Jaemin tidak pernah membayangkan hari ini terjadi, hari dimana ia dapat melihat Rajanya tertawa lepas saat bermain dengan putra mereka. Masih belum menyangka, Mark seperti pribadi yang berbeda, dulu Mark begitu menyayanginya lalu berubah begitu membencinya hingga Jaemin sempat berpikir ia harus menyerah agar Mark bahagia, tapi siapa sangka jika Mark kembali menjadi Lee Minhyung yang mencintainya.
"Jaemin, kau baik-baik saja?" Sebuah suara lembut terdengar sesaat setelah tepukan Jaemin terima di bahunya.
"Oh Renjun, Jeno, kapan kalian tiba? Dimana Chenle?"
Renjun terkekeh, "kami tiba malam tadi Jaem, dan keponakan nakal mu ada disana." Kata Renjun sambil menunjuk Chenle dengan dagunya.
"Aku minta maaf tidak ikut menyambut kalian malam tadi, aku kelelahan karena seharian Jisung tidak mau lepas dari ku." Kata Jaemin penuh sesal.
"Bukan masalah Jaem, aku sering mengalami hal itu haha.."
"Renjun putra mu semakin besar." Jaemin tersenyum saat melihat Jisung memekik heboh akibat kedatangan Chenle dan Mark yang tertawa melihat tingkah dua bocah itu.
"Waktu berjalan terlalu cepat ya Jaem? Terkadang aku pikir ini semua mustahil terjadi." Gumam Renjun.
"Ya, seperti mustahil.. siapa sangka aku akan menikahi submisif galak seperti mu." Balas Jeno disertai tawa ringan.
Renjun merengut dan Jaemin terkekeh pelan, pasangan di depannya memang unik, kadang seperti tidak bisa hidup tanpa satu sama lain tapi terkadang seperti pasangan yang dijodohkan.
"Lidah mu memang menyebalkan Yang Mulia." Sungut Renjun.
Jeno berdiri lalu mengangkat bahunya, "terserah, yang terpenting lidah ku bisa memuaskan mu Ratu ku."
Setelah mengatakan hal tidak sopan itu Jeno memilih pergi menyusul sang putra yang hampir membuat Mark kewalahan.
"Kapan Haechan tiba?" Tanya Renjun.
Jaemin terlihat berpikir, "mungkin siang ini, Yuhkei Hyung menjelaskan mereka tidak bisa pergi terburu-buru. Ada sesuatu."
Renjun berbinar, "sesuatu apa?"
Jaemin memasang wajah jahil lalu menarik Renjun mendekat. Renjun yang antusias segera mendekatkan telinganya berpikir bahwa Jaemin akan membisikkan informasi mengejutkan.
"Aku juga tidak tahu." Jaemin berbisik pelan.
Raut wajah Renjun berubah datar lalu menarik tubuhnya menjauh, "aku tidak tahu jika menikah dan menjalani hidup yang berat bersama Mark Hyung merubah mu menjadi manusia menyebalkan."
Jaemin tertawa melihat kekesalan Renjun, rasanya lama sekali ia tidak berkumpul dan bercanda dengan teman-temannya, terutama Haechan, Ratu Centaury itu sangat jarang berkunjung karena kesibukan Rajanya dan Jaemin yang belum bisa melakukan perjalanan jauh walau sudah lewat dua tahun sejak hari dimana ia sadar.
"Renjun terima kasih, rasanya aku tidak bisa berhenti mengucapkan kata terima kasih pada mu."
Renjun tersenyum tipis, "kau saudara ku Jaem dan itu artinya Jisung juga putra ku, jangan sungkan."
"Aku tidak tau harus membalas kebaikan mu dengan apa Renjun."
Renjun terkekeh, "cukup beri Chenle daging sapi terbaik haha!"
Jaemin menggeleng pelan melihat Renjun tertawa, daging sapi terbaik katanya? Tanpa Renjun minta pun Jaemin akan memberikan makanan dan barang-barang terbaik untuk putra mahkota Rigel itu mengingat selera Chenle begitu tinggi diusianya yang menginjak tiga tahun.
