tiba wanita yang hampir aku lupa keberadaan nya, menyilangkan tangan di perut, melihatku pada nametag-ku.

"Iya Mbak," jawabku singkat, untuk kedua kalinya, aku akui wanita ini cantik, bulu mata yang indah, meski aku yakin riasannya sangat tebal, tapi bentuk wajah dan tubuh wanita ini lumayan.

"Gue enggak mau rugi, karena idah dibayarin, jadi ... ayo kita makan. Anggap aja kemenangan kita udah ngusir bejat satu itu," berucap santai, perempuan ini lalu duduk kembali, memeriksa telepon genggamnya, lalu melirikku lagi, "Gue enggak akan minta maaf karena udah nampar lo, karena itu enggak sengaja, jadi ayo makan, ini lo yang buat kan?" Kata wanita ini seenaknya.

Ah, tipe wanita suka memaksa, mereka selalu menyebalkan, dan sedikit pendendam jika tidak dituruti, aku kemudian duduk, menuruti wanita yang sekarang terlihat mengamati olahan ku tadi, aku tidak perduli dengan apa yang wanita ini lakukan, menyeduh nasi putih milikku dengan kuah kuning yang ada pada mangkuk, mengambil kepala ikan laut yang sudah masak itu bersama nasi ku, lalu menyantapnya. Sial, ini selalu sangat nikmat.

"Kayaknya enak banget," suara wanita dari depanku.

Mengangkat pandanganku, dari nampan di hadapanku, kernyitan lalu ku tunjukkan, wanita ini belum memakan makanannya, hanya bersedekap melihatku, membuatku berpikir, apa cara makan ku salah?

"Punya gue bungkus ya, adik gue suka ikan laut soalnya, enggak tega kalau gue habisin sendiri, tapi gue pesen yang lain, soalnya belum makan siang," ucap wanita di depanku, lagi.

Aku tahu, dia hanya ingin menyuruh ku untuk memanggil pramusaji lain, untuk menuliskan pesanannya, dan membungkuskan menu yang ada di depannya. Tangan ku lalu ku arahkan ke salah satu pramusaji yang berdiri di dekat meja ini. Mengucapkan apa yang menjadi permintaan perempuan di depanku, tatapan heran ku terima dari Andi-pramusaji yang ku panggil tadi, tapi ku abaikan.

Selang beberapa menit, menu yang dipesan wanita di hadapan ku ini datang, untungnya makanan ku juga sudah habis, tapi ... aku belum meninggalkan meja ini, semua yang ada di tempat makan ini bersama, tertawa dan berbincang, entah sihir dari mana yang membuat ku tidak tega melihat wanita ini sendirian, tapi sebenarnya inilah alasanku membuat tempat makan, adalah untuk membuat orang-orang bahagia dengan makan bersama, dan membiarkan wanita ini makan sendirian, sedikit mencubit hati ku.

Pasta carbonara, makanan dengan resep yang simple, tapi entah kenapa menu ini lumayan digemari, melihat bagaimana ekspresi dalam setiap kunyahan wanita ini, membuatku berpikir, jika ini adalah makanan kesukaannya. Ya, siapa yang tahu.

"Udah puas lihat gue?"

Aku sedikit terkejut akan suara tiba-tiba wanita di depanku ini, tapi tidak lama, karena aku langsung menguasai diri ku kembali, "Jika sudah selesai, saya harus kembali," ucapku hendak berdiri.

"Lo enggak mau tau nama gue siapa, atau minta akun Instagram gitu? Gue model loh," ucap wanita ini, dengan senyum mengejek.

"Itu tidak penting. Mari ...."












Jangan lupa pakai masker, kalau keluar.

TBC

How We Fall  [SELESAI]Where stories live. Discover now