Prolog

37 4 0
                                        

{Cerita ini dibuat sepenuhnya berdasarkan imajinasi penulis}

{Tidak disarankan untuk pembaca belum matang dari segi akal dan pikiran dan tidak open-minded}


"Cukup!", teriaknya. Suaranya bergema di seluruh ruang bagaikan suara petir yang menyambar.

"Sudah, cukup. Berapa kali aku harus mengatakannya? Bahasa dan cara bicara apa lagi yang harus aku gunakan agar kau mengerti?". Lawan bicaranya diam seribu bahasa, matanya yang berkaca-kaca menatap ke arah bumi.

"Cinta tidak harus memiliki, kau mengerti? Kau mengatakan kau mencintaiku, baik, aku terima. Tapi, haruskah aku mencintaimu? Tidak."

Hara bersedia melangkahkan kakinya ketika Rei mencoba menarik tangannya. Namun, Hara menepis tangan Rei dengan kasar. 

"Mau kemana kau?". Mata Rei yang merah dan berair itu menatap Hara dengan dekat. 

"Kau tidak perlu tau", balas Hara lalu mendorong tubuh Rei sehingga dia terjatuh. Hara kemudian pergi keluar meninggalkan rumah itu sambil diperhatikan Mek dan Jed yang tidak tau apa-apa.

"Cut!!!". Sutradara memotong adegan.

"Hansie, seharusnya kau lebih menampakkan jika kau benar-benar sedang marah. Dan kau, Rei, ayo lah. Acting menangismu kurang natural, keluarkan air matamu sehingga biji matamu ikut keluar juga", komentar Mek.

Hari ini, aku dan Rei diupah untuk menjadi aktor utama tugas perfileman Jed dan Mek sebelum ujian akhir semester. Sebenarnya aku tidak mempunyai bakat di dalam bidang ini sehingga aku dimarahi oleh Mek beberapa kali. Tapi... siapa saja yang tidak mau kalau sudah ditawari uang, bukan?

Hmm, kapan selesainya adegan ini. Aku capek sekali...

Aku berharap kami dapat menyelesaikannya dengan cepat dan semoga saja Jed dan Mek mendapat nilai yang bagus untuk tugas ini karena aku merasa sudah berakting dengan bagus. Tapi , aku tidak tau bagaimana dengan Rei, sepertinya dia sangat tersiksa.

◆ ◆ ◆

~selamat menikmati~

-Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara vote @ follow-


NOVELISTStories to obsess over. Discover now