.........
Ketukan tapal kuda yang beradu keras dengan halaman istana Arcturus membuat seluruh prajurit penjaga, dayang bahkan pejabat istana segera menunduk hormat. Kereta kuda yang didominasi oleh warna biru gelap itu telah ditunggu empat hari lamanya dan senyum orang nomor satu di Arcturus segera terbentuk saat kereta mewah itu berhenti tepat di hadapannya.
Seorang ajudan segera turun dari kereta lalu memberikan penghormatan pada Raja dan Ratu Arcturus, ia membungkuk dalam sebelum membukakan pintu kereta. Yang pertama dilihat oleh Mark dan Jaemin adalah bocah kecil nan tampan dalam balutan jubah biru emas, dia putra mahkota Centaury.
Mark melambaikan tangannya saat putra mahkota Centaury memberinya lambaian tangan penuh keceriaan, benar-benar anak Yukhei pikir Mark saat itu. Anak laki-laki itu dengan semangat melompat turun dari kereta, Jaemin yang melihatnya begitu gemas dan berniat untuk memeluk bocah gembul itu lalu memberinya ciuman. Namun diluar dugaan bocah bernama Wong Junkai itu menghentikan langkahnya mendekati Jaemin dan Mark.
"Ada apa sayang?" Tanya Jaemin saat Junkai berhenti melangkah.
Tak lama Junkai membungkuk dalam, memberi penghormatan pada Raja dan Ratu yang ia kunjungi.
"Salam hormat Junkai untuk Yang Mulia.." Katanya dengan gumaman menggemaskan.
"Astaga manisnya.." Jaemin yang tidak tahan dengan tingkah polah Junkai segera membawa balita itu kedalam pelukannya.
"Junkai.. astaga anak itu.." Kedua orang tua Junkai menggeleng pelan melihat tingkah hiperaktif sang putra pertama.
"Selamat datang di Arcturus.." Kata Mark.
Yukhei dan Haechan tersenyum sebelum membungkuk sedikit. Mark terkekeh lalu memeluk Yukhei erat.
"Astaga lama tidak melihat mu Yang Mulia." Kata Yukhei sambil menepuk-nepuk punggung Mark.
Mark melepaskan pelukan mereka lalu menatap Yukhei dengan tawa, "astaga Yukhei, kau terlihat semakin tua."
Yukhei mendengus, "tapi aku tetap tampan dan gagah."
"Terserah saja, cepatlah masuk dan beristirahat."
Yukhei mendengus untuk kesekian kalinya, "oh ayolah Lee Minhyung, aku ini tamu kehormatan dari Centaury."
"Iya-iya aku tahu, jadi Yang Mulia cepatlah masuk dan istirahatkan pinggang tua mu karena besok kita harus rapat dengan enam belas kerajaan lain."
Mark segera menggiring Yukhei dan rombongan untuk masuk ke dalam istana.
Haechan terkekeh pelan setelah melihat keributan yang dibuat sepasang sahabat itu.
"Jaem, apakah semua tamu disambut seperti ini?" Tanyanya disertai tawa.
Jaemin ikut tertawa lalu menggerakkan bahunya tak peduli, "seingat ku hanya keluarga saja yang disambut tanpa hal formal.."
Jaemin mengalihkan tatapannya kepada putra mahkota Centaury, ia tersenyum manis lalu mencubit pelan pipi bulat Junkai.
"Jadi Yang Mulia Junkai ingin istirahat atau bermain dengan Jisung dan Chenle?"
Junkai melirik ibunya lalu kembali menatap Jaemin, "Junkai ingin makan Yang Mulia.."
Haechan terbelalak tidak percaya sementara Jaemin tidak dapat menahan tawanya saat mendengar jawaban Junkai, putra pertama Yukhei dan Haechan itu benar-benar sulit ditebak.
"Baiklah, ayo kita makan."
