1. Kecelakaan

3 0 0
                                        

Langit sore itu berwarna abu-abu pekat, seperti pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Lex Cassandra Zee Green, atau yang lebih akrab dipanggil Lexa, baru saja keluar dari perpustakaan sekolahnya. Sebagai seorang gadis yang suka berfantasi, Lexa menghabiskan waktu dengan membaca novel-novel petualangan dan sering kali larut dalam dunia imajinasinya. Dia tersenyum kecil sambil memeluk buku favoritnya, membayangkan dirinya sebagai seorang pahlawan yang melintasi dunia penuh misteri.

Namun, dunia nyata tak seindah imajinasi Lexa. Jalanan kecil yang dia lalui untuk pulang dipenuhi genangan air hujan sisa pagi tadi. Hujan gerimis mulai turun lagi, membuatnya mempercepat langkah. Dia tidak menyadari mobil berkecepatan tinggi yang melaju dari tikungan tajam di belakangnya.

"Lexa, hati-hati!" suara seseorang berteriak dari kejauhan, tapi semuanya terjadi terlalu cepat.

Suara ban yang berdecit, tubuh yang terhempas ke aspal, dan suara histeris orang-orang yang berkumpul. Lexa terbaring diam, matanya terpejam, dan dunia seolah berhenti berputar. Ketika Lexa membuka mata, dia mendapati dirinya berada di sebuah tempat asing. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu gantung yang berayun pelan. Di hadapannya berdiri seorang gadis yang tampak mirip dengannya, tapi berbeda. Wajahnya sama, tapi ekspresinya jauh lebih tajam, matanya penuh dengan sesuatu yang sulit dijelaskan—marah, mungkin juga sedih.

"Siapa kamu?" Lexa bertanya, suaranya serak dan penuh kebingungan.

"Aku? Aku Cassie," jawab gadis itu sambil tersenyum tipis. "Kamu akan mengenalku lebih baik nanti."

Sebelum Lexa bisa menjawab, bayangan gadis itu menghilang, dan dia terbangun di ranjang rumah sakit. Kepalanya terasa berat, tubuhnya sakit di setiap inci. Di sebelah ranjang, orang tuanya menangis lega melihat putri mereka kembali sadar.

"Lexa, kamu baik-baik saja? Kami sangat khawatir!" ucap ibunya sambil menggenggam tangannya erat.

Lexa hanya mengangguk pelan, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Tapi yang paling membuatnya bingung adalah suara yang masih terngiang di kepalanya—suara Cassie. Hari-hari setelah kecelakaan itu terasa aneh bagi Lexa. Dia mulai mendengar suara Cassie di saat-saat tertentu, terutama ketika dia merasa lemah atau tertekan. Suara itu tidak hanya berbicara, tapi kadang mengambil alih pikirannya, membuatnya melakukan hal-hal yang tidak dia sadari.

"Aku hanya ingin membantu," suara Cassie bergema di pikirannya suatu malam. "Kamu terlalu lemah untuk menghadapi semua ini sendirian."

Lexa menggigil. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu hal yang pasti—kehidupannya tidak akan pernah sama lagi setelah kecelakaan itu.

***

Mine or Yours?Where stories live. Discover now