Haechan tidak tahu harus bagaimana mengendalikan putranya yang benar-benar menjiplak seluruh sifat sang ayah, ia sendiri sudah cukup pusing mencari guru untuk sang anak.
"Maafkan Junkai Jaemin, dia biasanya tidak seperti itu.."
"Benarkah? Itu bagus, putra mu sadar dimana ia harus bersikap sebagai tamu dan dimana ia harus bersikap seperti di rumah."
"Jaemin.."
"Oh ayolah Haechan, jangan sungkan.. Arcturus juga rumah mu dan kesayangan bibi jangan sungkan disini karena Arcturus juga rumah Junkai, paham?'
Junkai hanya mengangguk, walau sebenarnya tidak terlalu paham dengan perkataan Jaemin.
"Ayo masuk, kau harus istirahat agar kita bisa berkumpul malam nanti."
.........
Matahari mulai turun perlahan dari tahtanya, sedikit demi sedikit mengurangi rasa panas menyengat yang tidak disukai Renjun. Tidak banyak yang bisa Renjun lakukan di Arcturus, selain begitu banyak dayang, Arcturus bukanlah kerajaannya yang bisa ia utak atik semaunya dan berakhirlah ia hanya duduk diam menikmati semilir angin di salah satu paviliun milik Jeno dulu.
"Sedang memikirkan apa?" Suara berat menginterupsi lamunan Renjun.
"Oh Yang Mulia, anda tidak istirahat?" Renjun balik bertanya pada Jeno yang kini memilih menidurkan tubuhnya di lantai paviliun dan menjadikan paha Renjun sebagai bantal.
Jeno tersenyum manis, matanya terpejam menikmati semilir angin yang membawa aroma bunga mawar dan usapan lembut Renjun di rambutnya.
"Aku akan tidur siang sekarang." Gumamnya.
Renjun mengecup kening Jeno singkat. "Tidurlah Jeno sebelum putra mu kembali dan menunggangi perut mu. Aku tahu kau kurang tidur beberapa hari ini."
Jeno mengangguk diiringi senyum tipis, "keturunan siapa anak itu? Nakal sekali.."
"Ya sepertinya keturunan mu." Kata Renjun sambil memutar bola matanya malas.
"Pantas saja lengket seperti getah"
"Aku juga tidak mengerti kenapa dia begitu lengket dengan ayahnya yang menyebalkan seperti mu."
Jeno tertawa lalu memiringkan tubuhnya, memeluk erat perut Renjun dan menyembunyikan wajah tampannya yang semakin terlihat dewasa. Tak lama suasana menghening, hanya ada suara gemericik air mancur di depannya. Jemari lentik Renjun sibuk mengusap helaian rambut Jeno yang hitam legam.
Tak lama Renjun mendengar suara langkah kaki dan sesaat setelahnya suara melengking terdengar.
"Mamaaaa!!"
Jeno menyerit mendengar suara yang memekakkan telinganya, cukup mengganggu namun tidak mampu membuatnya terjaga dari rasa lelah.
Renjun terkekeh, "kemari sayang, mama dan baba di teras samping."
Tak lama pintu bergeser menampilkan wajah Chenle yang tertekuk lesu juga beberapa dayang yang mengasuh Chenle.
"Putra manis mama mengantuk?" Tanya Renjun lembut, Chenle mengangguk cepat.
"Tidur ditemani mama.." Rengek Chenle sambil memberikan bantal tidurnya pada Renjun.
"Kemari, tidurlah disebelah baba." Renjun meletakkan bantal kecil kesayangan putranya tepat di samping Jeno.
Chenle menurut dan membaringkan tubuhnya disamping sang ayah, Jeno yang merasa terganggu membuka matanya.
"Kesayangan baba.." katanya serak lalu ia menarik Chenle ke pelukannya. Chenle menurut dan membalas pelukan Jeno tak kalah erat.
Renjun menggeleng pelan melihat tingkah kesayangannya. Entah efek apa, tapi Chenle sangat manja pada Jeno, putra manisnya itu benar-benar lengket dengan sang ayah.
"Biarkan mereka beristirahat disini, kalian boleh beristirahat sebentar."
Dayang yang mengasuh Chenle segera mengangguk dan membungkuk hormat sebelum melangkah keluar paviliun.
.........
Jaemin sibuk mengejar Jisung yang berlari mengelilingi ranjang, hari semakin sore dan putra mahkota Arcturus itu belum mau mandi. Sejenak Jaemin berhenti dan menatap garang pada sang putra, ia berkacak pinggang lalu meminta Jisung untuk berhenti berlari.
"Yang Mulia berhenti!!"
"Jicung tidak mandi Bu.."
Jaemin menghela napas, "Lee Jisung berhenti berlari dan pergi mandi, atau ibu buang di hutan!"
Tentu Jaemin tidak serius dengan ancaman kekanakan itu, tapi ancaman itu ampuh menghentikan Jisung dari aksi melarikan dirinya. Ia menghampiri Jaemin dengan kaki menghentak dan wajah memelas berharap sang ibunda luluh.
"Tidak mau dayang Im!!"
"Tidak mau mandi dengan dayang Im? Baiklah ibu yang akan memandikan mu.."
"Jicung mau mandi dengan ayah.." Rengek bocah dua setengah tahun itu.
"Tapi kata dayang Im Jisung ingin mandi dengan ibu.."
"Dengan ayah.."
Jaemin menghela napas pelan, ia menggenggam tangan mungil putranya lalu berkata dengan lembut "Ayah sedang ada tamu sayang.."
"Ibuuu.. Jicung mau ayah.."
Jaemin kembali menghela napas, Jisung terbiasa melakukan ini, mengulur waktu agar bocah kecil itu tidak menyentuh air madu yang sudah disiapkan untuk mandinya. Jaemin memutar otak, apa yang sekiranya bisa menjadi bahan negosiasi dengan sang anak agar berhenti mencari alasan dan pergi mandi.
"Kalau Jisung tidak mandi, besok tidak boleh bermain dengan Chenle dan Junkai Hyung." Kata Jaemin.
"Ibuuuu.." Jisung merengek keras.
"Ibu tidak suka dibantah Lee Jisung."
Tangis Jisung pecah, putra mahkota Arcturus itu menangis keras dan berguling di lantai kamar. Masih kekeh dengan penolakannya terhadap mandi.
"Astaga Jisung.."
"Kenapa dia menangis?" Suara berat menghentikan kehebohan yang dibuat Jisung.
"Astaga Hyung anak mu tidak mau mandi."
"Jisungie kenapa tidak mau mandi? Ibu mu sudah repot-repot menyiapkan air madu untuk mu mandi, Jisung tidak kasihan?"
"Jicung mau mandi dengan paman Jeno huwaaa..."
"Tadi Jisung ingin mandi dengan ayah kan? Kenapa sekarang jadi paman Jeno?" Tanya Jaemin gemas.
Mark menghela napas, dengan cepat ia mengangkat Jisung dan membawanya ke kamar mandi khusus Raja dan Ratu. Jisung memberontak dalam gendongan sang ayah, Mark tidak menggubris dan memilih melepas satu persatu pakaian sang putra.
"Jicung mau mandi dengan ibu huwaaaa!!"
Jaemin menggeleng pelan melihat Jisung menangis, di dalam hatinya ia begitu tidak tega tapi Jisung sudah melakukan trik seperti ini puluhan kali. Jaemin hanya khawatir kelicikan Jeno menurun pada anaknya.
"Ibuuuuu huwaaaaa!!!"
"Hyung jangan terlalu keras pada Jisung!" Jaemin berlari menyusul Mark dan Jisung, rasa tak teganya semakin besar saat tangis Jisung semakin keras.
Memangnya ada ibu yang tega melihat anaknya menangis?
Terima kasih telah menunggu begitu lama..
Saya menyesal tidak dapat update lebih cepat..
Mungkin ini mengecewakan, tapi sedikit lagi cerita ini akan berakhir jadi saya harap cerita ini membekas di hati para pembaca.
Terima kasih..
See yaaa..